Esai | Sedekah Kepemimpinan
Selama menjalani proses perkuliahan, saya dihadapkan berbagai dinamika kehidupan yang serba baru. Perbedaan suasana pembelajarannya, iklim pergaulannya serta cuaca keorganisasian dikampusnya yang cenderung dinamis dan lebih asyik. Alhasil proses penemuan diri terus menerus dipacu. Hingga tiba pada suatu kesimpulan, ternyata proses belajar bukan dipersempit hanya sebatas rutinitas juknis datang dan pulang selama perkuliahan. Sastrawan Ahmad Mustofa Bisri pun menegaskan, “Bagiku guru bisa siapa aja. Minimal untuk diriku sendiri, siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada seseuatu darinya yang bisa aku GUgu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiRU (contoh). Boleh jadi kalian, atau diantara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang”.
Khususnya membahas dunia organisasi, budaya saling tolong menolong teramat sering saya temukan. Alasannya memang jelas, sebab dalam organisasi semua orang didalamnya digerakan oleh satu visi yang sama, sehingga inisiatif berjuang sama-sama pun lebih mudah terbangun. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah kesadaran tolong menolong semestinya bisa dilakukan oleh semua orang kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Tidak terikat oleh ruang, waktu apalagi—ikatan tertentu. Maka, sebagaimana Bung Karno mengingatkan “Paham gotong royong jauh lebih dinamis dengan paham kekeluargaan”. Begitulah peradaban manusia bisa terbangun.
Dalam agama islam sendiri, anjuran untuk saling tolong menolong antar sesama manusia menjadi hal terpenting untuk dilakukan. Sebab setiap manusia tidak bisa hidup sendirian. Salah satu contoh anjurannya ialah bersedekah. Apabila dilihat dari kacamata terminologi, sedekah diartikan sebagai pemberian sesuatu kepada fakir mskin atau yang berhak menerimanya, diluar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Hemat saya, sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat egaliter sehingga semua orang bisa melakukan sekaligus merasakan, kemudian sangat variatif bentuk perbuatannya serta tidak ada ada ketentuan mutlak dalam melakukannya, atau cukup semampunya. Jadi semua manusia sangat bisa untuk melakukannya, tetapi yang membedakan hanya kadar kesungguhan niat dan orientasi bersedekah tiap-tiap orang.
Lalu, kemudian timbul sebuah pertanyaan, apakah sedekah dapat memiskinkan seseorang?
Jawabannya tentu tidak mungkin, malah justru bisa sebalikannya—semakin memperkaya. Bahkan, kalau dijabarkan kebermanfaatan bersedekah itu sendiri sangat mustahil terhitung jumlahnya.
Sepengalaman penulis yang bergelut disalah satu organisasi dikampus, jalan berbagi/sedekah ternyata mampu meluaskan horizon jejaring silaturahim, terjaminnya kelimpahan rezeki serta semakin memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Barangkali, kebanyakan orang memandang bahwa mengemban amanah diposisi strategis dalam sebuah struktural organisasi adalah musibah besar. Dengan sudah dipastikannya tuntutan untuk pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Pernyataan diatas memang benar. Tetapi pengalaman saya menjalankakan agenda organisasi yaitu melalui kesadaran sukarela, jauh dari kata profit. Apalagi soal keuntungan yang bersifat materi. Anehnya, dimulai berdasar keyakinan niat serta kesungguhan membangun organisasi, saya merasa mendapatkan banyak dukungan, bantuan serta arahan dari banyak orang. Segala bentuk pengorbanan—pikiran, waktu bahkan materi—seakan terbayar dengan kepuasan batin. Terutama, saya bisa mengambil pelajaran penting tentang bagaimana manajemen kepemimpinan, nafas pengorbanan dan kesungguhan.
Walhasil, bagi saya konsep sedekah dan dunia kepemimpinan sebenarnya hampir sama dengan konsep investasi dalam dunia bisnis. Kesamaan tersebut bisa saya temukan bahwa dalam investasi, seseorang melakukannya pada ruang-ruang kepastian—untung ataukah rugi. Oleh karena itu, pemahaman tersebut juga berlaku dalam dunia kepemimpinan, pilihannya mencari keuntungan atau pengabdian. Apabila pengabdian, itulah yang saya sebut sebagai investasi sosial/sedekah kepemimpinan.
Demikian tak terhitung jumlah kebermanfaatan dari bersedekah. Sampai pada saat saya telah selesai mengemban amanah tersebut, kebermanfaatan itu ternyata terus mengalir. Salah satunya adalah ketika dimintai pertolongan, mereka—anggota—tak segan dalam membantu. Sebagaimana Yudi Latif pun mengingatkan, “Manusia perlu sifat keugharian, tahu kapan merasa cukup. Agar bisa merawat kepekaan bela rasa, berbagi rezeki dengan sesama”.
(Essai Lomba Menulis "Keajaiban Sedekah" Event Nurul Hayat 2020)
Khususnya membahas dunia organisasi, budaya saling tolong menolong teramat sering saya temukan. Alasannya memang jelas, sebab dalam organisasi semua orang didalamnya digerakan oleh satu visi yang sama, sehingga inisiatif berjuang sama-sama pun lebih mudah terbangun. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah kesadaran tolong menolong semestinya bisa dilakukan oleh semua orang kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Tidak terikat oleh ruang, waktu apalagi—ikatan tertentu. Maka, sebagaimana Bung Karno mengingatkan “Paham gotong royong jauh lebih dinamis dengan paham kekeluargaan”. Begitulah peradaban manusia bisa terbangun.
Dalam agama islam sendiri, anjuran untuk saling tolong menolong antar sesama manusia menjadi hal terpenting untuk dilakukan. Sebab setiap manusia tidak bisa hidup sendirian. Salah satu contoh anjurannya ialah bersedekah. Apabila dilihat dari kacamata terminologi, sedekah diartikan sebagai pemberian sesuatu kepada fakir mskin atau yang berhak menerimanya, diluar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Hemat saya, sedekah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat egaliter sehingga semua orang bisa melakukan sekaligus merasakan, kemudian sangat variatif bentuk perbuatannya serta tidak ada ada ketentuan mutlak dalam melakukannya, atau cukup semampunya. Jadi semua manusia sangat bisa untuk melakukannya, tetapi yang membedakan hanya kadar kesungguhan niat dan orientasi bersedekah tiap-tiap orang.
Lalu, kemudian timbul sebuah pertanyaan, apakah sedekah dapat memiskinkan seseorang?
Jawabannya tentu tidak mungkin, malah justru bisa sebalikannya—semakin memperkaya. Bahkan, kalau dijabarkan kebermanfaatan bersedekah itu sendiri sangat mustahil terhitung jumlahnya.
Sepengalaman penulis yang bergelut disalah satu organisasi dikampus, jalan berbagi/sedekah ternyata mampu meluaskan horizon jejaring silaturahim, terjaminnya kelimpahan rezeki serta semakin memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Barangkali, kebanyakan orang memandang bahwa mengemban amanah diposisi strategis dalam sebuah struktural organisasi adalah musibah besar. Dengan sudah dipastikannya tuntutan untuk pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Pernyataan diatas memang benar. Tetapi pengalaman saya menjalankakan agenda organisasi yaitu melalui kesadaran sukarela, jauh dari kata profit. Apalagi soal keuntungan yang bersifat materi. Anehnya, dimulai berdasar keyakinan niat serta kesungguhan membangun organisasi, saya merasa mendapatkan banyak dukungan, bantuan serta arahan dari banyak orang. Segala bentuk pengorbanan—pikiran, waktu bahkan materi—seakan terbayar dengan kepuasan batin. Terutama, saya bisa mengambil pelajaran penting tentang bagaimana manajemen kepemimpinan, nafas pengorbanan dan kesungguhan.
Walhasil, bagi saya konsep sedekah dan dunia kepemimpinan sebenarnya hampir sama dengan konsep investasi dalam dunia bisnis. Kesamaan tersebut bisa saya temukan bahwa dalam investasi, seseorang melakukannya pada ruang-ruang kepastian—untung ataukah rugi. Oleh karena itu, pemahaman tersebut juga berlaku dalam dunia kepemimpinan, pilihannya mencari keuntungan atau pengabdian. Apabila pengabdian, itulah yang saya sebut sebagai investasi sosial/sedekah kepemimpinan.
Demikian tak terhitung jumlah kebermanfaatan dari bersedekah. Sampai pada saat saya telah selesai mengemban amanah tersebut, kebermanfaatan itu ternyata terus mengalir. Salah satunya adalah ketika dimintai pertolongan, mereka—anggota—tak segan dalam membantu. Sebagaimana Yudi Latif pun mengingatkan, “Manusia perlu sifat keugharian, tahu kapan merasa cukup. Agar bisa merawat kepekaan bela rasa, berbagi rezeki dengan sesama”.
(Essai Lomba Menulis "Keajaiban Sedekah" Event Nurul Hayat 2020)
Komentar
Posting Komentar