Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Esai | Tahun Baru Peremajaan

Tak terasa, sebentar lagi fajar pengharapan 2020 bakal menyingsing. Alhamdulilahnya, kita bisa ketemu lagi dengan—suasana, nuansa serta cita rasa—momen tersebut. Setelah saya iseng-iseng mikir, sebenarnya seseorang yang bangun tidur pun tak jauh berbeda dengan momen pergantian tahun, yakni sama-sama memberi gairah kesegaran. Dimana segenap energi telah kembali di kumpulkan. Setelah tertidur pulas, apalagi dengan nada “ngorok” serampangan. Tapi bedanya, tahun baru mengingatkan pesan agar kita semua merefresh kembali ingatan, mengakui sekaligus membenahi segala peristiwa masa lalu yang akumulasi sifatnya “tahunan”, bukan lagi “harian”. Kendati, tahun baru harus di maknai sebagai momen refleksi, sekaligus rileksasi. Tiba-tiba, tiga hari sebelum malam tahun baru berganti, tepatnya ba’da maghrib. Saya ketiduran yang kemudian hanyut bermimpi. Dalam mimpi tersebut, saya bertemu bahkan sempat berdiskusi agak serius dengan seseorang. Sebut saja si Udin.  Kurang lebih pembahasan diskus...

Esai | Sumpah, saya Pemuda!

Surplus Bicara, Malas Mendengar Menyaksikan gerak iklim ketidakmenentuan zaman. Gaungan globalisasi nampaknya menjadi satu idiom kegembiraan, sekaligus ketakutan yang sedang di hadapi oleh seluruh umat manusia. Oleh karena, segala macam bentuk perubahan nyatanya tidak serta merta berdampak kemaslahatan. Malah, bisa sangat memungkinkan bermuara kemudharatan. Ibarat perlintasan jalan, zaman yang sedang kita lewati hari ini begitu disesaki orang. Semuanya, memiliki kedaulatan akses yang luas sekalipun tanpa alat pengamanan, dalam mengisi ruang-ruang keilmuan, berkompetisi satu sama lain maupun dalam berdakwah keagamaan. Sehingga, potensi kecelakaannya sangat besar. Terlihat dari bagaimana terjadinya suatu gejala “sakit sosial” di sepanjang perlintasan media sosial. Sebagaimana penuturan Direktur Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (bareskrim) Polri Brigjen Rachmad Wibowo bahwa sepanjang tahun 2018 setidaknya ada 3.000 akun yang di deteksi Polri secara aktif menyebarkan ujaran keb...

Esai | Suluh Literasi dari Serang Utara

Oleh : Ray Ammanda Sastrawan masyhur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata:“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis ialah bekerja untuk keabadian”. Quotes tersebut menyentuh, merangsang dan mendorong saya untuk terus menekuni keterampilan menulis. Biasanya, seseorang yang piawai menulis pasti juga memiliki kemampuan public speaking yang baik. Salah satu contoh sosok yang sangat nyata adalah Encep Abdullah, penulis, pendiri, sekaligus penggerak #Komentar (Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa). Meskipun dalam keanggotaan saya masih terbilang anak kemarin sore, #Komentar—sebagai rumah belajar bersama—bisa memberikan “keteduhan” di tengah “kegersangan” kehidupan modern yang cenderung individualis-pragmatis ini. Sederhananya, #Komentar menjadi salah satu wahana dalam membangun ikatan “deduluran” antarwarga Pontang dan sekitarnya. Bisa saya amati pada setiap Minggu sore, berbagai kalangan li...