Esai | Preseden Kepemimpinan

Ada suatu kekhawatiran yang serius, manakala kisah-kisah inspiratif kepemimpinan mengendap sebagai abu masa lalu, tanpa pernah kita menggali serta menyalakan api keteladanannya. Sementara, wacana prasangka, distrust bahkan maraknya budaya “berkomentar” tanpa dasar argumentasi akhir-akhir ini mewabah di berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, akibat dari pada iklim tidak sehat di ruang-ruang publik.

Apalagi menyoroti dari pada pengaruh media sosial yang rentan penyakit kebohongan, disinformasi bahkan mengarah pada perpecahan. Lantas, pentingnya menelusuri preseden kepemimpinan adalah sebuah upaya kontemplatif bersama agar seluruh generasi muda Indonesia punya inisiatif untuk meneliti, menggali serta meneladani kisah-kisah spektakuler para pemimpin.

Terlebih, dalam menjalani kehidupan mutakhir arus digitalisasi, kita semua musti mewaspadai potensi halusinasi narkoba “zona nyaman” yang menumpulkan imaji serta kreatifitas. Musabab, pola pikir dan perilaku—khususnya anak muda—sangat masif di pengaruhi oleh arus tersebut.

Selanjutnya, pemaknaan Preseden—secara terminologi—merupakan sesuatu hal yang terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai contoh. Bilamana di perluas, preseden juga dapat di pahami sebagai peristiwa atau informasi yang sudah terjadi sehingga di kemudian hari peristiwa tersebut menjadi bahan reflektif pembelajaran. Begitupun, Preseden mengenai rekam jejak kepemimpinan.

Akan tetapi, penulis sendiri berpandangan bahwa pemuda yang di kenal nekat, tangguh, nun tajam kewaskitaannya hari ini terus di bius oleh culture shock serba praktis, yang sebenarnya sama sekali tidak menyehatkan jiwa dan merangsang pemikiran. Malah sebaliknya, menimbulkan perilaku manja atau aleman.

Seyogianya, pemuda hari ini harus memahami serta menerapkan sistem imunitas diri yang jauh lebih kuat, tak terkalahkan oleh berbagai bentuk, rupa maupun serangan virus mengerikan dari perubahan zaman. Suluh orisinalitas diri seorang pemuda harus terus di nyalakan. Sebab, kita musti meyakini bahwa setiap individu pasti di anugerahi potensialitas kelebihan. Maka, usia muda adalah kesempatan ideal untuk melatih keberanian, mengasah ketekunan serta menemukan kedirian.

Alhasil, seorang pemuda harus lebih cermat memaknai presisi Pemimpin dan Kepemimpinan. Demikian, seorang pemimpin—berjiwa Pancasilais—bagi saya harus punya tiga modal mendasar; Pertama, integritas. Menyoal mutu, sifat, kejujuran dan kewibawaan karakter kepribadiannya. Kedua, kapabilitas. Menguasai kecakapan di suatu bidang tertentu. Ketiga, mobilitas. Memiliki kekuatan adaptif dalam mempersuasi keadaan dalam keterjalinan hubungan vertikal (tuhan dan rakyat) maupun hubungan horizontal (sikap altruistik menyangkut kebijakan).

Sebagaimana kisah kepemimpinan Bung Karno yang di kenal memiliki kekuatan karismatiknya, Sultan Ageng Tirtayasa dengan variatif keterampilannya, bahkan Sultan Muhammad Al Fatih dengan progresivitas kepemimpinan mudanya.

"Essai Latihan Kepemimpinan Bangsa Ke-VII 2019; Perkumpulan Gerakan Kebangsaan"

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru