Esai | Kapitalisasi Do'a

Pontang, 15 Juli 2021.

Setiap orang dipastikan pernah berdoa, untuk hal apapun dalam hidupnya. Bisa menyangkut urusan kesehatan, kekayaan, pemulusan jalan karier maupun hajat-hajat 'tersembunyi' yang lain.

Akan tetapi, berdoa juga tidak hanya dilakukan oleh seseorang untuk memanjatkan hal-hal baik saja. Tak sedikit juga ada seseorang yang berdoa untuk hal-hal yang tidak baik.

Satu dari sekian banyak contoh misalnya, dikarenakan iri terhadap pencapaian atau kepemilikan orang lain, akhirnya mendoakan seseorang tersebut supaya gagal, bangkrut, sakit, serta dengan serentetan sumpah serapah yang bermacam-macam.

Ternyata cita rasa kapitalistik tidak hanya kentara pada dunia pendidikan, dalam hal berdoa saja kita sering temui atau alami sendiri, bukan?

Masalahnya, berdoa akhirnya kerap diorientasikan untuk segala pemenuhan kepentingan diri sendiri saja. Bahkan, sampai dengan tega mendoakan yang tidak baik terhadap orang lain karena alasan tidak disenanginya. 

Selanjutnya, banyak orang bilang bahwa setiap ucapan adalah doa. Saya pribadi kurang begitu sepakat dengan pernyataan itu. Yang menjadi kekhawatiran, kedalaman maknanya berpotensi bisa kurang tepat ketika di tangkap oleh beberapa orang.

Apakah benar yang disebut sebagai doa hanya ungkapan-ungkapan yang terlontar dari mulut saja? Kan tidak juga sesempit itu.

Padahal, berdoa sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah oleh setiap orang, bisa dimanapun, kapanpun, bahkan sedang dalam keadaan apapun. Tentunya, dengan tetap memperhatikan yang namanya adab dalam berdoa itu sendiri. Selain bisa diartikulasikan melalui ucapan, berdoa juga bisa dilakukan melalui bisikan di lubuk hati yang paling dalam.

Kita juga pasti menyadari bahwa jalannya kehidupan kerap tidak seperti apa yang selalu kita pikirkan, kita impikan, serta kita cita-citakan. Jangankan soal masa depan, seseorang lapar, pengin kencing, kedatangan kantuk, hingga kemudian bangun tidur pun sama sekali tidak pernah kita sadari. Lebih-lebih sampai bisa kita atur semau kita sendiri. Semua berjalan sebagaimana mestinya, atas kuasa dan kehendak-Nya.

Melalui berdoa, kita pun diajarkan untuk tidak berlaku sok-sokan, egois maupun serba rasional saja. Sebab, Paus Fransiskus menemukan alam terkembang sebagai guru; "Sungai tak minum airnya sendiri; pohon tak makan buahnya sendiri; kembang tak pancarkan aroma bagi dirinya; mentari tak bersinar bagi dirinya. Hidup bagi orang lain adalah suatu hukum alam. Kita terlahir untuk saling membahagiakan.

Lantas, ditengah situasi Covid-19 yang serba membingungkan ini, mengetuk pintu 'langit' melalui doa tentu bisa menjadi salah satu solusinya.

Jangan apa-apa buat diri sendiri saja, tanpa peduli orang lain. Padahal kita semua bersaudara. Saudara sedarah, saudara seiman, maupun saudara dalam ikatan kemanusiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru