Esai | Manusia, Kerja dan Karya

Pontang, 30 Januari 2021.

Bekerja memang menjadi satu keharusan yang semestinya manusia lakukan. Setiap manusia yang bernafas memang dianjurkan untuk bergerak, untuk selalu beraktivitas, untuk terus berjuang menjalani takdir kehidupan. Kemalasan yang justru harus selalu kita hindarkan.

Namun, istilah "bekerja" yang sekarang kita pahami, menjadi satu kata yang nampaknya sudah tidak enak didengar lagi. Disamping oleh karena kata "bekerja" itu sendiri telah mengalami jarak bias dengan pemaknaan yang sebenarnya. Peluang pekerjaan yang dimaksud itu pun sangat sempit peluangnya.

Bahwa dalam hal ini, bekerja diartikan terbatas pada seseorang yang melalukan sesuatu, yang kemudian hanya memperoleh timbal balik dalam bentuk materi.

Pandangan diatas sebenarnya tak menjadi soal bagi beberapa kalangan. Sebab, materi merupakan bagian daripada bentuk perwujudan hak setelah kewajiban telah selesai dijalankan. Adapun mereka yang tergolong kategori ini diantaranya, para karyawan buruh, para aparatur pemerintahan, para guru maupun dosen, yang berdasarkan pada waktu tertentu sudah dijamin perolehan haknya dengan apa yang kita sebut sebagai gaji.

Tetapi dalam kacamata pandang lain, pemaknaan bekerja diatas juga bisa menjadi masalah bagi sebagian orang. Umpamanya, bagaimana bagi mereka yang selama hidupnya telah sangat bekerja keras, tekun, serta sungguh-sungguh mengabdikan segenap kreativitasnya hanya untuk terus berkarya? Apakah mereka tidak layak disebut sebagai seorang pekerja kebudayaan?

Juga, bagi mereka para ulama, kiai-kiai dikampung maupun guru madrasah yang secara sukarela mendidik serta mengajari anak-anak Anda itu? Bukankah mereka juga layak kita sebut sebagai pekerja sosial-keagamaan?

Kalau pun bicara terus terang perihal keuntungan materi, atau dalam hal ini uang, mereka-mereka orang saya rasa jauh dari pada hidup yang berkelimpahan. Jangan kan mengandalkan hasil dari buah karya atau keikhlasan pengabdiannya, tak jarang juga malah mereka kerap dimarginalkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat kita.

Padahal, mereka-mereka orang adalah pekerja sosial-kemasyarakatan yang sangat penting dan berpengaruh dalam kehidupan.

Kemudian, Soren Kierkegaard pun membagi tiga tingkatan eksistensi manusia. Pertama eksistensi estetik, dimana seseorang memiliki kecenderungan perilaku hanya untuk kesenangan dan pemenuhan kepentingan dirinya saja. Tingkatan kedua dinamai eksistensi etik, dimana sikap hidup seseorang sudah mulai terbuka dengan melibatkan kebahagiaan dirinya bersama orang lain. Terakhir, eksistensi religius, bahwa segala tindak tanduk perilaku seseorang terhadap yang lain sudah didasarkan atas nilai-nilai ketuhanan tanpa perhitungan serta embel-embel apapun. Artinya, para pekerja yang "tidak bergaji" itu, berposisi ditingkatan ketiga dalam klasifikasi eksistensi yang dituturkan oleh Soren tersebut.

Jadi, pekerjaan mereka sangat mulia bukan?

Seturut dengan itu, benarkah orientasi bekerja hanya terbatas pada perolehan sesuatu yang kita sebut imbalan bentuk materi saja?

Dan benarkah suatu kegiatan yang kita lakukan, dalam hal ini misalnya kalau tidak memperoleh keuntungan materi tidak layak kita sebut sebagai aktivitas kerja?

Dan bukankah keuntungan sendiri, apapun bentuk dan wujudnya, merupakan hanya satu bagian dari efek pekerjaan yang sudah kita lakukan?

Maka ditengah-tengah kesibukan proses penyelesaian tugas akhir kuliah saya yang sudah berada diujung tanduk, saya terus senantiasa "bekerja" sesuai dengan kemampuan dan bidang yang saya senangi, yaitu melakukan aktivitas membaca dan menulis disela-sela waktu luang. Anda pun juga mesti meyakini bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan minat serta bawaan alamiah bakat sejak lahir. Sehingga Anda juga berpeluang besar untuk menggali, mengembangkan serta menekuni minat dan bakat Anda itu sendiri. Terus kerjakan dan kembangkan kemampuan itu.

Sayangnya, kenapa kebanyakan orang menganggap bahwa tolak ukur keberhasilan seorang sarjana adalah hanya dilihat dari posisi, kerapihan maupun perolehan hasil pekerjaannya yang berupa materi saja? Dan kenapa soal lain-lain tidak menjadi penilaian maupun perhitungan?

Inilah yang kemudian menjadi masalah. Bilamana telah terjadi semacam "pembenaran" ditengah-tengah masyarakat soal stigma itu, saya yang juga calon seorang sarjana, sekaligus seorang warga dari sebuah negara, nampak khawatir terhadap mentalitas budaya masyarakat kita dimasa depan.

Yang dikhawatirkan, mungkin banyak kemudharatan itu sendiri yang akan ditimbulkan akibat penyempitan makna bekerja tersebut.

Persoalannya, selain dikarenakan semakin sulitnya peluang pekerjaan "bergaji" itu, akhirnya membuat banyak orang terutama sarjana-sarajana yang baru selesai menempuh prosesnya, akan menjadi stres dan gengsi untuk melakukan pekerjaan lain yang kita anggap kampungan atau tidak kantoran.

Ini yang patut kita cemaskan, terhadap suatu kemungkinan terjadinya semmaca kejumudan kreativitas diantara lulusan-lulusan sarjana kita dimasa depan.

Dan banyak kasus lain terjadi misalnya, seorang anak lulusan sarjana dengan orang tuanya yang hanya seorang petani biasa, malah menjadi enggan untuk terus mewarisi dan menerapkan ilmu dari orang tuanya. Yang padahal, selama biaya kuliahnya selalu mengandalkan dari perolehan hasil bertani tersebut. Akhirnya, banyak fenomena sawah dijual akibat persoalan demikian.

Juga semakin banyak para sarjana setelah lulus kuliah hanya memimpikkan pekerjaan yang enak-enak saja, seperti duduk diruangan ber-AC, berpakaian rapih, serta mengenakan sepatu kinclong. Tak heran bilamana sering terdengar bejibun pelamar kerja dikota-kota besar.

ini yang saya maksudkan, yaitu tentang kekhawatiran terjadinya pembentukan mentalitas inlander pada lulusan-lulusan sarjana kita sekarang.

Pertanyaannya, kemanakah kreativitas karya yang telah mereka hasilkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru