Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Esai | Sportivitas Kaderisasi

Oleh : Ray Ammanda Kita tentu tak merasa asing mendengar istilah kaderisasi. Dan biasanya, menyinggung perihal kaderisasi kebanyakan orang lebih cenderung mengaitkan dengan dunia pengaderan. Baik dalam tubuh organisasi, partai politik, sekolah, dunia kerja, kehidupan jalanan serta berbagi makhluk garis turunannya. Memang tidak juga keliru apabila di lihat dari kacamata terminologi. Secara sempit ia mengandung pemaknaan terbatas ihwal pengaderan, perekrutan bahkan—maaf—kepentingan. Tetapi mari sesekali kita tengok pemaknaan kaderisasi secara luas. Minimal kita semua dapat mengambil nilai positifnya. Sehingga setiap institusi persekolahan, dunia kerja, ormas atau apapun saja tidak bersikap adigang-adigung-adiguna karena—merasa—memiliki hak atas setiap anak murid dan atau anggota untuk di cetak menjadi keluaran produk yang sama. Pada akhirnya, kedaulatan pilihan harus tetap di pertahankan oleh setiap orang. Maksud saya begini, betapa sangat tidak fair apabila seseorang bisa di berikan k...

Esai | Angkot Kemanusiaan

Oleh : Ray Ammanda Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di saat saya sedang tertimpa musibah—kehilangan sepeda motor—yang pada akhirnya keadaan tersebut “memaksa” saya untuk kembali menaiki angkot demi menuju tempat kuliah. Sebab di sisi yang lain, daerah tempat tinggal—orang tua saya—sama sekali belum terjamah wabah modernisasi transportasi online. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain menggunakan jasa transportasi konvensional tersebut. Perasaan terpaksa saya tentu beralasan. Noraknya, seringkali saya merasakan suasana “tidak enak”, seperti gejala kepala pusing dan mual secara tiba-tiba. Lantaran, kondisi demikian sangat dilematis bagi orang “mabokan” macam saya. Tapi sebenarnya, mau transportasi konvensional maupun online sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh terhadap mental “mabokan” saya. Kampungan banget kan. Meskipun saya masih merasakan ketidaknyamanan sewaktu menaiki angkot. Tetapi kali ini, benar-benar harus saya paksakan. Alasan pertama, tidak mau merepotkan handai tola...

Esai | Merawat Arti Syukur

Setiap pergulatan; batin, pikiran, pengalaman atau peristiwa apapun saja selalu berusaha ku tuturkan lewat kata atau--minimalnya--ku simpan baik-baik dalam memori ingatan. Dengan harapan, kapan pun dan dimana pun senantiasa menjadi relevansi bahan pembelajaran, minimal untuk si penulis sendiri bukan? Sebagai manusia yang mempercayai keberadaan tuhan, saya musti percaya serta meyakini 3 hal ketentuan; pertama, datangnya kematian. kedua, ihwal jodoh. terakhir, menyoal kelimpahan rezeki. Ibu sering kali menasihatiku dengan lembut, tak bosan-bosan. Kurang lebihnya begini, "Ray, jangan tinggal sholat sesibuk apapun. Apalagi untuk ngurusi hal-hal yang sifatnya duniawi". Ayah pun sama, berulang kali mengatakan "Ingat, kita semua bakal kembali". Ternyata, setelah di pikir-pikir, kesadaran tentang kepastian berpulang tersebut sudah sejak dini di tanamkan oleh orang tua saya--bahkan oleh semua orang tua se-dunia. Maka tak heran apabila kita semua senantiasa di ingatkan untu...