Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Esai | Mengambil Tantangan Di Tengah Keterbatasan

Suasana Ramadhan 1441 Hijriyah tahun ini terasa berbeda dengan biasanya, terlihat aktivitas publik dibeberapa kota dan negara didunia terpaksa harus dibatasi dalam upaya meminimalisir persebaran pandemi coronavirus — khususnya di wilayah-wilayah yang ditandai sebagai zona merah penularan. Akibatnya, supermarket menjadi ditutup, minimarket dibatasi, kafe-kafe menjadi sepi, bahkan sampai tempat peribadatan umat beragama dihimbau untuk sementara waktu dikosongkan, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Padahal, momentum Ramadhan biasanya disambut meriah melalui berbagai produk budaya yang bermunculan — salah satunya, seperti agenda buka bersama bareng saudara, kolega maupun pacar. Nahasnya, pada Ramadhan kali ini, jangan kan mengadakan agenda buka bersama disuatu tempat tertentu, melainkan semua orang harus menjaga keselamatan diri beserta orang lain sebagai keutamaan nomor satu. Kini, berbagai kegiatan manusia menjadi sangat terbatas dan tidak bebas. Pekerjaan dilakukan dirumah, pe...

Esai | Sedekah Kepemimpinan

Selama menjalani proses perkuliahan, saya dihadapkan berbagai dinamika kehidupan yang serba baru. Perbedaan suasana pembelajarannya, iklim pergaulannya serta cuaca keorganisasian dikampusnya yang cenderung dinamis dan lebih asyik. Alhasil proses penemuan diri terus menerus dipacu. Hingga tiba pada suatu kesimpulan, ternyata proses belajar bukan dipersempit hanya sebatas rutinitas juknis datang dan pulang selama perkuliahan. Sastrawan Ahmad Mustofa Bisri pun menegaskan, “Bagiku guru bisa siapa aja. Minimal untuk diriku sendiri, siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada seseuatu darinya yang bisa aku GUgu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiRU (contoh). Boleh jadi kalian, atau diantara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang”. Khususnya membahas dunia organisasi, budaya saling tolong menolong teramat sering saya temukan. Alasannya memang jelas, sebab dalam organisasi semua orang didalamnya digerakan oleh satu visi yang sama, sehingga inisiatif berju...

Esai | Akselerasi PMII Terhadap Perubahan

Oleh : Ray Ammanda Bulan April adalah momen istimewa bagi sahabat/i disegala penjuru Indonesia—khususnya bagi saya. Tepat 17 April 1960 adalah noktah gagasan besar mulai digoreskan, dimana sebuah organisasi kemahasiswaan lahir dengan mengusung perpaduan antara nuansa keislaman dan ke-Indonesiaan. Sebagai suatu langkah ikhtiar ikut serta merawat, mewarisi dan menjaga integritas kebangsaan yang majemuk. Singkat cerita, semenjak tahun 2017 awal mengikuti Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) hingga sekarang, sebenarnya saya belum pantas apabila membicarakan seluk beluk PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Semisal menguliti bagaimana karakter organisasinya, landasan ideologinya serta daya juang gerakannya. Tentu masih perlu banyak belajar. Kalaupun tau, ya cuma sedikit-sedikit dari berbagai penuturan, pendoktrinan, pengalaman, maupun hasil sublimasi pemikiran beberapa senior, diskusi-diskusi insidental maupun buku-buku terkait. Alhasil, tulisan ini dipersembahkan sebagai bagian...

Esai | Blusukan Coronavirus

Terhitung dalam tempo waktu sebulan lebih pandemi coronavirus sudah berhasil "blusukan" ke seluruh provinsi di Indonesia. Kurang lebih, mirip-mirip gaya kepemimpinan pakde-lah yah. Adapun perbedaannya, hanya terletak pada antusias masyarakatnya saja. Sederhananya begini, blusukan coronavirus sama sekali tidak diinginkan, tidak ditunggu bahkan tidak diharapkan. Sedangkan blusukan Pak Jokowi jelas dirindukan oleh banyak orang--khususnya bagi warga pinggiran kota dan warga pelosok pedesaan. Lewat gaya blusukannya, lumayan bisa membuat sebagian masyarakatnya sedikit menyunggingkan senyum. Tetapi blusukan coronavirus malah justru membuat berbagai asumsi, spekulasi dan kecemasan. Selanjutnya, pola pendekatan blusukan sendiri termasuk kedalam satu tindakan yang cukup serius. Umpamanya, seorang pemimpin terjun langsung ke suatu tempat untuk mengetahui sesuatu secara objektif. Apabila demikian, blusukan coronavirus pasti memuat unsur maksud dan tujuan bukan? Lantas sebagaimana...

Esai | Preseden Kepemimpinan

Ada suatu kekhawatiran yang serius, manakala kisah-kisah inspiratif kepemimpinan mengendap sebagai abu masa lalu, tanpa pernah kita menggali serta menyalakan api keteladanannya. Sementara, wacana prasangka, distrust bahkan maraknya budaya “berkomentar” tanpa dasar argumentasi akhir-akhir ini mewabah di berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, akibat dari pada iklim tidak sehat di ruang-ruang publik. Apalagi menyoroti dari pada pengaruh media sosial yang rentan penyakit kebohongan, disinformasi bahkan mengarah pada perpecahan. Lantas, pentingnya menelusuri preseden kepemimpinan adalah sebuah upaya kontemplatif bersama agar seluruh generasi muda Indonesia punya inisiatif untuk meneliti, menggali serta meneladani kisah-kisah spektakuler para pemimpin. Terlebih, dalam menjalani kehidupan mutakhir arus digitalisasi, kita semua musti mewaspadai potensi halusinasi narkoba “zona nyaman” yang menumpulkan imaji serta kreatifitas. Musabab, pola pikir dan perilaku—khususnya anak muda...

Esai | Pendidikan Sebagai Vaksin Zaman

Gambar
Sumber Ilustrasi : ibtimes.id Pendidikan merupakan salah satu hak yang sudah digaransikan Undang Undang Dasar 1945--terdapat dipasal 31--terhadap warga negara Indonesia. Artinya, bagi saya, spirit undang-undang dasar tersebut sudah merefleksikan nilai-nilai kedewasaan suatu bangsa dalam memandang pentingnya pendidikan. Redaksi kalimatnya jelas, tidak diskriminatif, eksploitatif dan jauh dari kecenderungan partikular. Jadi, kaum hawa tak perlu lagi merasa gusar. Perempuan juga punya peran. Didesak perubahan zaman, pemerataan akses dan keterbukaan peluang dalam mengenyam bangku pendidikan, perempuan hendak didorong menjadi manusia merdeka sebagaimana mestinya. Yang tidak lagi berkutat stagnan pada wilayah-wilayah privat, melainkan dituntut semakin percaya diri tampil dipanggung publik yang lebih luas. Dengan dibekalinya fondasi pendidikan, perempuan juga diharapkan semakin menyadari peranannya--sebagai manusia, sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai bagian dari suatu kelompok d...

Esai | Tragedi Virus Corona dan Komedi Mahbub Djunaidi

Sejak awal bulan tahun 2020, dunia diramaikan berita wabah Virus Corona atau Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China. Penulis yang termasuk golongan awam merasa heran, bengong dan kebingungan. Kemudian, terlintas dalam pikiran, “ternyata makhluk sekecil virus bisa sangat gampang dan seenaknya membuat geger, gaduh dan gempar orang-orang sedunia.” Sampai-sampai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional menetapkan bahwa virus corona adalah salah satu wabah pandemi, membahayakan serta berakibat pada kematian seseorang. Dan hampir seluruh negara di dunia, dibuat kalang kabut bagaimana menghentikan persebaran serta memikirkan upaya-upaya preventif dari kenakalan virus tersebut. Lain hal dengan Indonesia, terlihat santai menanggapinya. Contohnya, bisa terlihat dari beberapa akun medsos masyarakat yang berlaku kerap lelucon. Yang kesimpulannya, jelas-jelas sangat kontradiktif...

Esai | Siapa korban?

Mahasiswa baru, seperti pada umumnya, selalu dibikin girang oleh berbagai hiburan diwaktu Masa Orientasi Kampus tiba. Salah satunya, diakibatkan perilaku seorang kaka tingkat. Momentum Ospek biasanya menjadi wahana yang tepat guna menyalakan spirit idealisasi terhadap adik-adik baru, melalui mandataris Agen Of Change, Social Control dan sekaligus benih harapan Iron Stock. Sehingga pelabelan yang melekat pada mereka malah membuat mereka sendiri--mahasiswa baru--menjadi kalap dikemudian hari. "Kemarin, apasih yang sebenarnya kita perjuangkan?" Sesal salah seorang mahasiswa tingkat akhir sekaligus korban kaka tingkat. Ia merasa gelisah dan melanjutkan, "Apakah perjuangan tentang penyelesaian masalah yang sebenarnya kita sendiri adalah salah satu sumber masalah. Apakah pembelajaran tentang bagaimana strategi menindas dengan pretensi melawan. Toh setelah disadari, kita tak lain seperti laiknya bunglon. Sesekali kalo berkepentingan berwatak revolusioner dijalan, bahkan--ma...

Esai | Sportivitas Kaderisasi

Oleh : Ray Ammanda Kita tentu tak merasa asing mendengar istilah kaderisasi. Dan biasanya, menyinggung perihal kaderisasi kebanyakan orang lebih cenderung mengaitkan dengan dunia pengaderan. Baik dalam tubuh organisasi, partai politik, sekolah, dunia kerja, kehidupan jalanan serta berbagi makhluk garis turunannya. Memang tidak juga keliru apabila di lihat dari kacamata terminologi. Secara sempit ia mengandung pemaknaan terbatas ihwal pengaderan, perekrutan bahkan—maaf—kepentingan. Tetapi mari sesekali kita tengok pemaknaan kaderisasi secara luas. Minimal kita semua dapat mengambil nilai positifnya. Sehingga setiap institusi persekolahan, dunia kerja, ormas atau apapun saja tidak bersikap adigang-adigung-adiguna karena—merasa—memiliki hak atas setiap anak murid dan atau anggota untuk di cetak menjadi keluaran produk yang sama. Pada akhirnya, kedaulatan pilihan harus tetap di pertahankan oleh setiap orang. Maksud saya begini, betapa sangat tidak fair apabila seseorang bisa di berikan k...

Esai | Angkot Kemanusiaan

Oleh : Ray Ammanda Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di saat saya sedang tertimpa musibah—kehilangan sepeda motor—yang pada akhirnya keadaan tersebut “memaksa” saya untuk kembali menaiki angkot demi menuju tempat kuliah. Sebab di sisi yang lain, daerah tempat tinggal—orang tua saya—sama sekali belum terjamah wabah modernisasi transportasi online. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain menggunakan jasa transportasi konvensional tersebut. Perasaan terpaksa saya tentu beralasan. Noraknya, seringkali saya merasakan suasana “tidak enak”, seperti gejala kepala pusing dan mual secara tiba-tiba. Lantaran, kondisi demikian sangat dilematis bagi orang “mabokan” macam saya. Tapi sebenarnya, mau transportasi konvensional maupun online sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh terhadap mental “mabokan” saya. Kampungan banget kan. Meskipun saya masih merasakan ketidaknyamanan sewaktu menaiki angkot. Tetapi kali ini, benar-benar harus saya paksakan. Alasan pertama, tidak mau merepotkan handai tola...

Esai | Merawat Arti Syukur

Setiap pergulatan; batin, pikiran, pengalaman atau peristiwa apapun saja selalu berusaha ku tuturkan lewat kata atau--minimalnya--ku simpan baik-baik dalam memori ingatan. Dengan harapan, kapan pun dan dimana pun senantiasa menjadi relevansi bahan pembelajaran, minimal untuk si penulis sendiri bukan? Sebagai manusia yang mempercayai keberadaan tuhan, saya musti percaya serta meyakini 3 hal ketentuan; pertama, datangnya kematian. kedua, ihwal jodoh. terakhir, menyoal kelimpahan rezeki. Ibu sering kali menasihatiku dengan lembut, tak bosan-bosan. Kurang lebihnya begini, "Ray, jangan tinggal sholat sesibuk apapun. Apalagi untuk ngurusi hal-hal yang sifatnya duniawi". Ayah pun sama, berulang kali mengatakan "Ingat, kita semua bakal kembali". Ternyata, setelah di pikir-pikir, kesadaran tentang kepastian berpulang tersebut sudah sejak dini di tanamkan oleh orang tua saya--bahkan oleh semua orang tua se-dunia. Maka tak heran apabila kita semua senantiasa di ingatkan untu...