Esai | Merawat Arti Syukur
Setiap pergulatan; batin, pikiran, pengalaman atau peristiwa apapun saja selalu berusaha ku tuturkan lewat kata atau--minimalnya--ku simpan baik-baik dalam memori ingatan. Dengan harapan, kapan pun dan dimana pun senantiasa menjadi relevansi bahan pembelajaran, minimal untuk si penulis sendiri bukan?
Sebagai manusia yang mempercayai keberadaan tuhan, saya musti percaya serta meyakini 3 hal ketentuan; pertama, datangnya kematian. kedua, ihwal jodoh. terakhir, menyoal kelimpahan rezeki.
Ibu sering kali menasihatiku dengan lembut, tak bosan-bosan. Kurang lebihnya begini, "Ray, jangan tinggal sholat sesibuk apapun. Apalagi untuk ngurusi hal-hal yang sifatnya duniawi". Ayah pun sama, berulang kali mengatakan "Ingat, kita semua bakal kembali".
Ternyata, setelah di pikir-pikir, kesadaran tentang kepastian berpulang tersebut sudah sejak dini di tanamkan oleh orang tua saya--bahkan oleh semua orang tua se-dunia. Maka tak heran apabila kita semua senantiasa di ingatkan untuk menanam benih kebajikan. Sebagai bekal pasca kehidupan dunia. Entahlah, bagaimana keberlanjutannya.
Tetapi dari persoalan mendasar yang perlu di ingat oleh semua orang tersebut--kematian--nyatanya selalu kita anggap hal sepele. Oleh karena, saya sebagai anak muda merasa kerap terhalusinasi urusan dunia, apalagi berbau wanita. Alhasil mengakibatkan "amnesia" dalam hal bersyukur. Padahal, sebenarnya mengkhawatirkan ketentuan jodoh memang sungguh perbuatan tidak baik. Kan kita semua manusia, maka sebagai manusia kita harus mempercayai ketentuan-NYA. Tentu lewat kesungguhan ikhtiar, tetapi dengan tetap berlaku santuy serta tidak ugal-ugalan.
Kendati, keberlakuan sikap ugal-ugalan sangat manusia butuhkan untuk mengontrol hati, pikiran dan tindakan seseorang. Terbukti dari bagaimana seorang pencopet nekad melakukan aksinya di pasar. Lantaran kepepet dorongan berbagai keinginan--berbeda dengan kebutuhan. Kemudian bonyok lah harga diri dan fisiknya di gebukin massa.
Pertama, kesalahan ia yang paling fatal adalah mengingkari ketentuan rezeki yang di berikan oleh tuhan-NYA. Kedua, si pencopet yang cerdas ternyata tidak bisa membedakan keinginan (sekunder) dengan kebutuhan (primer). Ketiga, saking cerdasnya, ia melakukan aksinya di kerumunan pasar. Bagaimana tidak ugal-ugalan coba?
Catatan Refleksi,
Pontang-Serang, 14 Januari 2020
Komentar
Posting Komentar