Esai | Jejakmu Merahimi Kebangkitan
Pontang, 17 November 2020.
Mengapa anak panah bisa melesat jauh kedepan? Jawabannya tentu sederhana, karena disebabkan oleh karena adanya usaha daya tarik yang maksimal. Juga dalam menapaki jalan masa depan dengan penuh optimisme, barangkali alasan pendirian negara Indonesia perlu sesekali kita kembalikan lagi kepada pertanyaan mendasar.
Sejauh manakah bangsa kita belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu? Kemudian, harapan apa yang sesungguhnya hendak kita tuju? Kebahagiaan hidup bersamakah sebagaimana Bung Hatta katakan?
Berangkat dari rentetan pertanyaan itu, saya jadi teringat sebuah lagu anak-anak ciptaan Ibu Soed yang sangat populer itu, yang liriknya adalah;
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebar di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
Tentunya, lagu tersebut tidak asing dan pernah kita dengar bukan? Atau kita sendiri pernah menyanyikannya? Terlepas itu iseng-iseng ataupun tak sengaja mendengar sewaktu masa kanak-kanak dulu.
Sekarang, ditengah peradaban Indonesia mutakhir dengan segenap pernak-pernik pembangunan serta kemajuannya, apakah kita menemukan korelasi semangat kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia hari ini dengan semangat lirik lagu tersebut?
Terlebih, bilamana kita melihat fakta sejarah pendirian Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia -- atau dulu ketika pertama kali diinisiasi pendiriannya melalui Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 oleh K.H Abdurrahman Wahid bernama Departemen Eksplorasi Laut (DEL) -- pun terbilang masih seumur jagung baru didirikan.
Pertanyaannya, semenjak awal proklamasi kemerdekaan hingga masa orde baru berjalan, apakah potensi kemaritiman bangsa kita terabaikan begitu saja. Padahal, Bung Karno jauh-jauh hari berpesan betapa pentingnya "Jas Merah" atau belajar dari sejarah.
Sebab pada kenyataannya, selama orde lama dan orde baru berjalan, kerapkali fokus pembangunan bangsa kita masih terkonsentrasi hanya pada wilayah daratan semata.
Namun, bisa jadi berkat pesan yang disiratkan melalui lagu Ibu Soed itu, secara tidak langsung turut mengilhami gagasan Bapak Presiden Abdurrahman Wahid serta konsep Bapak Presiden Jokowi tentang Poros Maritim Dunia yang beliau sampaikan dalam acara KTT Asia Timur pada 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar.
Lantas, terlepas telat atau tidaknya, maksimal atau belumnya, kita patut bersyukur dengan langkah-langkah yang sudah dimulai untuk kemajuan bangsa. Tentu, tak lupa juga kepada jasa Ibu Soed atas buah karyanya.
Yang jelas, selain potensi kemaritiman dapat mendorong kekuatan ekonomi, barangkali Ibu Soed melalui karyanya hendak menyampaikan pesan moral yang mendalam kepada kita sebagai generasi penerus bangsa. Yaitu pesan tentang jati diri dan mentalitas bangsa pejuang. Kita adalah bangsa besar yang ditempa oleh jalan terjal pengalaman panjang.
Tak kalah penting. Kebesaran suatu bangsa juga tak hanya dinilai dari pengalamannya panjangnya, melainkan sebagaimana Bung Karno menegaskan pula tentang penghargaan kita terhadap segenap jasa para pahlawannya.
Nampaknya, dari sepenggal kisah diatas, penyakit amnesia kita terhadap sejarah kian serius dan mengkhawatirkan. Juga terhadap jasa para pahlawan, salah satunya hasil buah karya Ibu Soed saja barangkali kita menganggapnya tidak penting-penting amat.
Padahal, karyanya itu tidak sebatas lagu penghibur, melainkan pesan penting bahwa jalan masa depan kita sebenarnya telah kabur.
Terimakasih Ibu Saridjah Niung, dengan mati engkau abadi.
Komentar
Posting Komentar