Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Esai Ray Ammanda | Menjadi Guru Honorer atau Profesi Apapun Memang Tidak Merdeka

Gambar
(Sumber Gambar : id.pinterest.com) Kebetulan, saya merupakan lulusan mahasiswa pendidikan yang beberapa bulan ke belakang sudah sidang skripsi. Untuk itu, jangan tanya soal pekerjaan. Sudah sidang skripsi saja, saya sudah patut bersyukur. Maka, pertanyaan yang sekiranya lebih relevan untuk saya sekarang adalah hendak kemana dan punya rencana apa. Kendati hilirnya sama, pertanyaan semacam itu bakal terasa lebih ramah di telinga. Sejauh ini, banyak bisikan-bisikan yang menggoda. Bahwasannya, menjadi guru honorer itu ironi. Kalau bukan karena alasan pengabdian dan pahala, menjadi guru honorer tidak menjanjikan apa-apa. Gajinya, sungguh tak masuk akal. Memang ada banyak fakta yang menguatkan argumentasi itu. Muchamad Aly Reza, dalam tulisannya tertanggal 5 Agustus 2021 di Mojok berjudul "Guru Honorer yang Memilih Jualan di Tempat Horor Sambil Menunggu Kejelasan Status", menceritakan keluhan yang dialami oleh Mbak Dwi Handayani. Mbak Dwi saja yang sudah 16 tahun menjadi guru honor...

Esai | Motif Berorganisasi

Pontang, 12 Oktober 2020. Tepatnya, pada tanggal 10 Oktober 2020, secara mendadak saya diminta Panitia Pelaksana untuk membagi pengalaman berorganisasi kepada para peserta Upgrading dan Rapat Kerja Pengurus Rayon Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, PMII Untirta. Kegiatannya sendiri bertempat di Saung Galih, Banten Lama. Sebetulnya, keberadaan saya mulanya hanya sebagai tamu. Sehubungan ada faktor x, akhirnya mau tidak mau saya di mintai tolong panitia supaya 'menambal' keberlangsungan acara pada saat itu. Kemudian saya diberikan acuan untuk menguliti materi seputar pentingnya komitmen anggota terhadap sebuah organisasi. Mendengar penjalasan panjang panitia, saya pun jadi lebih bersemangat. Sebab materi semacam ini, menurut saya sangat penting untuk disampaikan. Oleh karena, sangat seringnya kasus anggota 'hilang' ditengah-tengah jalan. Tanpa ada kejelasan. Selain komitmen diperlukan sebagai upaya menjaga stabilitas organisasi, dilain pihak juga agar terciptanya batas...

Esai | Membumikan Ide Kembali

Pontang, 10 Juni 2021. Berbagi pengalaman maupun pemikiran kepada banyak orang memang upaya yang positif. Hal demikian, salah satunya bisa dilakukan dengan cara membagi cerita-cerita kita melalui sebuah tulisan. Disamping dalam rangka berbagi pengalaman maupun pemikiran, menulis juga bisa sangat bermanfaat sebagai self-healing atau penyembuhan diri. Biasanya, mencari teman curhat yang sefrekuensi tentunya tidak mudah bagi sebagian orang. Maka, salah satu cara jitu untuk curhat ialah dengan menulis keresahan kita sendiri. Insyaallah, semua beban masalah yang sedang kita alami sedikitnya bakal terasa lebih 'plong' bila diungkapkan. Ihwal dibagikan tidaknya tulisan tersebut, tentu bergantung si penulis itu sendiri. Kita tahu, bahwa sifat ide/gagasan memang abstrak bilamana tidak di kebumi-kan ke alam realitas pelaksanaan. Namun, jangan pernah meremehkan ide. Musabab, ide berperan sangat penting dalam setiap langkah dan pencapaian suatu pelaksanaan. Tanpa ia, pelaksanaan hanya seb...

Esai | Wabah Keluhan

Pontang, 31 Maret 2020. Penyebarluasan coronavirus atau covid-19 kian hari semakin mengkhawatirkan banyak negara dan umat manusia diseluruh dunia. Berbagai macam upaya yang telah ditempuh setiap negara, misalnya kerja keras pemerintah, perjuangan tenaga medis, perilaku tertib himbauan dari masyarakat, misalnya untuk tidak panik, menjaga jarak, serta upaya-upaya yang lain, nyatanya belum cukup menekan persebaran virus tersebut. Sementara, kita tahu bahwa waktu akan terus bergulir sebagaimana mestinya. Kebutuhan manusia pun harus tetap berjalan dan terpenuhi. Yang menjadi dilema, segala kepentingan manusia dalam bekerja, berdagang, bersekolah ataupun segala ikhtiar guna memperoleh penghasilan dalam situasi sulit ini harus dibatasi juga secara ketat. Tidak bisa lagi sesuka sendiri dan sembarang. Pemberlakuan social distancing, health distancing, PSBB bahkan lockdown sudah menjadi himbauan serius untuk dicermati bersama. Sebagai seorang mahasiswa saya pun mengalami dampak yang tak jauh ber...

Esai | Meneguhkan Kedirian

Pontang, 7 Agustus 2021. Pernahkah Anda mengalami masa dimana setelah selesai menuntaskan jenjang pendidikan (Berhenti/Drop Out/Lulus) atau yang hendak berniat melanjutkan karier pendidikan, Anda dihantam gelombang kegelisahan yang menggebu-gebu? Semacam dihinggapi banyak kebingungan, dilema atas pilihan, juga karena ketidakmenentuan cuaca 'takdir' yang berseliweran membayang-bayangi pikiran? Persisnya, kegelisahan menyangkut persoalan jalan hidup yang hendak ingin Anda tempuh ke depan. Dulu, saya juga kerap dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dan setiap pilihan, sepenuhnya berada ditangan kita. Segala konsekuensinya pun kelak harus kita tanggung dan terima. Sebelum memutuskan itu, ada hal-hal mendasar yang perlu Anda diingat. Bahwasannya, kehidupan kita tidak sama dengan orang lain. Pencapaian kita juga tidak tepat bilamana dibandingkan dengan jalan hidup orang lain. Kita juga harus punya skema jalan hidup versi kita sendiri. Apapun itu keadaannya, tetap harus di ...

Esai | Mengeja Abjad dan Membaca Kebudayaan

Pontang, 19 Juli 2021. Bermula dari abcdefghijk.. dan seterusnya, terjadilah persambungan silaturahim diantara mereka. Hingga kemudian membentuk olahan kata, aneka menu kalimat, beragam hidangan bahasa dan kemudian menjadi bermacam-macam cita rasa budaya. Setiap masing-masing dari sebuah huruf sebetulnya memiliki karakter dan keistimewaan. Persis seperti kita sebagai manusia. Syarat utama untuk menyadarinya, tentu saja setiap huruf atau kita dianjurkan untuk bekerjasama dengan huruf/manusia yang lain. Melalui keterjalinan tersebut, kita akan mampu melukis kata dan makna dari adanya semangat kerjasama. Alhasil, setiap konektivitas huruf sebetulnya bisa menjadi energi kebaikan. Sebaliknya, bisa juga memicu kemudharatan. Bergantung pada bagaimana niat dan maksud yang menorehkan. Seiring laju perubahan, kemudahan untuk memperoleh informasi sudah sedemikian mudah kita dapat melalui genggaman tangan. Ironinya, cepatnya persebaran informasi sendiri malah menjadi gelegar petir kekhawatiran. Hu...

Esai | Kapitalisasi Do'a

Pontang, 15 Juli 2021. Setiap orang dipastikan pernah berdoa, untuk hal apapun dalam hidupnya. Bisa menyangkut urusan kesehatan, kekayaan, pemulusan jalan karier maupun hajat-hajat 'tersembunyi' yang lain. Akan tetapi, berdoa juga tidak hanya dilakukan oleh seseorang untuk memanjatkan hal-hal baik saja. Tak sedikit juga ada seseorang yang berdoa untuk hal-hal yang tidak baik. Satu dari sekian banyak contoh misalnya, dikarenakan iri terhadap pencapaian atau kepemilikan orang lain, akhirnya mendoakan seseorang tersebut supaya gagal, bangkrut, sakit, serta dengan serentetan sumpah serapah yang bermacam-macam. Ternyata cita rasa kapitalistik tidak hanya kentara pada dunia pendidikan, dalam hal berdoa saja kita sering temui atau alami sendiri, bukan? Masalahnya, berdoa akhirnya kerap diorientasikan untuk segala pemenuhan kepentingan diri sendiri saja. Bahkan, sampai dengan tega mendoakan yang tidak baik terhadap orang lain karena alasan tidak disenanginya.  Selanjutnya, banyak orang...

Esai | Sedekah Kewarganegaraan

Serang, April 2020. Pertama-tama, yang ingin saya sampaikan adalah rasa syukur saya bisa mengenal, berdekatan, kemudian akhirnya memutuskan diri menjalin hubungan serius dengan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) selama dikampus. Pernyataan demikian, sama sekali bukan bermaksud berlebihan, melainkan satu sikap “rumongso” saya sebagai mahasiswa polos dari kampung yang tidak tahu apa-apa tentang konstelasi zaman, tetapi akhirnya telah diberikan kesempatan — semester 3 — untuk bergabung, belajar dan berjuang tentang arti penting kejujuran, kebenaran dan keadilan dalam mengarungi lika-liku kehidupan. Pada saat itu, saya benar-benar menerapkan sikap hati-hati dan teliti sampai akhirnya bisa memilih PMII. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa tetap saja sebagai organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, meskipun sudah malang melintang mewarnai sejarah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, PMII juga tak lepas dari masih banyaknya kekurangan-kekurangan yang ada. Penulis sebagai s...

Esai | Keterpaduan Kebebasan Alamiah dan Kebebasan Sipil

Pontang, September 2020. Biasanya, konsentrasi pemahaman kebanyakan orang terhadap kemerdekaan lebih pada bebas bukan soal batas. Atau dalam ungkapan negara, pengertiannya mengarah pada perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan dirinya dari kekejaman imperialisme di masa lalu. Atau dalam bahasa individu, pengertian kemerdekaan dapat secara sederhana dipahami sebagai suatu kebebasan -- itu pun dipersempit hanya menyangkut pemenuhan kepentingannya, nafsunya serta segala sesuatu yang menguntungkannya. Akhirnya, tak heran bilamana kemerdekaan menjadi barang yang cenderung diidam-idamkan oleh banyak orang. Alhasil, ketika kemerdekaan itu telah diraih kerap menjadikan orang, ataupun institusi, bahkan negara berlaku dengan leluasa dan seenaknya tanpa pernah mendialogkan dengan kemerdekaan yang dimiliki oleh orang lain.  Lantas, melalui batasan-batasan, semesta kemerdekaan harus ditempuh dengan kehati-hatian, ketepatan serta kearifan agar tidak berlebihan dan merugikan orang lain. Begin...

Esai | Manusia, Kerja dan Karya

Pontang, 30 Januari 2021. Bekerja memang menjadi satu keharusan yang semestinya manusia lakukan. Setiap manusia yang bernafas memang dianjurkan untuk bergerak, untuk selalu beraktivitas, untuk terus berjuang menjalani takdir kehidupan. Kemalasan yang justru harus selalu kita hindarkan. Namun, istilah "bekerja" yang sekarang kita pahami, menjadi satu kata yang nampaknya sudah tidak enak didengar lagi. Disamping oleh karena kata "bekerja" itu sendiri telah mengalami jarak bias dengan pemaknaan yang sebenarnya. Peluang pekerjaan yang dimaksud itu pun sangat sempit peluangnya. Bahwa dalam hal ini, bekerja diartikan terbatas pada seseorang yang melalukan sesuatu, yang kemudian hanya memperoleh timbal balik dalam bentuk materi. Pandangan diatas sebenarnya tak menjadi soal bagi beberapa kalangan. Sebab, materi merupakan bagian daripada bentuk perwujudan hak setelah kewajiban telah selesai dijalankan. Adapun mereka yang tergolong kategori ini diantaranya, para karyawan buru...

Esai | Menumbuhkembangkan Spirit Menulis

Pontang, 22 Desember 2020. Sebenarnya, aktivitas menulis bukan sesuatu hal yang sederhana. Tetapi, bukan juga sesuatu yang rumit. Kendati setiap manusia yang sudah memahami keberaksaraan dipastikan bisa menulis, namun masalahnya tak banyak orang bisa mengkonstruksikan dunia ide dengan runut serta utuh, sehingga kita sebut memiliki kualitas tulisan yang baik. Barangkali, disitulah titik mendasar perbedaannya. Dan tak sedikit para penulis pemula yang terjebak disitu. Semacam dihadapkan kebingungan bagaimana menentukan kepantasan temanya, sistematika penulisannya, bahkan menyangkut maksud serta tujuan menuliskannya. Ada momen menarik. Suatu ketika, pernah seorang teman bertanya, "Buat apasih capek-capek nulis? Pake mikir keras lagi.." "Sering aktif di medsos? Semacam upload foto, curhat di status, atau bikin story-story begitu?" Tanyaku. "Hampir saban hari saya membuka dan memainkannya. Entah ketika saya sedang nongkrong di WC, rebahan dikamar, atau ngopi didepan ...

Esai | Bahasa; Kehati-hatian dan Kecermatan

Pontang, 23 Juli 2020. Beruntung hari ini kita semua kenal dengan yang namanya bahasa, coba Anda bayangkan kalau tidak ada bahasa, tentu kerok bagi seorang pemuda untuk bisa merayu pacarnya, bingung tukang cilok mempromosikan keunikan produknya. Atau, bagaimana repotnya para calon anggota dewan dalam mengartikulasikan janji-janji "utopisnya" kepada masyarakat awam. Namun, terlepas bagaimanapun manusia "meracik" bahasa verbal hingga tercipta beragam varian diantaranya; Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa Jaseng (jawa serang), dan bahasa-bahasa lain, tetapi bahasa pada substansinya memiliki akar kesamaan sebagai bentuk ikhtiar dalam memperkaya cita rasa dalam komunikasi, bebrayan dan silaturahmi dalam setiap nafas kehidupan. Artinya, untuk poin pertama kita patut bersyukur dengan keberadaan bahasa. Tetapi, pada tulisan ini, saya mencoba melihat bahasa dari persepektif yang lebih luas. Yaitu bahasa sebagai suatu ungkapan yang bisa diartikulasikan mel...

Esai | Jejakmu Merahimi Kebangkitan

Pontang, 17 November 2020. Mengapa anak panah bisa melesat jauh kedepan? Jawabannya tentu sederhana, karena disebabkan oleh karena adanya usaha daya tarik yang maksimal. Juga dalam menapaki jalan masa depan dengan penuh optimisme, barangkali alasan pendirian negara Indonesia perlu sesekali kita kembalikan lagi kepada pertanyaan mendasar. Sejauh manakah bangsa kita belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu? Kemudian, harapan apa yang sesungguhnya hendak kita tuju? Kebahagiaan hidup bersamakah sebagaimana Bung Hatta katakan? Berangkat dari rentetan pertanyaan itu, saya jadi teringat sebuah lagu anak-anak ciptaan Ibu Soed yang sangat populer itu, yang liriknya adalah; Nenek moyangku seorang pelaut Gemar mengarung luas samudera Menerjang ombak tiada takut Menempuh badai sudah biasa Angin bertiup layar terkembang Ombak berdebar di tepi pantai Pemuda b’rani bangkit sekarang Ke laut kita beramai-ramai Tentunya, lagu tersebut tidak asing dan pernah kita dengar bukan? Atau kita sendiri perna...

Esai | Membaca Dan Belajar Merdeka

Pontang, 22 November 2020. Membincang kesadaran, barang tentu selain bisa terbangun dari pada pergulatan pengalaman juga tidak bisa kita lepaskan dari kekuatan jelajah literasi setiap orang. Pasalnya, sejauh yang saya pahami dan alami, membaca merupakan salah aktivitas dalam menanam pemahaman. Sementara berkarya adalah pola perawatan pemahaman. Sedangkan perilaku sendiri adalah buah dari pemahaman. Jadi, maksud yang hendak saya sampaikan adalah, kesadaran berfikir dan bertindak setiap orang ternyata sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan pengalaman serta serapan informasi dikepalanya. Namun, sebelum jauh berorientasi membangun kesadaran, tepatnya membentuk kebijaksanaan didalam diri seseorang. Kali ini, saya hendak berbagi pengalaman, yang menurut saya pribadi sangat berkesan dalam mengubah diri saya sejauh ini. Yaitu tentang bagaimana pentingnya keakraban dunia membaca. Ketertarikan itu bermula karena sewaktu masa-masa sekolah dulu, harus diakui bahwa saya cenderung antipati dengan yang ...

Esai | Imunitas Pemuda dan Keteladanan Sultan Ageng Tirtayasa

Kabar Banten, 14 Agustus 2020. Ada suatu kekhawatiran yang serius manakala kisah-kisah inspiratif kepemimpinan mengendap sebagai abu masa lalu. Juga, tanpa pernah anak muda kembali menggali dan menyalakan api keteladanannya. Sementara, wacana hedonisme, pragmatisme, pergaulan bebas, narkoba serta berbagai produk budaya negatif lainnya, semakin hari kian mewabah diberbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara akibat dari pada varian hidangan tidak sehat di ruang-ruang publik. Terlebih, dalam menjalani kehidupan mutakhir arus digitalisasi, pemuda mesti mewaspadai potensi halusinasi narkoba "zona nyaman" yang menumpulkan imaji serta kreativitas. Semacam bius cultur shock serba praktis yang sebenarnya sama sekali tidak menyehatkan jiwa dan merangsang pemikiran. Melainkan sebaliknya, menimbulkan perilaku tidak produktif, tidak kreatif, bahkan bisa menimbulkan sikap manja atau aleman. Yang dikhawatirkan--sebagaimana ungkapan Emha Ainun Nadjib--bahwa persebaran penyakit-penyakit ...