Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa
Dunia kampus amat berkesan dalam perjalanan hidup saya. Berbagai dinamikanya telah memperkaya perspektif saya tentang banyak hal. Belajar yang dulu saya anggap terbatas pada ruang kelas, ternyata keliru. Sebab kelas hanya bagian kecil dari proses untuk bertumbuh dan berkembang. Justru pergaulan dan kegiatan di luar kelas yang semakin mempercepat proses pematangan diri saya ketika menjadi mahasiswa seperti bagaimana cara berjejaring, memimpin massa, serta memperluas dialektika.
Kebetulan saya mahasiswa yang berasal dari kampung. Dalam satu peristiwa di awal perkuliahan semester satu, seorang dosen memberikan kesempatan kepada para mahasiswanya untuk berpendapat. Spontan saya angkat tangan. Nahasnya cara saya berargumen masih kacau. Ngomongnya belibet. Lalu teman-teman sekelas mentertawakan saya. Kejadian itu masih membekas hingga sekarang. Saya malu sekali. Tetapi dari momen itulah saya memilih berbesar hati dan mau belajar lebih keras lagi selama di kampus.
Akhirnya saya mau baca buku. Saya ikut organisasi. Saya juga sering berdiskusi. Dunia semacam ini jelas kontradiktif dengan perjalanan masa SMA saya yang amburadul. Perlahan saya merasa bertumbuh selama di kampus. Teman-teman kelas yang dulu meremehkan, lambat laun melihat perubahan signifikan dalam diri saya. Pada saat semester empat, saya dipercaya teman-teman kelas menjadi Ketua Pelaksana dalam kegiatan Seminar Nasional Hukum Adat dan Kriminologi. Pada saat yang sama, saya juga lolos seleksi Debat Politik Nasional Ke-IV di UNNES, Semarang mewakili Untirta. Walaupun tidak berhasil jadi juara, itung-itung jalan-jalan gratis. Hehehe.
Proses untuk bertumbuh ternyata tidak mudah, kerap kali malah menyakitkan. Tapi dari situlah kualitas diri kita akan ditentukan. Jika itu terlalu kasar disebut balas dendam, bagi saya itulah pembuktian terbaik. Maka jangan sekali-kali meremehkan siapapun. Bahwa setiap orang bisa bertumbuh jadi apapun.
Organisasi internal kampus adalah awal mula jejak karir saya dalam berorganisasi. Sebagaimana mahasiswa baru pada umumnya, setelah selesai mengikuti ospek tingkat universitas, fakultas dan jurusan, saya cukup antusias ikut Latihan Kepemimpinan Tingkat I sebagai syarat bergabung dalam Himpunan Jurusan. Pada periode pertama, saya hanya seorang Anggota di Departemen Advokasi. Kemudian di periode kedua, naik jabatan sebagai Kepala Departemen Sosial. Selain di Himpunan Jurusan, saya juga aktif di salah satu UKM Keolahragaan bernama KOMPI (Komite Olahraga Mahasiswa Pendidikan). Niat awal saya hanya untuk menyalurkan hobi dalam bermain volly. Setelah bergabung di KOMPI ternyata saya diberikan banyak kesempatan belajar. Saya pernah ditunjuk jadi Ketua Pelaksana kaderisasi anggota baru di KOMPI bernama BET 2017 (Basic Education Traning). Keterampilan organisasi saya pun makin terasah. Setiap minggunya saya cukup rutin ikut latihan volly di kampus. Dalam satu momen PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) yang diselenggarakan BEM FKIP Untirta 2017, jurusan saya PPKn berhasil menyabet juara 1 dalam kategori perlombaan voli putera. Tentu saya merupakan salah satu pemainnya. Hehe.
Lambat laun minat berorganisasi saya pun makin membuncah. Tanpa direncanakan, lalu saya ikut Pelatihan Legislatif sebagai syarat masuk lembaga legislatif kemahasiswaan. Tetapi setelah saya ikuti, ruang itu tidak cocok dengan kepribadian saya yang menyukai kebebasan. Kegiatan di lembaga legislatif menurut saya monoton. Alhasil sertifikatnya selama di kampus tidak pernah terpakai. Namun ilmu selama pelatihan, terutama tentang persidangan, alhamdulilah bisa memberikan manfaat di ruang yang lain.
Berproses di organisasi internal kampus membuat saya cepat bosan. Kegiatannya itu-itu saja. Alhasil selama dua semester berjalan, saya melakukan riset kecil-kecilan terhadap beberapa organisasi eksternal kampus. Bagi saya organisasi eksternal kampus lebih menarik, fleksibel, serta menggairahkan. Saking banyak organisasi eksternal kampus, saya sempat kebingungan memilih mana organisasi yang hendak saya ikuti. Pencarian itu berlangsung selama satu tahun.
Kemudian saya banyak mengikuti diskusi dengan beberapa organisasi eksternal kampus sebagai ikhtiar sebelum memantapkan pilihan. Saya sering ikut dalam diskusi yang diinisiasi GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Pernah juga ikut diskusi bersama kawan-kawan LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi). Komunikasi baik dengan salah senior FAM (Front Aksi Mahasiswa). Bahkan pernah sampai ikut Technical Meeting organisasi primordial kedaerahan Hamas (Himpunan Mahasiswa Serang). Tetapi pada akhirnya saya urungkan untuk bergabung. Ujung-ujungnya saya jatuh cinta dengan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Sebagai alumni santri kobong, PMII saya anggap ruang paling cocok dalam mengasah dialektika saya di kampus. Melalui PMII saya bisa terus sambil ngaji rutin malam jumat serta ngaji kitab kuning di masjid kampus, maulidan bareng, serta mengikuti kegiatan keagamaan yang lain seperti ziarah kubur. Bersama sahabat/i PMII juga saya berdiskusi banyak hal tentang berbagai ideologi dunia, isu kenegaraaan mutakhir, membangun gerakan, serta sambil berjuang amar makruf nahi munkar.
Memasuki semester 3 di pertengahan tahun 2017, saya akhirnya memutuskan ikut kaderisasi tingkat pertama Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) di PMII Untirta. Setahun aktif berkegiatan, di tahun 2018 saya kemudian melanjutkan kaderisasi tingkat kedua PKD (Pelatihan Kader Dasar). Setelah itu saya membulatkan hati mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua Rayon. Ada empat orang kader terbaik yang mencalonkan diri. Sialnya, saya terpilih. Sebab kata H. Agus Salim, Leiden is lijden, memimpin adalah menderita. Tentu amanah yang tidak mudah.
Sejak menjabat sebagai Ketua Rayon, aktivitas perkuliahan saya mulai berubah signifikan. Dunia saya diskusi, rapat, ngurusin umat, ngaji, sesekali demonstrasi serta ikut beberapa seminar. Jam tidur saya pun akhirnya kacau. Nilai akademik saya juga ambyar. Kesalahannya tentu ada pada diri saya sendiri. Harus diakui saya kurang cakap membagi prioritas. Pas jadi Ketua Rayon saya ditembak tiga orang anggota perempuan. Duh saya kelabakan. Saya tolak semuanya secara halus dengan alasan patuh terhadap AD/ART organisasi. Saya temuin mereka. Saya jelaskan pelan-pelan. Kalau diingat-ingat agak kocak memang. Hahaha.
Setelah lengser dari Ketua Rayon PMII FKIP Untirta Masa Khidmat 2018-2019, saya didesak beberapa Ketua Rayon lain untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Komisariat PMII Untirta. Kalau saja saya mau, otomatis jadi. Dari lima Rayon yang ada, tiga suara sudah saya pegang. Sehubungan saya mempertimbangkan beberapa hal, saya urungkan niat tersebut. Singkat cerita, saya kemudian hanya menjadi Sekretaris Komisariat PMII Untirta Masa Khidmat 2019-2020. Pertimbangan saya waktu itu supaya makin punya banyak waktu untuk mengurusi hal lain seperti penyelesaian tugas akhir dan KKM. Saya tidak mau lulus terlambat. Pergulatan organisasi sudah saya anggap cukup. Belum lagi dihadapan pandemi covid-19, kegiatan-kegiatan organisasi pun menjadi terbatas.
Keputusan tidak mencalonkan diri sebagai Ketua Komisariat dan juga membuang kesempatan untuk dicalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa Untirta menurut saya berbuah positif. Saya tidak menyesal sama sekali. Justru dengan waktu yang lebih longgar, saya manfaatkan untuk lebih mengasah keterampilan menulis saya di #Komentar. Keinginan saya waktu itu, ketika skripsi selesai, saya juga harus punya buku sendiri. Meskipun terealisasi Januari 2022 tetapi saya sangat bersyukur harapan itu akhirnya terwujud. Buku Suluh Literasi (2022) berhasil saya lahirkan. Di waktu senggang sebagai Sekretaris Komisariat itu juga, saya iseng ikut ajang perlombaan menulis tingkat Provinsi Banten yang diselenggarakan Perpustakaan Daerah Tahun 2019 dan kemudian berhasil meraih juara tiga. Alhamdulillah dapat hadiah 3,5 juta. Lumayan bisa beli handphone baru. Hahaha.
Momen yang paling tak terlupakan selama di Kepengurusan Komisariat adalah bisa memenangkan kontestasi Pemira (Pemilihan Umum Raya Mahasiswa). Salah satu kader terbaik PMII Untirta akhirnya terpilih menjadi Presiden Mahasiswa Untirta 2019. Kebetulan saya merupakan salah satu orang yang berjuang memenangkan kontestasi itu. H- sebulan dari hari pemungutan suara, saya dan beberapa sahabat/i memetakan peta politik sekaligus berkeliling mengkonsolidasikan berbagai kepentingan lintas organisasi, fakultas maupun jurusan. Alhamdulillah perjuangan itu tidak sia-sia. Kekalahan dan kemenangan mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa. Tetapi kemenangan waktu itu terasa spesial bagi saya karena selama kurun waktu tiga tahun berturut-turut kader PMII Untirta selalu kalah dalam pertarungan politik di tingkat universitas. Alhamdulillah saya bisa menjadi bagian dari catatan sejarah penting itu.
Kemenangan itu seperti menjadi puncak jawaban dari proses pencarian saya selama ini mengikuti organisasi eksternal kampus. Sempat ditawari jadi Menteri di Kepenguran BEM KBM Untirta 2019-2020 saya tolak. Ditawari untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Cabang PMII Kota Serang 2021 juga saya tolak. Saya merasa politik praktis bukan dunia saya. Hati saya tidak bisa menyatu sepenuhnya.
Saya hanya pengin terus menulis sampai kapanpun, menjadi pembelajar sepanjang hayat, serta bisa berbagi banyak hal. Alhasil saya berkesimpulan jalan itu hanya bisa saya temukan di dalam dunia pendidikan. Setelah lulus kuliah, akhirnya saya pun memilih menjadi seorang guru.
Komentar
Posting Komentar