Esai | Siapa korban?

Mahasiswa baru, seperti pada umumnya, selalu dibikin girang oleh berbagai hiburan diwaktu Masa Orientasi Kampus tiba. Salah satunya, diakibatkan perilaku seorang kaka tingkat. Momentum Ospek biasanya menjadi wahana yang tepat guna menyalakan spirit idealisasi terhadap adik-adik baru, melalui mandataris Agen Of Change, Social Control dan sekaligus benih harapan Iron Stock. Sehingga pelabelan yang melekat pada mereka malah membuat mereka sendiri--mahasiswa baru--menjadi kalap dikemudian hari.

"Kemarin, apasih yang sebenarnya kita perjuangkan?" Sesal salah seorang mahasiswa tingkat akhir sekaligus korban kaka tingkat.

Ia merasa gelisah dan melanjutkan, "Apakah perjuangan tentang penyelesaian masalah yang sebenarnya kita sendiri adalah salah satu sumber masalah. Apakah pembelajaran tentang bagaimana strategi menindas dengan pretensi melawan. Toh setelah disadari, kita tak lain seperti laiknya bunglon. Sesekali kalo berkepentingan berwatak revolusioner dijalan, bahkan--maaf--bermental pengemis ketika didalam ruangan".

Teramat tragis nasib mahasiswa tingkat akhir. Disatu sisi, mereka masih melakoni keterikatan dengan orang tuanya masing-masing. Baik pertanggung jawaban kuliahnya, setoran nilai dan prestasinya serta pemenuhan berbagai kebutuhan selama prosesnya.

Ini yang disebut korban doktrin. Alhasil potensi diri tidak tergali dan disadari. Lantas, pasca lulus bingung sendiri. Jangan jauh-jauh contohnya, penulis juga kok.

Akibat dari pada indoktrinasi yang dianut oleh berbagai Perguruan Tinggi tersebut akhirnya terbagilah beberapa aliran madzhab, kelompok dan gerakan di kampus. Saya menyederhanakannya menjadi 3; Pertama, Mazhab lugu. Salah satu tipe karakter mahasiswa yang hanya memiliki komitmen dan tanggung jawab luar biasa melalui kesungguhannya dalam teknis belajar, mengerjakan tugas dan kemudian wisuda. Kedua, kelompok mejeng. Bagi mereka, tempat perkuliahan merupakan ajang ekspresi diri untuk menyosialisasikan tentang bagaimana cara berpenampilan, mempresentasikan kekayaan dan pokoknya serba senang-senang. Terakhir, orang-orang gerakan. Yang karakter dan mentalitasnya peka, perduli, diskusi, aksi dan semestisnya di tambah satu lagi, tetap harus ngaji.

Namun, ada fenomena irasionalitas terhadap sepenggal kata dan pemahaman mengenai makhluk bernama Aktivis. Ia direduksi, diparsialkan, dipenggal konotasi pemaknaan dan nuansanya. Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa yang disebut aktivis adalah orang-orang yang cenderung dekat dengan dunia demonstrasi, aksi serta ketak-ketok pintu birokrasi.

Maka saya sedikit penasaran, apa dan siapa sebenarnya orang atau kelompok yang berhak mendapatkan gelar kebesaran sebagai aktivis. Secara terminologi, aktivis berarti orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya.

Dengan demikian, segala aktivitas para aktivis sebenarnya mengarah terhadap upaya pendorongan keberhasilan kegiatan serta pengembangan wadahnya. Maka yang menjadi prioritas bukan diluar darinya. Semacam menyoal rakyat dan sejenisnya.

Barangkali, bisa diperoleh kesimpulan baru bahwa proses perjuangan aktivis adalah satu proses seseorang yang dinamis dalam menemukan potensi dirinya, tekun dan totalitas menekuninya dan sampai dia matang terhadap hobi atau kecenderungannya. Supaya dikemudian hari bisa--secara konkret--manfaat dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Seyogianya, seorang aktivis harus sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru