Postingan

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru

Kembali diberikan kesempatan untuk berproses di tempat yang sama, tentu dengan versi diri yang berbeda, ternyata memberikan kesan tersendiri bagi saya. Terkadang romantisme masa lalu masih kerap berseliweran dalam memori ingatan. Apalagi ketika saya sedang menatap wajah-wajah anak murid saya. Kepongahan, gaya urakan, malas-malasan mengikuti jam pelajaran dengan memilih pelarian lain yang lebih menyenangkan, adalah gambaran yang sangat dekat dengan perjalanan diri saya sendiri ketika seusia mereka. Namun proses hidup selalu tak terduga dan penuh kejutan. Alhasil saya selalu percaya, bahwa masing-masing dari mereka kelak akan tumbuh menjadi versi terbaiknya di masa depan. Sungguh, tuhan itu maha asyik. Saya masih ingat betul pertama kali saya memulai karir sebagai seorang pengajar. Momen itu terjadi pada tanggal 18 Juli 2022. Dua bulan setelah saya di wisuda. Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan orang tua, saya akhirnya bisa diterima di SMA Negeri 1 Pontang. Tempat di mana saya pernah ...

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Dunia kampus amat berkesan dalam perjalanan hidup saya. Berbagai dinamikanya telah memperkaya perspektif saya tentang banyak hal. Belajar yang dulu saya anggap terbatas pada ruang kelas, ternyata keliru. Sebab kelas hanya bagian kecil dari proses untuk bertumbuh dan berkembang. Justru pergaulan dan kegiatan di luar kelas yang semakin mempercepat proses pematangan diri saya ketika menjadi mahasiswa seperti bagaimana cara berjejaring, memimpin massa, serta memperluas dialektika. Kebetulan saya mahasiswa yang berasal dari kampung. Dalam satu peristiwa di awal perkuliahan semester satu, seorang dosen memberikan kesempatan kepada para mahasiswanya untuk berpendapat. Spontan saya angkat tangan. Nahasnya cara saya berargumen masih kacau. Ngomongnya belibet. Lalu teman-teman sekelas mentertawakan saya. Kejadian itu masih membekas hingga sekarang. Saya malu sekali. Tetapi dari momen itulah saya memilih berbesar hati dan mau belajar lebih keras lagi selama di kampus. Akhirnya saya mau baca buku....

Esai | Mensucikan Kembali Gelar Mahasiswa

Oleh : Ray Ammanda Pontang, 13 Oktober 2021. Kalau mendengar mahasiswa demonstrasi, mahasiswa tampil debat dan berdiskusi, maupun mahasiswa yang dikenal karena segudang prestasinya, dalam pandangan saya, rasanya biasa-biasa saja -- tentu tanpa menegasikan nilai-nilai positifnya. Memang begitulah hakikat peran dan fungsi menjadi seorang mahasiswa. Penuh gairah. Berprestasi. Militan. Berfikir ideal. Penyambung lidah rakyat. Label agen perubahan, agen kontrol sosial serta agen penerus bangsa, memang sepatutnya harus terus diwarisi oleh mereka. Akan tetapi, bilamana kita mendengar mahasiswa melakukan tindakan-tindakan konyol yang jauh dari pertimbangan nalar intelektualitas, justru akan terdengar aneh. Bahkan, jelas membuat kita laik prihatin. Belum lama ini, misalnya. Ada beberapa kasus yang melibatkan mahasiswa dan ramai menjadi sorotan publik, khususnya warganet. Salah satunya, bahwa diduga seorang mahasiswa telah melakukan pelecahan seksual terhadap salah seorang mahasiswi di salah sat...

Catatan Perjalanan | Tumbuh Kembang

Oleh : Ray Ammanda Sabtu, 7 Januari 2023. Saya adalah anak pertama dari empat bersaudara. Hidup dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Dibimbing oleh sosok ayah yang penuh tanggungjawab dan sosok ibu yang tak pernah kering akan cinta kasih. Alhamdulillah. Saya sangat mensyukuri itu. Sejak kecil, sejauh memori ingatan, ayah sering mengajak saya untuk ikut menemaninya pasang kabel KWH dari rumah ke rumah, dari desa ke desa. Seingat saya, kenangan itu terjadi ketika saya masih SD. Entahlah apa motif sesungguhnya ayah mengajak saya ikutserta pada kesibukan pekerjaannya itu. Padahal, ketika ikut, saya malah kebanyakan merepotkan dan memilih bermain dengan anak-anak lain seusia saya, yang tentu baru saya kenal, tanpa sebetulnya peduli dengan apa yang sedang ayah lakukan. Waktu itu, sebagaimana anak kecil pada umumnya, yang ada dalam pikiran saya adalah bisa jalan-jalan dan bisa sambil main. Namun, setelah saya ingat-ingat kembali, barangkali melalui persentuhan pengalaman itulah yang memben...

Esai | iPusnas: Membaca Muhammad dan Relevansi Iqra di Era Digitalisasi

Oleh : Ray Ammanda (Ditulis dalam rangka Lomba Menulis Review Konten iPusnas) Oktober-November, 2022. Budaya membaca di Indonesia, sampai saat ini, tampak masih menjadi salah satu masalah yang tak kunjung selesai diperbincangkan. Padahal, betapa sering kita mendengar pekik pemerintah maupun pegiat-pegiat literasi tentang seruan membaca di sudut-sudut negeri ini. Namun, hasilnya masih saja terasa jauh dari apa yang diharapkan. Sementara kita hendak berpretensi apalagi, bahwa ihwal kesediaan bahan bacaan, terutama di era digitalisasi ini, sebetulnya telah terang-benderang memberikan kita banyak kemudahan. Keberadaan eBook yang lebih praktis dalam perkembangan teknologi mutakhir, bukankah seharusnya justru lebih mendekatkan kita terhadap dunia membaca? Apalagi kita juga dapat dengan mudah mengaksesnya secara gratis dan cuma-cuma. Salah satunya dengan keberadaan aplikasi iPusnas di Play Store handphone kita. Hingga sekarang, saya tidak terlalu ingat sudah berapa judul eBook di aplikasi iPu...

Catatan Perjalanan | Jalan Guru Profesional

Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan (baca: meraih cita-cita) adalah aktivitas yang melelahkan, memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kerap dianggap sebagai hal yang penuh ketidakpastian. Ada juga yang berpendapat liyan, bahwa melalui perjalanan, kita berkesempatan melihat banyak hal, sekaligus merasakan hal-hal baru yang lebih seru. Dan menurutku, yang menentukan kualitas kesan dari sebuah perjalanan adalah bagaimana cara kita menikmatinya. Tak peduli seberapa lama kita sampai, sebanyak apapun energi yang harus kita keluarkan, serta dalam bentuk tantangan apapun yang akan menghadang. Dengan target dan tujuan yang jelas, seberat apapun perjuangannya, insyaallah kita tidak akan pernah kehilangan arah dan berputus asa ditengah-tengah jalan. Capek dan kemudian memilih untuk beristirahat adalah hal yang wajar. Akan tetapi, kita masih punya alasan untuk kembali melanjutkan dan menyelesaikan misi perjalanan yang sebelumnya telah kita mulai. Abraham Lincoln dalam quotesnya mengungkapka...

Esai | Refleksi: Berkenalan Dengan Gus Dur

Oleh: Ray Ammanda Pontang, 10 Juni 2022. Entah kenapa, setiap kali saya mendengar dan membaca perjalanan hidup (tindakan maupun pemikiran) dari KH. Abdurrahman Wahid atau biasa populer dipanggil Gusdur, terutama saat beliau sedang menjabat sebagai seorang Presiden ke 4 Republik Indonesia, selalu membuat saya tersenyum sembari meneteskan air mata. Sempat terbesit juga di kepala, saya seakan menjadi warga negara yang (kurang) beruntung oleh karena belum pernah satu kali pun bersalaman dan mencium tangan beliau sewaktu masih hidup. Pasalnya, sebagai generasi yang baru dilahirkan setelah semangat reformasi belum lama ditanam, tepatnya 28 November 1998, kemudian wajar bilamana setelah tumbuh dewasa saya menaruh kekaguman mendalam kepada beliau baik sebagai manusia biasa, seorang ulama, seorang cendekiawan progresif, sekaligus baik sebagai seorang presiden. Ketika beliau wafat tanggal 30 Desember 2009, saya hanyalah bocah SD kelas enam. Kekaguman itu pelan-pelan terbangun musabab pendekatan ...