Esai | Bahasa; Kehati-hatian dan Kecermatan

Pontang, 23 Juli 2020.

Beruntung hari ini kita semua kenal dengan yang namanya bahasa, coba Anda bayangkan kalau tidak ada bahasa, tentu kerok bagi seorang pemuda untuk bisa merayu pacarnya, bingung tukang cilok mempromosikan keunikan produknya. Atau, bagaimana repotnya para calon anggota dewan dalam mengartikulasikan janji-janji "utopisnya" kepada masyarakat awam.

Namun, terlepas bagaimanapun manusia "meracik" bahasa verbal hingga tercipta beragam varian diantaranya; Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa Jaseng (jawa serang), dan bahasa-bahasa lain, tetapi bahasa pada substansinya memiliki akar kesamaan sebagai bentuk ikhtiar dalam memperkaya cita rasa dalam komunikasi, bebrayan dan silaturahmi dalam setiap nafas kehidupan. Artinya, untuk poin pertama kita patut bersyukur dengan keberadaan bahasa.

Tetapi, pada tulisan ini, saya mencoba melihat bahasa dari persepektif yang lebih luas. Yaitu bahasa sebagai suatu ungkapan yang bisa diartikulasikan melalui beragam metode, seperti kata, simbol, laku, atau apapun yang sifatnya memberi peluang terhadap orang lain hingga mampu menangkap sebuah interpretasi.

Dengan demikian, disadari ataupun tidak, manusia sebetulnya selalu berbahasa diruang manapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Bahkan, ini berlaku bukan hanya untuk manusia, melainkan untuk benda, hewan, tumbuhan dan seluruh partikel diseluruh jagad semesta.

Sebagaimana dijelaskan juga didalam Al-qur'an Surah Al Isra ayat 44, bahwa:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Sehingga dari luasnya metode berbahasa diatas, tak heran bilamana bahasa juga seringkali menjadi pemicu dasar munculnya sebuah permasalahan karena ketidaktepatan konteks ruang dan waktu penggunaannya.

Tak usah jauh-jauh saya memberi contoh, misalkan dalam konteks pergaulan sehari-hari dengan handai tolan kita saja kerap berselisih paham satu sama lain. Misalkan ketika Anda sedang didesak oleh suatu kebutuhan tertentu. Alhasil Anda terdorong untuk berfikir keras mencari solusi penyelesaian. Tiba-tiba kemudian secara spontan Anda teringat dengan seorang teman yang pernah meminjam uang.

Dalam kondisi demikian, Anda harus menggunakan strategi komunikasi yang baik. Sebab apabila Anda tidak berhati-hati, bisa saja teman Anda menangkap maksud yang berbeda. Maka tak jarang banyak fenomena "sedulur ore wawuh" atau "saudara tidak akur" akibat persoalan demikian.

Juga selain diperlukan ketepatan ruang dan waktu, berbahasa juga memerlukan bumbu nuansa, suasana dan rasa budaya yang pas ketika hendak disuguhkan kepada orang lain. Intinya, untuk poin kedua, bahasa tidak bisa berdiri sendirian.

Prinsip kehati-hatian dalam berbahasa diatas sangat penting manusia pahami dalam menjalani laku pergaulan dan kebudayaan. Selain dalam upaya menjaga tali silaturahmi, disisi yang lain menjadi satu bentuk antisipasi "kekacauan internasional" dari arus keterbukaan dalam mengekspresikan diri yang dewasa ini semakin mudah dan terbuka lebar.

Selain kehati-hatian berbahasa, kita juga perlu untuk jeli dan kritis dalam menangkap pesan dari sebuah bahasa yang disuguhkan oleh orang lain, terlebih ketika menyikapi bahasa simbol. Jangan sampai kita bernasib sama seperti si Kirun yang kurang beruntung pada kisah dibawah.

Kirun yang tamatan SD, dan hanya mengenal dunia luas hanya lewat ponsel dan televisi dirumahnya telah mengalami gejala kekacauan pandang yang serius. Gejala itu mulai saya sadari ketika saya sedang ngopi bersamanya disebuah gardu.

Yang pada saat itu, secara tiba-tiba ia memulai pembicaraan tentang ketakwaan. "Ngomong, ngomong.. Ketakwaan menurut sampeyan sebagai anak kuliahan gimana nih?" Kirun mengawali.

Secara terkesiap saya dibuat kaget, "Berat amat pertanyaanmu Run.."

"Ah bagaimana sih, katanya anak kuliahan. Pertanyaan begitu saja berat. Saya saja yang tamatan SD punya ukuran tentang bobot ketakwaan"

"Terus kalo menurutmu, ukuran ketakwaan itu yang bagaimana Run?"

"Tentu mereka yang tertutup cara berpakaiannya dong. Terus lebar hijabnya, dan dari seberapa sering teriakan takbirnya.."

Belum selesai Kirun menjawab, kemudian saya memotong. "Waduh, ukuran tersebut Kirun tau dari mana?"

"Sampeyan ko kurang update. Ditelevisi kan banyak ditayangkan berbagai iklan, sinetron maupun hiburan yang menampilkan produk ketakwaan. Saya sendiri sering lihat dari tayangan iklannya, penampilan artisnya, dan nuansa hiburannya. Apalagi sewaktu bulan Ramadhan".

Waktu itu, meskipun ada sesuatu yang mengganjal dipikiran saya untuk menanggapi jawaban Kirun, tetapi secara terpaksa tidak saya omongkan untuk menjaga silaturahim dan deduluran.

Akhirnya, saya pun menutup obrolan itu, "Oh begitu Run. Yasudah kita ngopi dulu ini mumpung masih anget.."

Dari sepenggal kisah diatas, cara berfikir demikian memang sah-sah saja, tetapi sayangnya belum diimbangi kewaspadaan, kewaskitaan serta ketelitian. Dari cuaca kebudayaan yang selalu disuguhkan televisi, bisa jadi sebenarnya kita semua pernah mengalami bias tafsir seperti yang terjadi pada Kirun.

Akibat ketidaktelitian dalam memahami bahasa simbol, barangkali masyarakat kita juga telah keliru pemahaman seperti halnya terhadap seorang Presiden. Parahnya kita sampai ribut-ribut menganggap seorang presiden yang diidolakan masing-masing kelompok sebagai sosok Satria Piningit yang kerap dikultuskan secara berlebihan.

Tetapi pada kenyataannya, masalah negara tak kunjung selesai. Dan lagi, toh setiap rakyat tetap berjuang dan bekerja keras sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum cukup secara keringat diperas, rakyat pun secara tidak langsung dibuat lesu hati dan pikirannya dengan hiruk-pikuk demokrasi. Akhirnya, energi nasional terkuras secara cuma-cuma hanya karena soal momentum kalah dan menang.

Coba sesekali Anda iseng-iseng, seberapa persenkah peran negara dalam hidup Anda?

Padahal, seorang presiden bisa dengan gampang kita umpamakan sebagai TKI nomor satunya rakyat. Otomatis ia harus berposisi sebagai pelayan yang baik demi menyenangkan para juragannya, atau dalam hal ini tentu rakyatnya. Apalagi sekaliber menteri, anggota dewan, gubernur, bupati, bahkan kades. TKI nomor berapa mereka?

Loh, hari ini kan kita kebalik-balik. Jadi, sebagai poin terakhir, bahwa untuk melihat sesuatu, kita sangat memerlukan jarak agar menangkap suatu objek dengan jelas.

Kehati-hatian berbahasa memang perlu, tetapi kehati-hatian menangkap bahasa juga tak kalah penting. Begitu kira-kira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru