Esai | Mengambil Tantangan Di Tengah Keterbatasan

Suasana Ramadhan 1441 Hijriyah tahun ini terasa berbeda dengan biasanya, terlihat aktivitas publik dibeberapa kota dan negara didunia terpaksa harus dibatasi dalam upaya meminimalisir persebaran pandemi coronavirus — khususnya di wilayah-wilayah yang ditandai sebagai zona merah penularan. Akibatnya, supermarket menjadi ditutup, minimarket dibatasi, kafe-kafe menjadi sepi, bahkan sampai tempat peribadatan umat beragama dihimbau untuk sementara waktu dikosongkan, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Padahal, momentum Ramadhan biasanya disambut meriah melalui berbagai produk budaya yang bermunculan — salah satunya, seperti agenda buka bersama bareng saudara, kolega maupun pacar. Nahasnya, pada Ramadhan kali ini, jangan kan mengadakan agenda buka bersama disuatu tempat tertentu, melainkan semua orang harus menjaga keselamatan diri beserta orang lain sebagai keutamaan nomor satu.

Kini, berbagai kegiatan manusia menjadi sangat terbatas dan tidak bebas. Pekerjaan dilakukan dirumah, pembelajaran dilakukan dirumah, bisnis dilakukan dirumah, serta beberapa bentuk kegiatan yang lazimnya dilakukan manusia diluar rumah, sekarang mau tidak mau harus dilakukan didalam rumah.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, bagaimana nasib beberapa saudara kita — para gelandangan, pengamen, kuli pasar, tukang parkir serta segala jenis turunannya — agar bisa bertahan ditengah situasi dan kondisi seperti ini?

Terlebih, konsekuensinya cukup nyata dan jelas. Apabila mereka tetap melakukan aktivitas diluar rumah, kekhawatiran potensi terinfeksi maupun penularan terhadap orang lain menjadi lebih mudah, cepat dan gampang. Sementara disisi yang lain, apabila mereka tetap dirumah, bagaimana upaya pemenuhan kebutuhan kesehariannya?

Maka, disamping semua orang berada pada posisi dilematis, keadaan ini pun tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhir. Meminjam ungkapan Emha Ainun Nadjib — manusia bertempat tinggal dibagian dari alam semesta yang bernama “semoga” atau “mudah-mudahan”, ilmunya bersifat “insyaallah” dan puncak pengetahuannya adalah “wallahu a’lamu bis-shawab”.

Alhasil, berangkat dari kegelisahan tersebut, alhamdulillah sebagian orang, kelompok, maupun negara akhirnya tergerak untuk mau menyerukan, mengajak, serta membangun solidaritas kemanusiaan diberbagai penjuru dunia.

Sampai-sampai, seorang anak kecil berusia 9 tahun bernama Mochamad Hafid ikut tersentuh hatinya akibat pemberitaan ditelevisi tentang kelangkaan masker dan APD (Alat Pelindung Diri) bagi para tenaga medis. Akhirnya, ia berinisiatif menyumbangkan uang pecahan koin tabungannya senilai 453.300,- melalui Polsek Dayeuhkolot, Bandung. Yang patut diapresiasi ialah ketulusannya, sikap empatinya, bukan seberapa banyak nominalnya.

Ditambah lagi, aksi kemanusiaan yang diinisiasi oleh para relawan, salah satunya ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang melakukan Operasi Makanan Gratis bagi para pekerja harian, seperti pengemudi ojek daring, sopir angkot, pedagang kaki lima, juga petani hampir dipuluhan kota dan kabupaten di Indonesia.

Selanjutnya, aksi gotong royong dalam skala negara, bisa terlihat dari pernyataan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi ketika awal pekan bulan April, beliau menjelaskan bahwa ada beberapa negara yang turut membantu Indonesia dalam penanganan pandemi coronavirus terutama menyangkut penambahan alat kesehatan. Beberapa negara diantaranya ialah Jepang, Amerika, Singapura, Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, Australia dan Uni Emirat Arab.

Tentu ada banyak contoh gerakan kemanusiaan yang lain. Namun, hal yang hendak penulis sampaikan, ketika melihat eskalasi korban positif coronavirus sampai sejauh ini yang tak kunjung mereda, apakah gerakan-gerakan tersebut akan tetap survive dan tahan lama?

Sederhananya, masing-masing orang juga tidak akan selalu bersikap share, melainkan memerlukan saving. Oleh karena, penulis sendiri menyadari, bahwa seluruh lapisan dan kalangan sama-sama merasakan kesulitan, kekhawatiran, bahkan kebingungan terutama akibat ketidakseimbangan supply dan demand.

Dengan demikian, ditengah ketidakmenentuan situasi seperti ini, beruntunglah umat manusia — khususnya, umat Islam — seluruh dunia masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan. Musabab, nilai-nilai yang direfleksikan Ramadhan memuat tentang dasar-dasar kehidupan. Kita semua akhirnya diingatkan kembali tentang fitrah kita sebagai manusia — sekalipun Anda pejabat negara, sastrawan, kiai, dokter, serta berbagai kepangkatan dan posisi lainnya — tetapi kita hanya dianjurkan untuk lulus sebagai manusia dihadapan Tuhan.

Dengan begitu, manusia sebagai seorang Khalifah Fil Ard atau wakil tuhan dimuka bumi, dibebani tugas untuk menjaga, mengelola serta berlaku kreatif lantaran sudah dianugerahi akal budi dan nurani.

Ditengah shock theraphy yang dahsyat ini, kita harus mengambil posisi sebagai decision maker — ungkap penulis Sabrang Mowo Damar Panuluh. Meskipun, fase seseorang dalam menghadapi krisis akan terlebih dulu menghadapi dua tahap. Pertama, menjadi korban. Kedua, mengambil tantangan. Semakin cepat orang beralih ke tahap kedua, maka semakin mampu menghadapi keadaan. Melihat kondisi sekarang, kita semua dipaksa memasuki tahap kedua tersebut.

Kemudian, menurut hemat penulis, sikap mengambil tantangan bisa ditempuh melalui kekuatan solidaritas yang lebih luas — tidak terbatas keperdulian kasat mata. Seyogianya kita bisa mengambil hikmah dari semangat ke-fitri-an Ramadhan diatas agar bisa diterapkan berdasarkan skala konteks dan ruang yang mungkin berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama — ikhtiar agar lulus sebagai manusia.

Pertama, posisi Anda sebagai warga negara diharapkan mampu membangun solidaritas untuk bisa tertib menjalankan kebijakan-kebijakan para pemimpin dalam skala lokal, regional, maupun nasional. Kerja sama yang baik harus ditunjukan oleh kedua belah pihak.

Kedua, posisi Anda sebagai masyarakat beragama, diwajibkan untuk membangun solidaritas tetap saling tolong menolong sesama saudara seagama maupun sebangsa, minimalnya dilakukan pada wilayah-wilayah terdekat semacam tetangga.

Ketiga, posisi Anda sebagai masyarakat modern yang bersentuhan dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi, sangat dibutuhkan komitmen solidaritas untuk menjaga kondusifitas informasi dijagad maya. Jangan sampai, ditengah situasi seperti ini, segelintir kelompok kepentingan menyulut sekam provokasi dan kebencian. Kita harus solid meng-counter tindakan-tindakan subversif tersebut.

Lantas, sepemahaman saya, melalui bangunan kesadaran solidaritas diatas, kita semua sudah cukup ikut andil dalam mengambil sebuah tantangan. Akhirnya, kita tidak terus-menerus berposisi sebagai korban yang selalu menunggu datangnya pertolongan. Pun, lewat akumulasi kekuatan solidaritas tersebut diharapkan kita semua bisa saling mengamankan, menolong dan menyelamatkan.

Jadi, apabila dikorelasikan dengan beberapa hastag yang bermunculan di media massa, salah satunya #AyoLawanCovid19 yang ramai digaungkan — tetapi dalam pandangan saya, hastag tersebut adalah sesuatu yang garib, terasa kontradiktif. Alasannya begini, apakah benar musuh utama yang kita perangi ialah coronavirus? Buktinya, sampai saat ini, ijtihad keilmuan modern belum bisa menjawab persoalan wabah tersebut. Kemudian, apakah ekspansi coronavirus adalah ultimatum perang mereka terhadap manusia? Toh, ekspansi penularannya juga diakibatkan oleh kelalaian manusia sendiri. Maka, hal yang paling rasional untuk kita perangi adalah diri kita sendiri. Yakni perang melawan nafsu-nafsu kehidupan. Tentang pentingnya tarekat menahan ditengah kebiasaan melampiaskan, pentingnya menata keselarasan ditengah dismanajemen pembangunan, serta pentingnya bertapa ditengah kemajuan zaman yang gegap gempita.

Sekali lagi, melalui hikmah Ramadhan, pandemi coronavirus harus dimaknai sebagai medium detoksifikasi kehidupan secara kolektif — bukan hanya personal. Apapun latar belakang suku, ras, kebangsaan maupun agama, seluruh manusia ialah seorang Khalifah Fil Ard yang dianugerahi akal budi dan nurani supaya didayagunakan semaksimal mungkin selama kontrak kehidupan berlangsung — terutama pada situasi pandemi semacam ini.

Melalui ujian coronavirus, minimalnya kita diberikan jeda pengasoan untuk menghitung kembali cara pengelolaan kesadaran kita selama ini, apakah kita sudah layak lulus sebagai manusia? Ataukah sebaliknya?

April, 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru