Esai | Membumikan Ide Kembali

Pontang, 10 Juni 2021.

Berbagi pengalaman maupun pemikiran kepada banyak orang memang upaya yang positif. Hal demikian, salah satunya bisa dilakukan dengan cara membagi cerita-cerita kita melalui sebuah tulisan.

Disamping dalam rangka berbagi pengalaman maupun pemikiran, menulis juga bisa sangat bermanfaat sebagai self-healing atau penyembuhan diri. Biasanya, mencari teman curhat yang sefrekuensi tentunya tidak mudah bagi sebagian orang.

Maka, salah satu cara jitu untuk curhat ialah dengan menulis keresahan kita sendiri. Insyaallah, semua beban masalah yang sedang kita alami sedikitnya bakal terasa lebih 'plong' bila diungkapkan. Ihwal dibagikan tidaknya tulisan tersebut, tentu bergantung si penulis itu sendiri.

Kita tahu, bahwa sifat ide/gagasan memang abstrak bilamana tidak di kebumi-kan ke alam realitas pelaksanaan. Namun, jangan pernah meremehkan ide. Musabab, ide berperan sangat penting dalam setiap langkah dan pencapaian suatu pelaksanaan. Tanpa ia, pelaksanaan hanya sebatas seremonial tak membawa kesan apa-apa. Ide mampu menawarkan dan membawa 'aura' yang lain di alam pelaksanaan. Dengan kata lain, bahwa setiap ide, diharuskan berjalan beriringan dengan pelaksanaan.

Selain dapat dicerna dengan mudah, tulisan sendiri sangat berguna untuk mendokumentasikan, mensistematiskan, serta memberi peluang terhadap perbaikan-perbaikan ide dikemudian hari.

Tak sedikit, banyak orang kebingungan ketika memulai untuk menulis. Kebanyakan, gangguan yang muncul pertama ialah menyangkut urusan-urusan teknis. Menyangkut kebingungan hendak menuliskan tentang apa, bagaimana menentukan ketepatan temanya, sistematika penulisannya, serta maksud dan tujuan dari isinya. Hampir banyaknya keluhan seseorang memulai menulis biasanya terjadi pada lekukan kegelisahan diatas.

Sebenarnya simpel, menulis dapat kita pahami sebagai pekerjaan berbagi. Saya yakin bahwa semua orang bisa berbagi. Namun, seorang penulis diusahakan mampu mengajak para pembacanya memasuki rumah-rumah kegembiraan, ruang-ruang kesedihan, serta kamar-kamar yang menggugah kesadaran.

Melalui sebuah tulisan, artinya kita menebar benih-benih pikiran kepada orang lain. Kesemuanya tentu bermuara pada sebuah pesan kebaikan maupun keburukan. Dan pembaca memiliki kedaulatan untuk menginternalisasi, mengolah serta menafsirkan setiap tulisan tersebut.

Namun, bilamana kita mengamati fenomena perkembangan whatsapp mutakhir, banyak teman sekontak saya memanfaatkan kemudahan tersebut sebagai sarana berbisnis, medium untuk pamer, serta banyak juga yang dimanfaatkan sebagai tempat curhat.

Yang menarik bagi saya, sangat terhitung dari banyaknya teman sekontak itu, bila membuat snapp whatsapp yang membawa dampak positif kepada saya sebagai orang yang melihatnya. Apalagi dampak positif, hal-hal yang membawa kegembiraan pun jarang saya temui. Misalnya, membuat snapp bernada guyon, misalnya.

Justru yang sering saya temu kebanyakan berisi hal-hal serius. Terutama, keluhan serius mengenai urusan kehidupannya masing-masing. Tentu bagi sebagian orang, dalam hal ini termasuk saya, fenomena demikian membawa ketidaknyamanan.

Bukan berarti tidak boleh mengeluh. Tetapi maksud saya, seharusnya keluhan Anda sebisa mungkin dapat diolah menjadi energi positif untuk orang-orang disekeliling Anda. Sederhananya, biar orang lain belajar dari masalah yang sedang Anda hadapi. Bukan sebaliknya, malah terus-terusan berbagi 'pesimisme'. Ingat, setiap orang juga punya masalahnya sendiri-sendiri kok.

Artinya, dalam dunia tulis-menulis juga rasanya diperlukan sebuah batasan-batasan. Tidak semua hal, apalagi semua dapur masalah pribadi Anda, diekspresikan secara 'fulgar' kepada banyak orang. Lain halnya bila tulisan 'privasi' tersebut hanya di arsipkan secara pribadi.

Jadi, bisa dikatakan bahwa tujuan setiap orang menulis sangat bermacam-macam motifnya. Ada yang hanya sekadar curhat kehidupan pribadi, ada yang berbagi pemikiran kreatif, ada yang hendak mewacanakan isu terntentu, juga tak sedikit yang berorientasi untuk peningkatan eksistensi diri dan menjadi sumber mata pencaharian. Semuanya sah-sah saja. Tidak menjadi persoalan.

Namun, dalam dunia kepenulisan, alangkah lebih positif dari apa yang kita tulis juga dapat di pertanggungjawabkan dalam perilaku kehidupan kita sehari-hari. Hal sederhana ini juga yang barangkali kebanyakan orang, khususnya para penulis sendiri lupakan.

Bagi saya, pemberlakuan tanggung jawab tersebut berlaku dalam bentuk tulisan katogeri apapun, baik akademis maupun non-akademis. Jangkan tulisan yang menurut ukuran tertentu dianggap layak sistematika penulisannya, kekuatan argumentasinya, kekayaan referensinya, maupun karena dicap 'mengancam' oleh pihak-pihak tertentu, bahkan tulisan yang dianggap tidak layak berdasarkan kriteria itu pun, sama halnya dibebani konsekuensi pertanggungjawaban.

Alasannya, setiap tulisan pada dasarnya masih masuk pada wilayah ilmu, maka bentuk pertanggungjawaban setiap tulisan semestinya harus bisa membumi pada wilayah-wilayah amal atau perbuatan. Tidak usah jauh-jauh, seminimalnya untuk penulisnya sendiri.

sejauh pemahaman saya, itulah definisi seorang penulis yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru