Esai | Refleksi: Berkenalan Dengan Gus Dur
Oleh: Ray Ammanda
Pontang, 10 Juni 2022.
Entah kenapa, setiap kali saya mendengar dan membaca perjalanan hidup (tindakan maupun pemikiran) dari KH. Abdurrahman Wahid atau biasa populer dipanggil Gusdur, terutama saat beliau sedang menjabat sebagai seorang Presiden ke 4 Republik Indonesia, selalu membuat saya tersenyum sembari meneteskan air mata. Sempat terbesit juga di kepala, saya seakan menjadi warga negara yang (kurang) beruntung oleh karena belum pernah satu kali pun bersalaman dan mencium tangan beliau sewaktu masih hidup.
Pasalnya, sebagai generasi yang baru dilahirkan setelah semangat reformasi belum lama ditanam, tepatnya 28 November 1998, kemudian wajar bilamana setelah tumbuh dewasa saya menaruh kekaguman mendalam kepada beliau baik sebagai manusia biasa, seorang ulama, seorang cendekiawan progresif, sekaligus baik sebagai seorang presiden. Ketika beliau wafat tanggal 30 Desember 2009, saya hanyalah bocah SD kelas enam.
Kekaguman itu pelan-pelan terbangun musabab pendekatan saya terhadap buku-buku terkait, dari penuturan beberapa tokoh, serta lewat pengamatan audio-visual (sewaktu beliau masih hidup) diundang oleh salah satu stasiun tv, tetapi tanpa maksud berlebihan, energi keteladanan dari beliau begitu terasa di hati saya. Apalagi ketika pertama kali saya mencoba mengenali beliau lebih jauh melalui buku Biografi Gusdur, The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh Greg Barton yang baru pertama kali saya baca pada tahun 2017, perasaan dan pikiran saya dibuat campur aduk. Tak berhenti di situ, rasa penasaran saya justru semakin membuncah. Alhasil pengembaraan saya pun berlanjut dengan membaca buku-buku (hasil pemikiran Gusdur sendiri maupun karya orang lain) atau mengikuti diskusi-diskusi yang masih terkait dengan beliau. Sosok yang terkenal kontroversial dan suka guyon itu, ternyata melekat pribadi yang sederhana, negarawan sejati, manusia humanis, pemikir kritis, teguh pendirian, jenaka, nakal, cerdas dan berwawasan luas.
Terlepas bagaiamana pun intrik yang dibangun untuk menjatuhkannya sebagai seorang presiden, yang perlu diingat adalah bahwa itu bermula tak lebih akibat percaturan politik belaka. Virdika Rizky Utama dalam bukunya Menjerat Gusdur, memaparkan dinamika itu dengan baik. Lantas yang menurut saya jauh lebih penting ialah meneladani sosok Gusdur itu sendiri dan pembelajaran apa yang telah ia wariskan bagi bangsa Indonesia ke depan.
Dalam sebuah diskusi bertema "20 Tahun pemakzulan Gus Dur: Siapa Sang dalang?!" di Channel Youtube Refly Harun, Eep Saefulloh Fatah seorang Pakar Politik mengatakan, bahwa Gusdur memiliki kualitas pemimpin yang punya inisiatif transisional yang sangat berani, yaitu melakukan langkah-langkah yang tidak lazim pada masanya. Sehingga ketika kepemimpinan Gusdur, kekuasaan menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral atau telah terjadinya desakralisasi kekuasaan. Akhirnya kekuasaan menjadi sesuatu yang boleh diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari warga negara setelah rezim otoritarian Orba.
Selain pada mulanya pencalonan Gusdur didorong oleh kekuatan poros tengah, Gusdur sendiri secara tidak langsung, dalam penjelasan Eep Saefulloh, menjadi titik konvergensi politik Indonesia. Sepanjang garis warna politik Indonesia dari kiri ke kanan, Gusdur persis seperti ada di tengah-tengahnya. Penggambaran tersebut terasa masuk akal, selain fakta pemikiran ideologis Gusdur sendiri berakar dari lingkungan NU dan ditambah sikapnya juga yang cenderung menolak akomodatif partisan. Dengan begitu, Gusdur sangat layak disebut sebagai seorang negarawan.
Dari banyaknya kelebihan dan kekurangan Gusdur yang sering diperbincangkan oleh banyak orang selama ia memimpin dari tanggal 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001, justru yang menjadi menarik perhatian saya adalah, Gusdur telah membuat banyak elite negeri ini panik. Bukan saja hanya dari komitmennya dalam membabat anasir-anasir Orba. Bahkan tak jarang hanya sekadar lewat leluconnya saja, beberapa elite sudah dibuat sibuk dan meriah. Saya malah justru berpikir, bahwa bukan Gusdur yang sebenarnya dipermainkan, justru elite politik negeri inilah yang telah "dipermainkan" oleh Gusdur. Quotesnya yang fenomenal yaitu "Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan", rasanya terasa satire dan menggelikan.
Gitu aja kok repot!
Selamat jalan, Gus. Al-fatihah.
Komentar
Posting Komentar