Esai | Motif Berorganisasi

Pontang, 12 Oktober 2020.

Tepatnya, pada tanggal 10 Oktober 2020, secara mendadak saya diminta Panitia Pelaksana untuk membagi pengalaman berorganisasi kepada para peserta Upgrading dan Rapat Kerja Pengurus Rayon Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, PMII Untirta. Kegiatannya sendiri bertempat di Saung Galih, Banten Lama. Sebetulnya, keberadaan saya mulanya hanya sebagai tamu.

Sehubungan ada faktor x, akhirnya mau tidak mau saya di mintai tolong panitia supaya 'menambal' keberlangsungan acara pada saat itu.

Kemudian saya diberikan acuan untuk menguliti materi seputar pentingnya komitmen anggota terhadap sebuah organisasi.

Mendengar penjalasan panjang panitia, saya pun jadi lebih bersemangat. Sebab materi semacam ini, menurut saya sangat penting untuk disampaikan. Oleh karena, sangat seringnya kasus anggota 'hilang' ditengah-tengah jalan. Tanpa ada kejelasan.

Selain komitmen diperlukan sebagai upaya menjaga stabilitas organisasi, dilain pihak juga agar terciptanya batasan-batasan setiap anggota yang jelas agar tetap saling menyamankan satu sama lain. Tidak boleh ada pihak yang merasa dirugikan.

Dengan berangkat dari pengalaman, hasil perenungan dan bahan bacaan. Saya punya pandangan, bahwa komitmen seseorang atau anggota mau ikut berorganisasi di motifi oleh tiga hal;

Pertama, komitmen yang berkesadaran. Komitmen ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya rasa percaya dan penerimaan yang kuat seseorang terhadap suatu nilai, tujuan maupun ideologi suatu organisasi. Dalam kategori ini, keputusan seseorang tergabung ke organisasi telah didorong atas dasar kesadaran untuk mau terus belajar mengembangkan potensi diri, sekaligus membangun organisasinya tersebut.

Kedua, komitmen yang semu. Yaitu, komitmen seseorang atau anggota untuk mau bergabung dan berproses di organisasi hanya terbatas pada perhitungan untung dan rugi. Bilmana ditelisik, banyak sekali motifnya. Bisa sekadar untuk eksistensi saja, mencari pasangan atau tujuan-tujuan oportunis yang lain.

Ketiga, komitmen yang normatif. Ya, amis jambu. Biasanya, komitmen normatif terbangun akibat adanya suatu tekanan. Misalnya, karena semenjak awal seseorang bergabung ke suatu organisasi hanya karena faktor ikut-ikutan, lantas kemudian sesekali timbul rasa malas untuk mengikuti berbagai agenda yang diselenggarakan organisasi. Bahkan, ketika sesekali terlibat dalam suatu kegiatan pun, memerlukan 'usaha' sedemikian rupa yang dilakukan oleh pimpinan atau anggota lain yang ada di organisasi tersebut.

Dari ketiga uraian klasifikasi diatas, akhirnya kita tidak cukup jika hanya berangkat dari motivasi 'polos' untuk belajar dan berkembang. Terlebih dulu, kita juga memerlukan pancang alasan yang kuat sebelum memutuskan hendak menjadi bagian dari suatu organisasi.

Sebab dalam perjalanannya nanti, kualitas diri Anda di masa depan dipertaruhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru