Esai | Tragedi Virus Corona dan Komedi Mahbub Djunaidi

Sejak awal bulan tahun 2020, dunia diramaikan berita wabah Virus Corona atau Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China.

Penulis yang termasuk golongan awam merasa heran, bengong dan kebingungan. Kemudian, terlintas dalam pikiran, “ternyata makhluk sekecil virus bisa sangat gampang dan seenaknya membuat geger, gaduh dan gempar orang-orang sedunia.”

Sampai-sampai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional menetapkan bahwa virus corona adalah salah satu wabah pandemi, membahayakan serta berakibat pada kematian seseorang. Dan hampir seluruh negara di dunia, dibuat kalang kabut bagaimana menghentikan persebaran serta memikirkan upaya-upaya preventif dari kenakalan virus tersebut.

Lain hal dengan Indonesia, terlihat santai menanggapinya. Contohnya, bisa terlihat dari beberapa akun medsos masyarakat yang berlaku kerap lelucon. Yang kesimpulannya, jelas-jelas sangat kontradiktif dengan suasana ketakutan. Ditambah lagi, ketika pemerintah pusat mengumumkan bahwa jumlah positif corona terus meningkat di Indonesia, ternyata belum juga menjadi soal serius. Terbukti dari masih berjalannya aktivitas publik yang masih terbilang normal, meskipun beberapa instansi telah diinstruksikan pemerintah untuk sementara waktu segera ditutup.

Penulis sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tiba-tiba teringat sosok Mahbub Djunaidi. Seorang kolumnis bergaya satire, tajam dan menyegarkan. Sehingga beberapa kalangan menjulukinya sebagai “Pendekar Pena”. Alasannya sederhana, tentu sebagai salah satu bentuk apresiasi tertinggi kepada beliau yang senantiasa istikamah dengan dunia kepenulisannya.

Lalu, apa kaitannya seorang Mahbub dengan Virus Corona? Apakah ia seorang pawang? Atau, ia juru kunci yang mengetahui anti virusnya?

Jadi, penulis teringat ungkapan Fariz Alniezar, seorang kolumnis sekaligus pendiri Omah Aksoro yang memberi komentar pada bagian belakang Buku “Asal-Usul, Catatan-Catatan Pilihan (2018)” Karya Mahbub Djunaidi. Ia menegaskan bahwa gaya tulisan Mahbub sangat khas, sehingga mampu mengubah tragedi menjadi komedi. Sehingga penulis secara spontan berandai-andai.

Kita mafhum bahwa virus corona adalah salah satu kategori tragedi yang mengerikan. Hingga memunculkan berbagai spekulasi yang menyatakan bahwa wabah tersebut adalah peringatan sudah semakin dekatnya akhir zaman. Tetapi untuk soal itu, tidak ada satupun manusia yang tahu. Kita sebagai hamba, tukang sapu, kuli pasar, gelandangan atau bahkan pegawai rakyat hanya bisa berdoa meminta perlindungan kepada tuhan yang berkuasa atas segala-galanya.

Walhasil, ditengah keriuhan, ketakutan serta kekhawatiran yang melanda dunia, khususnya Indonesia. Penulis mencoba mengungkapkan kerinduan kepada seorang pemikir Mahbub Djunaidi. Seorang pendekar pena yang kemampuan analisis dan talenta bertuturnya tidak diragukan lagi. Setidaknya, ia pasti bakal menghibur kita semua lewat humornya, menyuguhkan kembali kejernihan analisis mengenai asbabunnuzul masalah corona serta membukakan kepada kita semua cakrawala berfikir dalam menyikapi wabah virus tersebut. Apakah wabah corona adalah rekayasa kejahatan perang ataukah justru peringatan tuhan.

Nah barangkali, dia bakal mengeluarkan sedikit argumentasi semacam; Corona sebenarnya menjadi medium alternatif silaturahim nasional. Biasanya kan kita acuh, terserah, bahkan bodoamatan. Padahal serumah, sedarah.

Tetapi yang pasti, ia sudah kembali ke sangkan parannya. Terimakasih, Sahabat Mahbub!

Pontang, 17 Maret 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru