Esai | Menumbuhkembangkan Spirit Menulis

Pontang, 22 Desember 2020.

Sebenarnya, aktivitas menulis bukan sesuatu hal yang sederhana. Tetapi, bukan juga sesuatu yang rumit.

Kendati setiap manusia yang sudah memahami keberaksaraan dipastikan bisa menulis, namun masalahnya tak banyak orang bisa mengkonstruksikan dunia ide dengan runut serta utuh, sehingga kita sebut memiliki kualitas tulisan yang baik. Barangkali, disitulah titik mendasar perbedaannya.

Dan tak sedikit para penulis pemula yang terjebak disitu. Semacam dihadapkan kebingungan bagaimana menentukan kepantasan temanya, sistematika penulisannya, bahkan menyangkut maksud serta tujuan menuliskannya.

Ada momen menarik. Suatu ketika, pernah seorang teman bertanya, "Buat apasih capek-capek nulis? Pake mikir keras lagi.."

"Sering aktif di medsos? Semacam upload foto, curhat di status, atau bikin story-story begitu?" Tanyaku.

"Hampir saban hari saya membuka dan memainkannya. Entah ketika saya sedang nongkrong di WC, rebahan dikamar, atau ngopi didepan beranda rumah. Apalagi kalau sedang di mall, restorant, caffe dan tempat-tempat elit sejenisnya. Rasanya kurang afdhal kalo tidak update" 

Kemudian ia menekan lagi, "Pertanyaan saya tadi belum dijawab. Buat apa capek-capek nulis?

Dengan memegang bahunya, saya menjawab dengan nada suara yang pelan, "Ya gak jauh beda sama kamu aktif di medsos itu. Hanya menjaga eksistensi saja. Perbedaannya sih cuma sedikit. Kamu menjaga eksistensi citra. Sementara saya menjaga eksistensi sebagai manusia"

Secara sederhana, menulis sebetulnya pekerjaan berbagi. Oleh sebab itu setiap orang sangat bisa dan berpeluang untuk dapat berbagi. Bisa pengalaman, pemikiran, maupun segala macam pelajaran dalam setiap nafas kehidupan.

Keteraliran tulisan pun bisa menjadi energi kebaikan, atau sebaliknya keburukan. Tinggal bagaimana niat dan maksud yang menorehkan. Yang mesti dipahami, sebelum sesorang mengenal medan juang dunia literasi, ia harus diprasyarati watak ketangguhan melawan malasnya, sebisa mungkin meluangkan waktunya, juga maksimal perenungan dan penjernihan pandangannya. Serta, yang paling elementer adalah ia bisa menjatuhkan kemesraan dan cintanya.

Walhasil, hal yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas, penulis juga memerlukan strategi khusus guna mengajak segenap pembaca dalam memasuki rumah-rumah kegembiraan, ruang-ruang kesedihan serta kamar-kamar yang mampu menggugah hati maupun kesadaran.

Pada tahap pengasahan kualitas tulisan inilah para penulis dituntut untuk senantiasa mempertajam analisis, melembutkan perasaan, serta memperbanyak bahan bacaan dan pengalaman.

Selain itu, kualitas tulisan juga sangat didukung oleh seberapa sering seseorang berlatih menulis. Musabab, sekalipun Anda pembaca yang baik, pengamat keadaan yang jeli, pemikir yang luas, tetap akan menemukan kesulitan dalam menulis bilmana tidak didorong oleh kebiasaan menulis itu sendiri.

Jadi, dalam tahap latihan ini, Anda bebas menuliskan apapun dengan tetap berpijak pada norma-norma budaya masyarakat yang berlaku. Tak menjadi masalah sekalipun masih pada tahap curhat-curhat pribadi. Intinya, kemampuan menulis harus secara terus menerus dipraktikan.

Lambat laun, kita sendiri juga bakal bisa menilai dan membenahi kualitas tulisan-tulisan kita yang kemarin.

Selanjutnya, dalam pengasahan keterampilan menulis juga persis seperti keterampilan lain yang memerlukan panduan dari seorang guru. Oleh karena, setiap penulis pasti memiliki karakteristik cita rasa karyanya tersendiri. Maka dengan adanya seorang guru, atau seorang penulis yang Anda teladani, bisa sangat berpengaruh dalam membangun karakter tulisan Anda.

Bukan berarti karakter tulisannya mesti sama dengan guru Anda, melainkan Anda dapat belajar menemukan cara meracikan sebuah tulisan dengan kreativitas Anda sendiri.

Lewat kreativitas itu juga, pekerjaan menulis bagi saya membuka ruang-ruang pengembangan kepribadian tiap orang dengan sangat egaliter. Mau siapapun penulisnya, latar belakang keilmuannya, stratifikasi sosial dan ekonominya, tetap dianggap sama. Sebab yang di nilai adalah kualitas ide, gagasan serta kebermanfaatannya.

Terakhir, sebagaimana telah saya singgung dibagian awal bahwa aktivitas menulis adalah pekerjaan berbagi, kemudian menjadi penting sebelum Anda berniat serius untuk menekuninya usahakan agar diawal-awal niat itu dibarengi dengan sikap ikhlas terlebih dahulu. Jangan Anda berharap mendapat kemapanan materi dalam dunia kepenulisan.

Pada hakikatnya, menulis adalah jalan pengabdian. Tugas kemuliaan. Merekam keabadian. Melalui spirit menulis juga menandakan kita adalah manusia. Yang dianugerahi akal, hati beserta segenap organ pendukung dalam mengemban misi kekhalifahan di dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru