Esai | Blusukan Coronavirus

Terhitung dalam tempo waktu sebulan lebih pandemi coronavirus sudah berhasil "blusukan" ke seluruh provinsi di Indonesia. Kurang lebih, mirip-mirip gaya kepemimpinan pakde-lah yah. Adapun perbedaannya, hanya terletak pada antusias masyarakatnya saja.

Sederhananya begini, blusukan coronavirus sama sekali tidak diinginkan, tidak ditunggu bahkan tidak diharapkan. Sedangkan blusukan Pak Jokowi jelas dirindukan oleh banyak orang--khususnya bagi warga pinggiran kota dan warga pelosok pedesaan.

Lewat gaya blusukannya, lumayan bisa membuat sebagian masyarakatnya sedikit menyunggingkan senyum. Tetapi blusukan coronavirus malah justru membuat berbagai asumsi, spekulasi dan kecemasan.

Selanjutnya, pola pendekatan blusukan sendiri termasuk kedalam satu tindakan yang cukup serius. Umpamanya, seorang pemimpin terjun langsung ke suatu tempat untuk mengetahui sesuatu secara objektif. Apabila demikian, blusukan coronavirus pasti memuat unsur maksud dan tujuan bukan?

Lantas sebagaimana Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa manusia bertempat tinggal dibagian dari alam semesta yang bernama "semoga" atau "mudah-mudahan". Ilmunya bersifat "insyaallah". Dan puncak pengetahuannya adalah "wallahu a'lamu bis-shawab". Jadi manusia hanya berposisi diwilayah kemungkinan-kemungkinan. Wajar pula apabila kedatangan coronavirus dimaknai sebagai cobaan, azab, kecerobohan, bahkan kejahatan perang.

Akhirnya disadari atau tidak, dari hari ke hari berita pandemi coronavirus juga tak kalah "euforianya" seperti momen-momen tertentu--pilkades, pilbup, pilgub, pileg dan pilpres. Tetapi tidak dengan bagi-bagi sembako, kaos, angpau dadakan dan pula serba-serbi "kado" yang bikin masyarakat senang.

Coronavirus datang dengan memberi peringatan dekatnya jarak manusia dengan kematian.

Pontang, 10 April 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru