Esai | Wabah Keluhan

Pontang, 31 Maret 2020.

Penyebarluasan coronavirus atau covid-19 kian hari semakin mengkhawatirkan banyak negara dan umat manusia diseluruh dunia. Berbagai macam upaya yang telah ditempuh setiap negara, misalnya kerja keras pemerintah, perjuangan tenaga medis, perilaku tertib himbauan dari masyarakat, misalnya untuk tidak panik, menjaga jarak, serta upaya-upaya yang lain, nyatanya belum cukup menekan persebaran virus tersebut.

Sementara, kita tahu bahwa waktu akan terus bergulir sebagaimana mestinya. Kebutuhan manusia pun harus tetap berjalan dan terpenuhi. Yang menjadi dilema, segala kepentingan manusia dalam bekerja, berdagang, bersekolah ataupun segala ikhtiar guna memperoleh penghasilan dalam situasi sulit ini harus dibatasi juga secara ketat. Tidak bisa lagi sesuka sendiri dan sembarang. Pemberlakuan social distancing, health distancing, PSBB bahkan lockdown sudah menjadi himbauan serius untuk dicermati bersama.

Sebagai seorang mahasiswa saya pun mengalami dampak yang tak jauh berbeda. Dimana bimbingan tugas akhir mau tidak mau harus ditunda, yang secara otomatis memengaruhi terhadap kelancaran menuju kelulusan. Tetapi mau bagaimana lagi, cara demikianlah yang terbaik dilakukan oleh Pemerintah dan Civitas Akademik dalam menekan persebaran Covid-19.

Hal tersebut masih terbilang beruntung, sebab keberadaan teknologi mutakhir yang sudah sedemikian canggih bisa untuk menunjang.  Pembelajaran berbasis online masih bisa menjadi pilihan.

Bilamana dibandingkan dengan menelusuri dampak diwilayah yang lain, bahkan lebih-lebih mencemaskan. Utamanya bagi mereka yang sudah berumah tangga, pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi sulit. Ladang perolehan nafkah berbagai orang, seperti nasib tukang cilok, abang ojol, penjual remot keliling, karyawan swasta, kuli pasar, dan lain-lain mau tidak mau menjadi terbatas. Belum lagi bagi mereka yang hendak menikah, harus diurung sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

Sehingga dari berbagai dampak yang ada kemudian menimbulkan berbagai keluhan masyarakat yang kerap muncul dipermukaan; snap whatsapp, status facebook, cuitan twitter, story instagram beserta berbagai makhluk sejenisnya. Atau rumpi antar tetangga yang lebih sederhana.

Implikasinya, kekeruhan pandangan akhirnya terjadi dibanyak peta bangunan kehidupan. Tuhan sedang memberikan cobaan yang serius, apalagi kalau bukan bentuk kasih sayangNya terhadap kita semua. Tetapi kita mesti percaya, pasti ada hikmah dibalik semua kejadiannya.

Dan hemat saya, peradabaan manusia akibat wabah coronavirus tersisa dua; Pertama, perjuangan melawan coronavirus. Kedua, keluhan umat manusia dengan segala kepentingan pribadinya.

Pilihannya semakin jelas, apabila seseorang berusaha untuk terhindar dari infeksi coronavirus tentu mesti mematuhi berbagai himbauan. Namun, apabila memilih memaksakan diri untuk beraktivitas sebagaimana biasanya — bekerja, keluyuran, jalan-jalan, dan lain-lain — hanya demi terhindar dari "wabah keluhan" yang sifatnya oportunistik, juga harus siap memerima konsekuensi terpapar dan berpotensi mencelakakan orang lain.

Maka jalan tengah yang bisa dipilih manusia hanya semaksimal mungkin untuk terus menjaga diri dan waspada ketika beraktivitas, kemudian bersikap tawakal terhadap kehendak Allah SWT sebagai pemilik saham kehidupan.

Oleh karena itu, ada beberapa alternatif solusi yang coba saya tawarkan. Akan tetapi, syarat demikian berlaku jikalau kita semua hendak betul-betul serius menangani pandemi menular semacam ini. Terpenting, kita yang masih sehat berusaha tidak lagi menambah beban para tenaga medis yang sedang berjuang.

Lantas, menurut saya, syarat pertamanya minimal untuk pura-pura tidak mengeluh. Apalagi sampai update snap whatsapp, curhat di facebook, ngeprank di instagram, juga ngoceh di twitter dengan merasa seakan-akan hanya anda sendiri yang dirugikan akibat bau kentut coronavirus.

Padahal, akibat bau kentutnya, pasar perekonomian dunia kalang kabut, tempat beribadah umat beragama sementara waktu terpaksa dikosongkan, mobilitas sosial dibatasi, perpolitikan terganggu, pembelajaran dialihkan ke sistem daring, para pedagang terpaksa libur panjang, serta berbagai dampak lain.

Alhasil, kembali kita perlu saling mengingatkan satu sama lain bahwa ternyata semua orang memikul beban masalahnya masing-masing akibat pandemi coronavirus.

Coba anda bayangkan apablia semua orang curhat dimedsos? Jangakan meminimalisir persebaran wabah, malah justru sebaliknya memunculkan wabah baru -- pandemi keluhan namanya.

Sehubungan pandemi coronavirus adalah bagian dari masalah bersama, maka solusi yang saya rekomendasikan untuk syarat pertama ialah mengakumulasi kekuatan doa bersama-sama sesuai ketentuan dan kepercayaan masing-masing.

Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah Indonesia sampai saat ini belum melakukan kebijakan lockdown total oleh karena berbagai alasan dan pertimbangan.

Sebagai rakyat biasa, jangan berprasangka yang tidak-tidak. Kita harus tetap support ikhtiar yang dilakukan oleh para petugas pemerintah. Terlebih kita sebagai manusia, maka sudah semestinya kita sama-sama melakukan kerja-kerja kreatif sebagaimana manusia juga, yaitu dengan masing-masing dari kita melakukan pemberlakuan lockdown berbasis kesadaran.

Dengan taat mengikuti himbauan-himbauan dari beberapa pihak terkait, baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, ulama dan beberapa tokoh lain yang diakui kapabilitas keilmuannya serta meningkatkan kewaspadaan aktivitas yang bakal kita lakukan.

Terakhir, sehubungan rakyat 'terbiasa' disuguhkan konten, iklan dan adegan lucu hampir setiap hari, semacam; pejabat korupsi, pertengkaran pemilu akibat beda pilihan, kagetan terhadap isu terbaru, hate speech dan lain-lain.

Dari situ, kita bisa ambil hikmahnya sebagai syarat terakhir. Yaitu sesering mungkin kita semua menyerap informasi-informasi yang positif dan segar supaya tidak stress berlebih. Seperti bisa dengan menonton stand up comedy, membaca, mendengar tausiyah kiai kondang, ataupun hal-hal lucu yang lain.

Pokoknya, temukan aktivatas yang membuat pikiran anda tetap stabil untuk gembira dan segar.

Semoga ditengah wabah coronavirus yang melanda dunia, tuhan tidak mengurangi kelimpahan kasih sayang dan cintaNya kepada kita semua. Melalui teguhnya keyakinan, ikhtiar dan kesadaran syukur -- sekecil apapun bentuk, wujud dan ukurannya -- semoga bisa kita temukan nilai rezeki yang sudah tuhan janjikan untuk semua manusia.

Kita harus tetap bermuhasabah diri, bersyukur dan bergembira dengan segala kondisi dan cobaan apapun. Setelah itu, barangkali kita berhak memperoleh gelar Sarjana Kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru