Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Esai | Nuansa Pragmatisme Politik dalam Lembaga Legislatif

Masyarakat indonesia secara terkesiap dengan hasil pembahasan rapat paripurna DPR pada senin, 14 Februari 2018. dalam revisi pengesahan Undang-undang No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3) tersebut dinilai seolah-olah menjadi benteng sekat antara rakyat dengan wakil rakyat. Atau bahkan telah dianggap memiliki muatan unsur pragmatisme politik sehingga memicu banyak kontroversi serta interpretasi semu di kalangan masyarakat indonesia. Memang ketika di kaji secara mendalam, redaksi yang termuat di beberapa pasal yang di revisi kerap kali menimbulkan pemaknaan bias dan kontradiktif. Karena yang di khawatirkan rakyat ialah terkait spesifikasi pemaknaan yang terkesan subjektif. Dan apabila jelas demikian, tentu bakal menimbulkan implikasi berkepanjangan. Salah satunya menjadi alat legitimasi yang lentur bagi lembaga legislatif dalam bertindak secara sembrono ataupun karepe dewek (jawa; red). Maka setelah penulis terlibat dalam beberapa kajian terkait revisi UU MD3 ini, muncu...

Esai | Kebencian Manifestasi Kejumudan

Pada tulisan kali ini, penulis merasa sadar bahwa setiap kali setelah mengikuti diskusi, kajian-kajian, ngobrol santai, bahkan satire bareng teman ketika ngopi bareng perlu kiranya inisiatif mengelaborasikan kemasan pesan dalam bentuk representatif tulisan. Sehingga dapat menjadi rekam jejak sekaligus wujud itikad berbagi; pengalaman serta pengamalan ilmu yang diperoleh. Apalagi penulis sendiri begitu berharap, semoga dapat menjadi pemantik insentifikasi semangat pembaca untuk mengekspresikan kegelisahan ataupun kesenangannya lewat sebuah tulisannya sendiri, walaupun dalam bentuk sederhana. Karena yang terpenting ialah esensi transmisi pesan yang ingin di sampaikan penulis sehingga mampu mempengaruhi pembacanya, dalam konteks positif tentunya. Dan dengan itu pula, penulis memberi judul “Kebencian Manifestasi Kejumudan” sebagai bentuk peringatan bahwa segala sesuatu yang di dasari kebencian bakal melahirkan pemikiran destruktif dan membuat stagnan pola pikir seseorang. Kebencian sendir...

Esai | Cinta Jangan Melahirkan Kepongahan

Dilatar belakangi oleh sebuah konsepsi pemahaman hakikat cinta dari seorang filsuf berkebangsaan jerman bernama Erich Pinchas Fromm, yang lahir pada 23 maret 1900. Dalam bukunya “The Art Of Loving” ia mengkaji secara radikal terkait fenomena cinta manusia modern. Namun sebelum pembahasan penulis lebih jauh, alasan penulisan ini pun sebenarnya timbul akibat insentif ketertarikan penulis lewat sebuah diskusi santai tentang cinta. Maka agar dapat memeperoleh pemahaman cinta secara meluas, penulis berinisiatif menawarkan konsepsi pemaknaan cinta yang di tarik dalam konteks kebangsaan indonesia. Dan sebetulnya, konsepsi erich fromm memang menekankan pemaknaan cinta yang luas dalam berbagai macam hal. Dewasa ini, kerap kali kita disibukkan sikap kepongahan merespon sebuah perbedaan dan terkadang memicu insiden negatif seperti halnya saling cakar berebut benar. Padahal yang harus di perhatikan ialah, indonesia hadir karena wujud komitmen terhadap konsensus menjadi kebangsaan yang multikultur....

Esai | Nusantara Maju Ke Arah Malu

Secara harfiah, Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Nusa artinya pulau atau kesatuan pulau. Antara artinya menunjukan letak antara dua unsur. Nusantara artinya kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua , yaitu benua Asia dan Australia dan dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Sehingga  Indonesia kemudiaj dijuluki sebagai negara kepulauan/maritim (Archipelago State) yang terletak pada garis khatulistiwa 60 LU – 110 LS dan 950 BT – 1410 BT. Dengan potensi geografis demikian, indonesia memiliki ciri khas khazanah tersendiri sebagai sebuah negara, baik secara sosial-kultur, sumber daya alam, maupun sumber daya manusianya yang melimpah. Konsekuensinya, keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa membuka dua peluang; Secara positif, dapat di jadikan modal memperkuat menuju yang di cita-citakan. Dan secara negatif, dapat mudah terjadinya disintegrasi kebangsaan serta infiltrasi pihak-pihak luar. Tentuny, gerak sentripetal oleh seluruh elemen kenegaraan harus di u...