Catatan Perjalanan | Jalan Guru Profesional
Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan (baca: meraih cita-cita) adalah aktivitas yang melelahkan, memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kerap dianggap sebagai hal yang penuh ketidakpastian. Ada juga yang berpendapat liyan, bahwa melalui perjalanan, kita berkesempatan melihat banyak hal, sekaligus merasakan hal-hal baru yang lebih seru. Dan menurutku, yang menentukan kualitas kesan dari sebuah perjalanan adalah bagaimana cara kita menikmatinya.
Tak peduli seberapa lama kita sampai, sebanyak apapun energi yang harus kita keluarkan, serta dalam bentuk tantangan apapun yang akan menghadang. Dengan target dan tujuan yang jelas, seberat apapun perjuangannya, insyaallah kita tidak akan pernah kehilangan arah dan berputus asa ditengah-tengah jalan. Capek dan kemudian memilih untuk beristirahat adalah hal yang wajar. Akan tetapi, kita masih punya alasan untuk kembali melanjutkan dan menyelesaikan misi perjalanan yang sebelumnya telah kita mulai.
Abraham Lincoln dalam quotesnya mengungkapkan, "Berikan saya waktu 6 jam untuk menebang sebuah pohon, maka saya akan menggunakan 4 jam pertama untuk menajamkan kapaknya". Saya berpendapat ungkapan di atas realistis. Bagaimana mungkin umpamanya seseorang dikatakan siap bekerja bilamana dirinya sendiri belum memiliki kesiapan untuk mengerjakan sesuatu yang akan dijalaninya? Perspektif demikian tentu masih bisa kita perdebatkan. Akan tetapi saya akan memulai tulisan saya dari sudut pandang tersebut.
Selama hampir satu tahun belakangan, jujur saya cukup terseok-seok menjalani Pendidikan Profesi Guru Prajabatan selama 2 semester di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan. Kendati pendidikan tersebut sudah dibiayai gratis oleh Kemdikbudristek, namun dalam persoalan pemenuhan kebutuhan sehari-hari pada akhirnya diri kita sendiri yang harus berjuang. Mungkin bagi sebagian orang hal demikian bukan problem, tetapi bagi saya, pada titik inilah sisi lain tantangan menjalani pendidikan ini. Ditambah lagi, mau tidak mau, saya harus memutuskan untuk berhenti sementara waktu mengajar di sekolah saya dulu. Otomatis saya kehilangan penghasilan. Untung saja, pada waktu itu, saya masih bisa mendapatkan penghasilan berkat kerja kontrak sebagai Panitia Pemungutan Suara Pemilu 2024.
Sejak bulan September 2023, saya bolak-balik Pontang-Balaraja setiap hari Senin sampai Jumat menjalani PPL I di SMAN 1 Kabupaten Tangerang. Bisa dibayangkan seberapa jauh jaraknya. Itupun saya jalani tanpa di gaji sepeserpun. Pernah suatu ketika di awal bulan November 2023 saya mengalami kecelakaan cukup parah akibat ketiduran sewaktu mengendarai motor. Saya ingat betul kecelakaan tersebut terjadi jam 6 pagi di sekitaran Kecamatan Gunung Kaler. Kecelakaan itu cukup membuat saya terharu. Bukan karena faktor kerusakan motor dan pembiayaan perbaikannya yang lumayan menguras dompet, melainkan pada makna perjuangan itu sendiri. Sempat terbesit di kepala, kenapa saya harus memilih jalan seperti ini? Padahal saya sudah cukup 'enak' kerja di tempat sebelumnya. Barangkali benar apa yang dikatakan oleh Sutan Sjahrir, bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.
Sementara pada hari Sabtu dan Minggunya, saya bolak-balik Pontang-Pamulang untuk melaksanakan kuliah luring di Unpam Kampus II Viktor, Tangerang Selatan. Semua rutinitas itu kuat saya jalani dalam 1 semester. Selain keluhan fisik dan finansial, pikiran saya juga terkuras. Di satu sisi memikirkan tugas kuliah, ditambah tugas PPL, belum lagi kerjaan PPS, urusan pinjol, dan terkadang dihadapkan persoalan lainnya. Alhasil, memasuki semester 2 saya akhirnya memutuskan untuk memilih kos di Pamulang, Tangerang Selatan setelah saya mendapat perijinan dari pihak kampus untuk pindah tempat PPL II.
Syukur alhamdulilah persoalan yang sudah saya uraikan sebelumnya berjalan waktu akhirnya bisa teratasi. Misalnya dalam persoalan tempat tidur ketika Sabtu dan Minggu saya di Tangerang Selatan, terbantu dengan diperbolehkannya tinggal di kontrakan Bibi (adik kandung Ayah saya). Kemudian dalam urusan tutup lobang pinjol, lumayan terbantu dengan kebaikan seorang teman waktu itu. Lalu orang tua juga sudah mulai support saya secara materi ketika perkuliahan berjalan. Intinya selalu ada hal-hal baik sekalipun di keadaan tersulit.
Pada saat semester 2, pikiran dan energi saya mulai cukup ringan dalam membagi waktu. Akhirnya saya memutuskan sambil menjalani ojek online Maxim. Kebetulan Guru Pamong di PPL II pun sangat baik dan pengertian memberikan saya ijin di waktu senggang jam sekolah untuk ngojek. Walau tidak seberapa, alhamdulilah saya menemukan banyak pembelajaran saat itu. Saya bertemu dengan berbagai tipikal penumpang, ada yang baik, judes, pendiam, suka ngatur dan macam-macam. Semuanya tetap saya syukuri. Saya percaya bahwa apapun rintangannya pasti akan terlewati. Lalu pada saat itu terjadi kita kemudian tersenyum dan haru. Apa yang sebelumnya kita anggap tidak mudah, ternyata kita bisa sekuat itu berjuang menyelesaikannya. Setelah itu juga kita bukan orang yang sama, kita akan menjadi lebih kuat. Dan alhamdulilah Allah senantiasa menuntun saya hingga akhirnya bisa menyelesaikan perjuangan ini.
Ada satu ungkapan yang sampai saat ini membekas dalam ingatan. Bahwa layaknya sebuah pensil, agar senantiasa bermanfaat, manusia memerlukan penajaman berulang-ulang. Kendati membosankan, melelahkan, bahkan menyakitkan. Semoga melalui dinamika perjalanan kemarin, saya menjadi lebih siap menjalani profesi sebagai seorang guru yang profesional. Seorang guru yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan menjadi guru yang mampu memberi energi keteladanan kepada anak murid saya kelak. Aamiin Yra.
Komentar
Posting Komentar