Esai | Pendidikan Sebagai Vaksin Zaman

Sumber Ilustrasi : ibtimes.id

Pendidikan merupakan salah satu hak yang sudah digaransikan Undang Undang Dasar 1945--terdapat dipasal 31--terhadap warga negara Indonesia. Artinya, bagi saya, spirit undang-undang dasar tersebut sudah merefleksikan nilai-nilai kedewasaan suatu bangsa dalam memandang pentingnya pendidikan. Redaksi kalimatnya jelas, tidak diskriminatif, eksploitatif dan jauh dari kecenderungan partikular. Jadi, kaum hawa tak perlu lagi merasa gusar. Perempuan juga punya peran.

Didesak perubahan zaman, pemerataan akses dan keterbukaan peluang dalam mengenyam bangku pendidikan, perempuan hendak didorong menjadi manusia merdeka sebagaimana mestinya. Yang tidak lagi berkutat stagnan pada wilayah-wilayah privat, melainkan dituntut semakin percaya diri tampil dipanggung publik yang lebih luas.

Dengan dibekalinya fondasi pendidikan, perempuan juga diharapkan semakin menyadari peranannya--sebagai manusia, sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai bagian dari suatu kelompok dalam sebuah masyarakat. Sehingga, perempuan memiliki kesanggupan dalam memposisikan diri, sekaligus meneguhkan peran dan eksistensinya serta maksimal menunjukan segenap artikulasi kemampuannya.

Selanjutnya, kebanyakan perempuan biasanya memiliki naluri kecenderungan untuk selalu menjadi pusat perhatian--soal berpenampilan, kecantikan, perilaku hedonistik dan lain-lain. Hal tersebut belum menjadi persoalan serius sejauh bisa dikreatifi, diolah serta dibatasi oleh para perempuan.

Namun bisa sebaliknya menjadi bermasalah manakala menghambat dalam meneguhkan eksistensi dirinya dibanyak ruang-ruang profesional, semisal dalam pekerjaan, menjadi seorang istri atau bahkan menjadi pemimpin. Maksudnya, hasrat selalu menjadi pusat perhatiannya supaya dikelola dengan baik sehingga menjadi energi positif untuk banyak orang. Sederhananya, role model.

Penulis bukan bermaksud mengstigmakan buruk. Keteraturan dalam berpenampilan juga dianjurkan, mempercantik diri juga diperlukan, sesekali rekreasi pun sangat dibutuhkan. Tetapi, kurang afdal rasanya, apabila sebatas capaian-capaian demikian. Padahal, perempuan sebenarnya bisa lebih jauh mengembangkan diri.

Ditengah pandemi coronavirus atau covid-19 akhir-akhir ini, penulis teringat kembali sosok perempuan progresif DR.Dr. Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan Indonesia periode 2004-2009. Ditulis dalam bukunya "Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung, 2008", beliau menjelaskan betapa tidak adil, transparan dan egaliternya perlakuan antara negara maju dengan negara miskin dan berkembang. Dimana pada tahun 2004 dunia dan Indonesia digegerkan pandemik virus H5N1 atau Flu Burung yang mematikan bagi manusia di seluruh dunia. Tetapi ancaman wabah ternyata dimanfaatkan oleh kepentingan segelintir negara untuk memperkaya diri.

Singkat cerita, diluar dugaan banyak orang, ternyata World Health Organization Colaborating Center (WHO CC) "diam-diam" memberikan sampel virus Flu Burung strain Indonesia pada beberapa perusahaan di negara maju. Kemudian mereka mengembangkannya menjadi vaksin dan dijual secara komersial dengan harga yang mahal. Anehnya, kita sendiri malah sulit mengakses hasil penelitian sampel virus H5N1 strain Indonesia. Padahal waktu itu, Indonesia sangat membutuhkan hasilnya guna meminimalisir terjadinya wabah yang lebih besar.

Akhirnya beliau berkesimpulan, ternyata selama 50 tahun, sistem pengorganisasian kesehatan dunia berlangsung sangat eksploitatif. Dikuasai oleh kehendak-kehendak yang tidak manusiawi. Didasari ketamakan penumpukan kapital dan nafsu ingin menguasai dunia (Saatnya Dunia Berubah, 2008:x). Lewat kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan, akhirnya ia pun melawan kekeliruan WHO, hingga membongkar kedok negara-negara adikuasa dalam lalu lintas dunia kesehatan.

Alhasil kisah spektakuler ibu Siti Fadilah patut kita warisi api keteladanannya, khususnya oleh seluruh perempuan Indonesia.

Sekali lagi, berkat dunia pendidikan, seperti yang digagas https://www.educenter.co.id/. Akhirnya beliau bisa tampil percaya diri didepan negara-negara dunia. Sekaligus memberi pelajaran berharga kepada mereka dan kita semua bahwa kemerdekaan ialah menyadari soal batas-batas. Begitupun mengenai keberhasilan karier seorang perempuan, tetapi ia mesti senantiasa lembut, penuh kasih sayang dan jujur terhadap siapapun.

#educenterid

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru