Esai | Sportivitas Kaderisasi

Oleh : Ray Ammanda


Kita tentu tak merasa asing mendengar istilah kaderisasi. Dan biasanya, menyinggung perihal kaderisasi kebanyakan orang lebih cenderung mengaitkan dengan dunia pengaderan. Baik dalam tubuh organisasi, partai politik, sekolah, dunia kerja, kehidupan jalanan serta berbagi makhluk garis turunannya.

Memang tidak juga keliru apabila di lihat dari kacamata terminologi. Secara sempit ia mengandung pemaknaan terbatas ihwal pengaderan, perekrutan bahkan—maaf—kepentingan. Tetapi mari sesekali kita tengok pemaknaan kaderisasi secara luas. Minimal kita semua dapat mengambil nilai positifnya. Sehingga setiap institusi persekolahan, dunia kerja, ormas atau apapun saja tidak bersikap adigang-adigung-adiguna karena—merasa—memiliki hak atas setiap anak murid dan atau anggota untuk di cetak menjadi keluaran produk yang sama. Pada akhirnya, kedaulatan pilihan harus tetap di pertahankan oleh setiap orang.

Maksud saya begini, betapa sangat tidak fair apabila seseorang bisa di berikan kelebaran akses untuk memimpin di posisi tertentu padahal sebenarnya ia belum mumpuni dan memenuhi kelayakan untuk menjadi seorang pemimpin. Dalam menyangkut dunia kerja, sungguh kasihan para buruh yang di eksploitasi pikiran, waktu dan tenaganya demi kerja maksimal di sebuah perusahaan padahal perolehan kompensasinya sangat tidak sesuai dengan jumlah tetes keringat yang telah di keluarkan. Bahkan, dalam ruang yang konon intelektual ternyata ragam anak murid di sama ratakan pengajaran mengenai cara memanjat kesuksesan. Padahal potensi alamiahnya berbeda-beda.

Kendati, dalam pandangan saya, keluarga merupakan ruang kaderisasi yang paling sportif. Oleh karena, di dalam keluarga alhamduliah saya masih bisa menemukan nuansa tersebut. Terbukti dari terjaganya suatu proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seorang anak untuk tetap menjaga perangai, akhlak serta sopan santun kepada kedua orang tuanya. Tetapi ironisnya, manajerial kaderisasi keluarga jarang kita singgung, kita apresiasi, apalagi kita pelajari tentang bagaimana pola pengkaderisasian yang baik, meskipun tidak semua keluarga—se-dunia—menerapkan sistem kaderisasi yang baik tersebut. Mungkin saja, akibat dari pada ketidakbaikan sisem kaderisasi itulah akhirnya kita mengenal tipe anak yang sering kali mengidap penyakit “broken home”.

Selanjutnya, sportifitas kaderisasi dalam keluarga bisa tercermin dari keikhlasan mereka—beberapa orang tua—melalui ketulusan pengorbanan jasadi serta rohani dalam mengurus, mendidik serta mengarahkan para anak-anaknya menjadi seorang “kader” yang baik tanpa niatan tedeng aling-aling. Dan mereka hanya bertugas sebagai security bagian doa kesuksesan dan keselamatan. Sekali pun ketika anaknya telah sukses, mereka hanya turut senyum serta berbahagia. Walau tidak ada legalitas hitam di atas putih untuk menuntut kembali jerih payahnya. 

Terlebih, sungguh luar biasa bagi mereka para orang tua yang tak bosan-bosan mensihati meski anaknya sendiri kurang beruntung alias tidak sukses dalam berkarier—minimal—dapat memberikan manfaat untuk hidup orang lain. Tentunya, dengan ketepatan dosis konteks dan ruang kebermanfaatan itu sendiri. 

Kemudian, keluarga mampu menghidupkan suasana pendewasaan. Dimana, tak sedikit juga para orang tua memberikan ruang keterbukaan kepada seorang anak untuk menemukan dirinya, mengembangkan potensialitas minat dan bakatnya, bahkan sampai-sampai banyak orang awam yang “khawatir” terhadap seorang anak karena berbeda pilihan dengan jejak ibu dan bapaknya. Terlebih bagi bapak-ibunya yang masuk kategori mantan petugas rakyat, sedangkan kenapa anaknya memilih jalan menjadi seorang petani? Tentu, awam merasa tersaingi dong. Lantaran anak tersebut berpotensi bisa menjadi juragan juga.

Terakhir, sportifitas menyangkut tanggung jawab. Setelah orang tua menunaikan kewajiban merawat anak-anaknya hingga besar, sampai seorang anak tersebut berkesadaran mapan. Alhasil ia di berikan otoritas dalam memutuskan sendiri jalan hidupnya, dengan syarat ia dapat bertanggung jawab pula atas setiap pilihannya.

Barangkali, pola kepengasuhan keluarga di atas bisa menjadi solusi terbaik dari banyaknya drama baku hantam dalam gelanggang perebutan ruang—padahal tidak memiliki kapabilitas—di ruang yang di perebutkan. Lebih-lebih soal jabatan, posisi dan kursi. Padahal kehadiran berbagai macam ruang kaderisasi sendiri semakin mewabah. Tetapi malah sebaliknya, semakin memperkeruh cuaca.

Setelah di telusuri, sumber pemicunya ternyata cukup jelas. Salah satunya di sebabkan pola kaderisasi—parpol, ormas, sekolah dan dunia kerja—yang minim memberikan peluang kreatifitas kepada anggota, murid dan atau bawahannya.

Sekali pun ada, itu pun tentang kreatifitas cara mengibuli, memanipulasi bahkan mengeksploitasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru