Esai | iPusnas: Membaca Muhammad dan Relevansi Iqra di Era Digitalisasi
Oleh : Ray Ammanda
(Ditulis dalam rangka Lomba Menulis Review Konten iPusnas)
Oktober-November, 2022.
Budaya membaca di Indonesia, sampai saat ini, tampak masih menjadi salah satu masalah yang tak kunjung selesai diperbincangkan. Padahal, betapa sering kita mendengar pekik pemerintah maupun pegiat-pegiat literasi tentang seruan membaca di sudut-sudut negeri ini. Namun, hasilnya masih saja terasa jauh dari apa yang diharapkan. Sementara kita hendak berpretensi apalagi, bahwa ihwal kesediaan bahan bacaan, terutama di era digitalisasi ini, sebetulnya telah terang-benderang memberikan kita banyak kemudahan. Keberadaan eBook yang lebih praktis dalam perkembangan teknologi mutakhir, bukankah seharusnya justru lebih mendekatkan kita terhadap dunia membaca? Apalagi kita juga dapat dengan mudah mengaksesnya secara gratis dan cuma-cuma. Salah satunya dengan keberadaan aplikasi iPusnas di Play Store handphone kita.
Hingga sekarang, saya tidak terlalu ingat sudah berapa judul eBook di aplikasi iPusnas yang telah saya nikmati sejak pertengahan tahun 2021 ketika awal pertama kali saya aktivasi aplikasi tersebut. Akan tetapi, ada satu buku yang paling berkesan dalam ingatan saya. Buku tersebut berjudul "Samudra Keteladanan Muhammad" karya Nurul H. Maarif yang diterbitkan oleh PT. Pustaka Alvabet, Juni 2017. Terdiri dari 420 halaman. Selain kandungan isinya membuat hati saya tergetar dan terharu, cara penulis menuturkannya pun terasa mengalir. Penulis memang menggunakan referensi yang padat, tetapi penggunaan bahasanya, susunan kalimatnya, serta cara penyajiannya, justru dibuat tidak berbelit-belit. Berbagai sumber rujukan berhasil dikemas penulis dengan cukup baik. Sangat nyaman sewaktu dibaca. Bahkan, menurut saya, buku tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh banyak kalangan.
Sebagai pembaca, saya seakan diperkenalkan secara lebih dekat oleh penulis tentang nilai-nilai keteladanan yang telah dicontohkan oleh manusia agung Baginda Nabi Muhammad saw.. Dalam bukunya, Nurul H. Maarif pun melukiskan; "Menceritakan spritualitas Muhammad saw., sufinya para sufi, walinya para wali, 'arifnya para 'arifin, orang yang terdekat dengan-Nya, tertakwa pada-Nya, teriman di antara manusia lainnya, tentulah laksana menatap mutiara yang kilauan cahayanya tiada terbatasi dan ibarat memandang lautan yang tiada bertepi. Salatnya terbaik di antara manusia seluruh alam. Wiridnya terkhusyuk. Zikirnya tertawaduk. Jiwanya terus merindu-Nya tiada mengenal ruang dan waktu. Itulah Muhammad sang teladan, simbol spiritualitas tertinggi sepanjang sejarah penghambaan manusia terhadap-Nya (Samudra Keteladanan Muhammad, 2017:167). Bahkan Robert N. Bellah, sosiolog lulusan Harvard University mengakui bahwa Piagam Madinah (Mitsaq Madinah) merupakan konstitusi pertama dan termodern yang dibuat pada zamannya. Sehingga Muhammad saw. dinilai sebagai pemimpin dunia yang cemerlang.
Berkat buku itu juga, saya akhirnya bisa berkenalan langsung dengan penulisnya kendati hanya lewat WhatsApp. Perkenalan tersebut terjadi sekitar bulan Desember 2021, sewaktu saya sedang menggarap buku pertama saya berjudul "Suluh Literasi (2022)". Kebetulan, waktu itu saya sedang kebingungan hendak meminta endorsement ke siapa. Sehubungan saya membaca biodata beliau di akhir bukunya, kemudian saya mencoba memberanikan diri menghubungi beliau lewat Facebook. Singkat cerita, betapa bahagianya saya membaca respon beliau yang cukup terbuka. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkenalan sekaligus mendapatkan endorsement buku pertama saya dari beliau. Kiranya tidak berlebihan, bahwa penulis bukan hanya saja berhasil menuturkan keteladanan Muhammad saw. melalui bukunya, tetapi juga telah dibuktikan secara nyata melalui tindakannya.
Komentar
Posting Komentar