Esai | Angkot Kemanusiaan

Oleh : Ray Ammanda


Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di saat saya sedang tertimpa musibah—kehilangan sepeda motor—yang pada akhirnya keadaan tersebut “memaksa” saya untuk kembali menaiki angkot demi menuju tempat kuliah. Sebab di sisi yang lain, daerah tempat tinggal—orang tua saya—sama sekali belum terjamah wabah modernisasi transportasi online. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain menggunakan jasa transportasi konvensional tersebut.

Perasaan terpaksa saya tentu beralasan. Noraknya, seringkali saya merasakan suasana “tidak enak”, seperti gejala kepala pusing dan mual secara tiba-tiba. Lantaran, kondisi demikian sangat dilematis bagi orang “mabokan” macam saya. Tapi sebenarnya, mau transportasi konvensional maupun online sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh terhadap mental “mabokan” saya. Kampungan banget kan.

Meskipun saya masih merasakan ketidaknyamanan sewaktu menaiki angkot. Tetapi kali ini, benar-benar harus saya paksakan. Alasan pertama, tidak mau merepotkan handai tolan untuk mengantar atau menjemput. Kedua, rasa pusing dan mual seyogianya harus di lawan. Jangan di manjakan. Ihwal ketentuan rezeki seseorang pun tidak ada yang tau, barangkali “nanti” saya bakal punya mobil sendiri. Atau—bisa jadi—pemilik saham perusahaan mobil itu sendiri.

Ceritanya, sewaktu pejalanan, alhamdulilah saya bisa menemukan sisi positif dari angkot. Pancasilais banget!

Seperti biasa sang sopir menancapkan gas-nya secara perlahan. Tentu, sambil memasang mata jeli melihat kanan-kiri jalan. Kalau ada yang melambai-lambaikan tangan pertanda seseorang memerlukan penumpangan. Dan adegan tersebut berulang beberapa kali, sampai angkot penuh terisi. Sekaligus, momen seperti ini yang paling menjengkelkan bagi saya, atau bagi kalian mantan penumpang angkot tentunya.

Seperti biasanya, dalam ketentuan yang berlaku di dunia bisnis—hubungan produsen dengan konsumen—pembeli mesti di layani bak seorang raja. Maka, dalam sebuah angkot, penumpang awal yang sepatutnya untuk di prioritaskan. Namun dalam mekanisme dunia per-angkot-an, hal tersebut tidak berlaku. Malahan sering kali penumpang awal di kecewakan.

Jelas, kepentingan saya untuk menaiki angkot terkalahkan dengan kepentingan bersama; saya, penumpang lain dan sang sopir harus di gas secara bersama. Maka tak heran, menaiki angkot sering kali menghabiskan banyak waktu, gerah, hingga desak-desakan.

Maka acapkali angkot menjadi transportasi yang sering di cap buruk. Beberapa keburukannya bisa terlihat dari seringnya berhenti di bahu jalan dengan tiba-tiba, menjadi pemicu kemacetan, pelayanan yang seadanya, tapi ironisnya, kadang kala sopirnya berlaku ugal-ugalan. Kemudian wajar apabila muncul ide transportasi online yang lebih mudah dan nyaman.

Kendatipun dari berbagai kekurangan angkot, lantas bukan berarti ia tidak memiliki kelebihan. Bisa jadi, angkot memberi pesan kemanusiaan ketimbang transportasi online yang lebih praktis dan individualis. Dimana perusahaan jasa kekinian yang hadir tersebut datang menawarkan; keyamanan penumpang, efektifitas waktu bahkan jauh lebih mudah cara menyapanya. Penumpang tak perlu panas-panasan menunggu di pinggir jalan dan melambai-lambaikan tangan. Tinggal buka aplikasi, pilih fiture dan beres! Tapi hanya buat diri dan kepentingannya sendiri.

Nuansa kebersamaan, gotong royong, egaliter di dalam angkot ternyata baru saya sadari. Sehingga bisa sedikit meredam emosi. Sekali tancap gas, angkot mampu mengangkut kepentingan secara bersama, dari mulai ibu-ibu yang hendak belanja ke pasar, anak-anak pergi ke sekolah, menolong generasi zaman old, hingga mengantarkan pemuda yang berniat mencari pekerjaan.

Jadi, seharusnya kita bisa bersyukur dengan masih banyaknya angkot yang berkeliaran, pertanda ia masih secara konsekuen mengamalkan nilai Eka Sila Pancasila. Tidak seperti mereka—para pejabat—yang hanya bisanya omong saja.

Alhasil, konsistensi memilih pekerjaan menjadi sopir angkot—bagi saya—sangat memacu adrenalin di zaman now seperti sekarang. Dan mereka layak di apresiasi dan di perhitungkan. Alasannya simpel dan sederhana, manajemen angkot adalah salah satu kelebihannya. Beragam kepentingan penumpang di angkut bersama, betapa ribet dan keroknya sang sopir. Maka seorang sopir memerlukan strategi jitu untuk mengkondusifkan penumpangnya. Barangkali, manajemen kenegaraan indonesia perlu belajar dari angkot.

Memang dari banyaknya kepentingan, selalu ada yang di korbankan. Ngomongin negara, rakyatlah yang selalu menjadi korban; penghisapan, pembodohan serta pengibulan. Sedangkan ngomongin soal angkot, malah pengendara lain yang kerap menjadi korbannya. Dan pengendara lain harus mafhum dan waskita, angkot sedang berjuang demi kepentingan bersama.

Tetapi waktu itu, saya melihat raut wajah kegelisahan dari sang sopir, terlihat sedikit khawatir. Di satu sisi, pastinya ia sama sekali tidak ingin mengecewakan penumpang awal yang sudah—sangat sulit—di dapatkannya. Namun, di sisi yang lain, ia juga sembari di gelisahkan untuk memberi pelayanan terbaik guna penumpang lain. Belum lagi, memikirkan soal kejaran setoran. Apalagi biaya penghidupan.

Sekarang, sopir angkot di hadapkan kompetisi arus perubahan. Ayo buktikan para sopir angkot, bahwa Pancasila tak lapuk di hujan, tak lekang di panas cuaca zaman.

Pontang, 25 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru