Esai | Imunitas Pemuda dan Keteladanan Sultan Ageng Tirtayasa
Kabar Banten, 14 Agustus 2020.
Ada suatu kekhawatiran yang serius manakala kisah-kisah inspiratif kepemimpinan mengendap sebagai abu masa lalu. Juga, tanpa pernah anak muda kembali menggali dan menyalakan api keteladanannya. Sementara, wacana hedonisme, pragmatisme, pergaulan bebas, narkoba serta berbagai produk budaya negatif lainnya, semakin hari kian mewabah diberbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara akibat dari pada varian hidangan tidak sehat di ruang-ruang publik.
Terlebih, dalam menjalani kehidupan mutakhir arus digitalisasi, pemuda mesti mewaspadai potensi halusinasi narkoba "zona nyaman" yang menumpulkan imaji serta kreativitas. Semacam bius cultur shock serba praktis yang sebenarnya sama sekali tidak menyehatkan jiwa dan merangsang pemikiran. Melainkan sebaliknya, menimbulkan perilaku tidak produktif, tidak kreatif, bahkan bisa menimbulkan sikap manja atau aleman.
Yang dikhawatirkan--sebagaimana ungkapan Emha Ainun Nadjib--bahwa persebaran penyakit-penyakit sosial, disinformasi tentang pemahaman-pemahaman hidup, salah kuda-kuda mental mental, intelektual, atau spiritual merupakan hasil dari pemikiran yang salah. Musabab, pola pikir dan perilaku anak muda sangat masif dipengaruhi oleh arus tersebut. Terutama menyoroti dari pada pengaruh media sosial yang rentan pendangkalan berfikir.
Sementara, mengandalkan citra visual serba ringkas ternyata tak cukup untuk menyelami kedalaman makna. Maka, sebagaimana ungkapan masyhur memberi peringatan, bahwa cara mudah untuk menghancurkan sebuah bangsa ialah dengan cara membunuh minat membaca buku warga negaranya.
Dengan demikian, sebagaimana sejarah telat mencatat, bahwa anak muda sebenarnya mampu untuk tampil sebagai pemikir, penggagas, dan penggerak suatu perubahan. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.
Salah satu pelajaran sejarah yang bisa kita teladani ialah tentang keterampilan Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah atau sering dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa selama masa kepemimpinannya. Yang pada waktu itu, ia berhasil membawa Banten mencapai puncak kejayaannya.
Beliau merupakan salah satu sosok dari beberapa tokoh tertentu yang mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia, yang sekaligus terkenal sebagai pemimpin yang cinta akan budaya, ahli strategi perang, tata kelola kenegaraan maupun dalam membangun basis perekonomian.
Pada kurun waktu 1651-1683 masa kepemimpinannya, perjuangan beliau sarat dengan nuansa perlawanan terhadap Belanda. Bermula, akibat dari tingkah "tidak tahu diri" VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang kerap merugikan kesultanan dan rakyat Banten.
Selain dari pada itu, beliau juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang amanah, egaliter, terbuka sekaligus visioner. Terlihat, dari beberapa langkah kebijakan yang ia tempuh, baik menyoal perdagangan, pertanian, maupun pendidikan.
Dan yang paling mengagumkan, pelabuhan Banten sendiri saat itu menjadi pelabuhan internasional sehingga mampu mendorong kemajuan perekonomian. Semua bidang ditata dengan apik. Bahkan, militer kesultanan Banten juga dikenal sangat jemawa.
Lantas, dari banyaknya penapaian yang telah diraih, kesejahteraan rakyat tetap menjadi orientasi utama dalam kepemimpinannya, yang terlihat dari kontinuitas penguatan simpul-simpul perdagangan. Selanjutnya, gagasan peretakan sawah-sawah baru serta pembangunan irigasi sebagai satu kesatuan kanal sistem pertanian pun di prakarsai olehnya. Langkah tersebut tentu menjadi salah satu ciri tingginya nilai suatu peradaban, demi mendorong kedaulatan pangan.
Tidak hanya berfokus di sektor perekonomian dan pertanian, Sultan Ageng juga turut mendorong perbaikan dalam bidang pendidikan, baik dilingkungan kesultanan sendiri maupun di masyarakat melalui kehadiran pondok pesantren. Salah satnya, dapat dibuktikan dari bagaimana beliau mengangkat Syekh Yusuf, seorang ulama asal Makassar menjadi mufti kerajaan yang ditugasi untuk menyelesaikan urusan keagamaan sekaligus penasihat sultan dalam bidang pemerintahan.
Tak cukup sampai disitu, pada masa kepemimpinan Sultan Ageng kesultanan Banten sangat terlibat aktif membina hubungan baik dan kerjasama dengan berbagai pihak, diantaranya Makassar, Bangka, Cirebon, Aceh, bahkan Inggris, India, Mongol, Turki, Arab, dsb. Maka tak heran, apabila pada saat itu Sultan Ageng di sebut-sebut mampu membawa kedaulatan politik dan ekonomi sehingga kesultanan Banten di segani kerajaan lain maupun oleh para penjajah.
Lantas, apakah hal demikian mampu menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakat Banten sendiri? Syukur-syukur mau untuk dipelajari dan diteladani. Lalu, bagaimana cara mengartikulasikan kisah perjuangan Sultan Ageng tersebut terhadap kondisi Banten atau Indonesia hari ini?
Jadi, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan diatas memang tidak untuk dijawab, melainkan ntuk di renungi bersama dan saksama, khususnya bagi kaum muda.
Maka, mau tidak mau, pemuda hari ini harus memahami serta menerapkan sistem imunitas diri yang jauh lebih kuat, yang tak terkalahkan oleh berbagai bentuk, rupa maupun serangan virus mengerikan dari perubahan zaman. Suluh orisinalitas diri seorang pemuda harus terus dinyalakan.
Sebab, kita musti meyakini bahwa setiap individu pasti dianugerahi potensi. Maka, usia muda adalah kesempatan ideal untuk melatih keberanian dan mengasah ketekunan serta menemukan kedirian.
Alhasil, jiwa kepemimpinan mesti lebih dahulu dihadirkan di dalam diri seorang pemuda sebelum ia hendak mengejahwantahkannya ke luar. Demikian, seorang pemimpin--berjiwa pancasilais--bagi saya harus memiliki tiga modal mendasar. Pertama, integritas, yakni menyoal mutu, sifat, kejujuran, dan kewibawaan karakter kepribadian yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Yang kedua, kapabilitas, yakni seorang pemimpin mesti memiliki kecakapan di suatu bidang tertentu. Ketiga, mobilitas, yakni memiliki kekuatan adaptif dalam mempersuasi keadaan dalam keterjalinan hubungan vertikal (Tuhan) maupun hubungan horizontal (sikap altruistik terhadap rakyat dalam menyangkut kebijakan).
Selanjutnya, apabila beberapa poin di atas sudah terpenuhi, baru seorang pemimpin kemudian merefleksikan pola kepemimpinannya dengan baik. Yakni, bagaimana keakuratan dalam penerapan langkah, cara dan, strategi seorang pemimpin ketika mengejahwantahkan visi kepemimpinannya.
Dan visi yang digagas itu, semestinya senapas dengan harapan, kegelisahan, maupun kebutuhan yang dimaui oleh publik. Intinya, pemuda harus belajar membiasakan diri menyelesaikan masalah-masalah yang tidak sederhana.***
Komentar
Posting Komentar