Esai | Mengeja Abjad dan Membaca Kebudayaan

Pontang, 19 Juli 2021.

Bermula dari abcdefghijk.. dan seterusnya, terjadilah persambungan silaturahim diantara mereka. Hingga kemudian membentuk olahan kata, aneka menu kalimat, beragam hidangan bahasa dan kemudian menjadi bermacam-macam cita rasa budaya.

Setiap masing-masing dari sebuah huruf sebetulnya memiliki karakter dan keistimewaan. Persis seperti kita sebagai manusia. Syarat utama untuk menyadarinya, tentu saja setiap huruf atau kita dianjurkan untuk bekerjasama dengan huruf/manusia yang lain. Melalui keterjalinan tersebut, kita akan mampu melukis kata dan makna dari adanya semangat kerjasama.

Alhasil, setiap konektivitas huruf sebetulnya bisa menjadi energi kebaikan. Sebaliknya, bisa juga memicu kemudharatan. Bergantung pada bagaimana niat dan maksud yang menorehkan.

Seiring laju perubahan, kemudahan untuk memperoleh informasi sudah sedemikian mudah kita dapat melalui genggaman tangan. Ironinya, cepatnya persebaran informasi sendiri malah menjadi gelegar petir kekhawatiran. Hujan deras kata, nampaknya tak serta merta membawa keberkahan. Hoaks. Kebencian. Permusuhan. Dewasa ini, lebih sering kita dengar secara terang-terangan maupun secara 'kreatif' tersebar di balik layar.

Kebebasan tersebut, semakin nyata membuka peluang pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk semakin 'canggih' dalam memanipulasi, memperkeruh situasi, bahkan kerap memantik emosi publik melalui penyalahgunaan kata-kata.

Masalahnya, apakah disebabkan faktor ketidakmengertian kita terhadap hakikat sebuah huruf?

Hingga kemudian kita dengan sangat 'sembarang' menggunakannya, keliru memanfaatkannya, tidak tepat penggunaannya, dan hilirnya memantik bahasa keributan dan penghancuran satu sama lain.

Atau, apakah sebenarnya manusia telah kehilangan 'rasa syukur' dengan sudah dikenalkannya rentetan abjad sebagai medium komunikasi dan silaturahmi?

Hingga kemudian timbul 'penyakit' kelesuan mengeja tulisan, ketidakwaspadaan membaca tulisan, serta ketidakcermatan memeras hikmah dari banyak tulisan.

Padahal, kita semua tahu bahwa membaca merupakan tuntunan utama manusia dalam mengarungi lika-liku kehidupan.

Bukankah bangunan peradaban manusia dengan segala hiruk-pikuknya, seperti ekspresi pembangunan, persilangan budaya dan pemikiran, bahkan penghayatan dalam beragama, juga disangga amat vital oleh kesadaran membaca?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru