Esai | Membaca Dan Belajar Merdeka
Pontang, 22 November 2020.
Membincang kesadaran, barang tentu selain bisa terbangun dari pada pergulatan pengalaman juga tidak bisa kita lepaskan dari kekuatan jelajah literasi setiap orang. Pasalnya, sejauh yang saya pahami dan alami, membaca merupakan salah aktivitas dalam menanam pemahaman. Sementara berkarya adalah pola perawatan pemahaman. Sedangkan perilaku sendiri adalah buah dari pemahaman.
Jadi, maksud yang hendak saya sampaikan adalah, kesadaran berfikir dan bertindak setiap orang ternyata sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan pengalaman serta serapan informasi dikepalanya.
Namun, sebelum jauh berorientasi membangun kesadaran, tepatnya membentuk kebijaksanaan didalam diri seseorang. Kali ini, saya hendak berbagi pengalaman, yang menurut saya pribadi sangat berkesan dalam mengubah diri saya sejauh ini. Yaitu tentang bagaimana pentingnya keakraban dunia membaca.
Ketertarikan itu bermula karena sewaktu masa-masa sekolah dulu, harus diakui bahwa saya cenderung antipati dengan yang namanya membaca. Dunia saya adalah nongkrong. Kebebasan. Bolak-balik kantor guru lantaran sering melanggar aturan. Dunia membaca saya anggap sebagai sesuatu yang membosankan, kaku, bahkan tidak penting.
Dan sekarang, jelas anggapan itu sangat keliru. Justru malah sebaliknya, melalui kedekatan dengan dunia membaca hidup saya menjadi lebih enjoy. Suasana hati saya bisa sedikit terhibur. Pola pikir jadi mengembang dan waskita. Melalui membaca, saya bisa 'bertamasya' kemana-mana.
Atau dalam penuturan Puthut EA, membaca telah memberikan kenikmatan yang nyaris sempurna baginya. Bau kertas, ketenangan, semilir angin, keheningan, membuat membaca buku menjadi kenikmatan yang nyaris paripurna. Semua yang serba dianggap baik, pernah dicap sebagai candu. Agama. Sekolah. Mestinya juga buku.
Puji syukur setelah lulus SMA saya diberikan kesempatan merasakan gegap gempita dunia kampus. Melalui beragam persentuhan lintas pergaulan, pemikiran maupun keorganisasian dikampus tersebut akhirnya mempengaruhi perkembangan hidup saya.
Dibentuk menjadi pribadi yang terbuka. Tidak gampang puas terhadap suatu pencapaian. Tidak gampang menyerah menghadapi suatu persoalan. Untuk tidak sempit bersikap juga semenjak dalam pikiran. Gairah belajar tidak boleh padam dan harus senantiasa ditumbuhkan.
Sayangnya, yang masih menjadi masalah adalah, bahwa kepribadian saya cenderung suka kebebasan dan petualangan, otomatis harus menemukan cara belajar sendiri yang menurut saya anggap paling tepat.
Lewat kegelisahan itu pula kemudian saya meniatkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Memutuskan mau dekat-dekat sama buku. Mau untuk membaca buku. Yang akhirnya, saya bisa jatuh cinta dengan buku.
Sebenarnya minat membaca saya di stimulus lewat kebiasaan teman yang tak disengaja. Setiap kali saya perhatikan, biasanya teman saya datang ke kosan waktu itu dengan senyum dan salaman. Kemudian bincang-bincang sebentar. Seduh kopi sendiri. Dan setelah itu, dia duduk manis sambil membaca. Yang menjadi aneh, kejadian itu terjadi berulang kali. Waktu itu, sampai saya pernah dipinjami buku bacaan. Nahasnya, pernah suatu ketika saya lempar.
Namun, lambat laun dari kebiasaan teman saya itu, akhirnya turut merangsang alam bawah sadar saya. Dikepala saya sempat terbesit sebuah pertanyaan sederhana; Apa enaknya sih membaca? Dari situlah saya mau mengenal, mengakrabi serta memesrai dunia membaca.
Juga, bilamana ditanya apa hal yang paling melatarbelakangi dorongan saya untuk mau membaca, sebenarnya memuat kisah ironis. Yang pada saat itu, seseorang pernah mengeluh kepada saya, "Syarat menumbuhkan minat baca itu apasih?"
Dengan spontan saya menjawab; "Salah satu syaratnya, mesti jomblo, supaya kamu merasa sendiri dan kesepian. Lantas, pasti kamu punya inisiatif untuk tidak sendiri bukan? Nah, baru jadikan buku sebagai teman baikmu, pacarmu, selingkuhanmu, atau apa saja".
Dan setelah saya pikir-pikir kembali, ada benarnya bahwa faktor kejombloan telah memengaruhi saya waktu itu. Baru pada pertama kalinya saya mau dan bisa melahap satu jilid buku yang lumayan tebal. Meskipun terhitung lamban, tapi saya berhasil. Dan keberhasilan itu tidak hanya pada saya telah selesai membacanya, melainkan saya juga sempat terharu dan meneteskan air mata karena isi bukunya. Maaf, saya rahasiakan judulnya.
Alhasil, dari pengalaman tersebut saya akhirnya kecanduan membaca. Dunia membaca menjadi seru. Membangkitkan gairah dan semangat.
Hingga kemudian saya menemukan empat tingkatan seseorang dalam membaca. Tingkatan pertama, seseorang hanya sebatas ingin memperoleh informasi. Kedua, berbagi wacana. Ketiga, menjadi perilaku keseharian. Puncaknya, tingkatan pembaca produktif yang sudah mencintai ilmu pengetahuan.
Yang jelas saya pastikan, bahwa dunia baca, dunia kata, dunia cerita, dunia imajinasi akan membuat Anda segar dan rileks kembali.
Akhirnya, saya menemukan kesimpulan sementara, bahwa dunia literasi saya pahami merupakan salah satu medium reflektif dalam menumbuhkan kepercayaan diri, melatih kepekaan diri, serta mengontrol tindakan diri.
Tentunya, dunia literasi yang tidak hanya mengeja, melainkan juga paham betul terhadap sesuatu yang telah kita baca. Dan yang paling penting, kita sambil menikmati dan mengambil sari pati hikmah yang terkandung didalamnya. Semoga, aktivitas membaca akan tetap jadi suluh perjalanan hidup kita semua hingga tutup usia.
Komentar
Posting Komentar