Catatan Perjalanan | Tumbuh Kembang
Oleh : Ray Ammanda
Sabtu, 7 Januari 2023.
Saya adalah anak pertama dari empat bersaudara. Hidup dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Dibimbing oleh sosok ayah yang penuh tanggungjawab dan sosok ibu yang tak pernah kering akan cinta kasih. Alhamdulillah. Saya sangat mensyukuri itu.
Sejak kecil, sejauh memori ingatan, ayah sering mengajak saya untuk ikut menemaninya pasang kabel KWH dari rumah ke rumah, dari desa ke desa. Seingat saya, kenangan itu terjadi ketika saya masih SD. Entahlah apa motif sesungguhnya ayah mengajak saya ikutserta pada kesibukan pekerjaannya itu. Padahal, ketika ikut, saya malah kebanyakan merepotkan dan memilih bermain dengan anak-anak lain seusia saya, yang tentu baru saya kenal, tanpa sebetulnya peduli dengan apa yang sedang ayah lakukan. Waktu itu, sebagaimana anak kecil pada umumnya, yang ada dalam pikiran saya adalah bisa jalan-jalan dan bisa sambil main. Namun, setelah saya ingat-ingat kembali, barangkali melalui persentuhan pengalaman itulah yang membentuk saya sejauh ini menjadi pribadi yang terbuka dalam bergaul. Apapun latar belakangnya, sejauh prinsip pergaulan dan persahabatan masih saling memberikan rasa kenyamanan satu sama lain, saya berprinsip akan menjaga tali silaturhmi itu dengan baik sampai kapanpun. Dan prinsip tersebut yang saya pegang hingga sekarang.
Jujur. Sampai sekarang, saya tidak tahu motif ayah sesungguhnya. Lagi-lagi saya hanya sekadar menduga-duganya saja. Saya juga tidak pernah menanyakannya. Tetapi alasan yang paling logis ialah bahwa saya anak pertama. Biasanya, kata banyak orang, anak pertama cenderung memperoleh kasih sayang dan perhatian yang lebih besar dari kedua orang tuanya. Mungkin saja, melalui cara itu ayah menyayangi saya.
Sedari kecil, perilaku saya lebih banyak mengarah pada penaklukan tantangan, mencoba hal-hal baru dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Pada saat bersamaan, kepribadian tersebut juga yang terkadang membuat saya kerap berlaku ceroboh. Beberapa kali momen yang tidak menyenangkan sering saya alami sejak kecil--tepatnya masa SD. Kejadian seperti patah tulang tangan, kepala bocor karena benturan, terkena sengatan listrik, jatuh dari motor karena mencoba-coba main gas motor Ayah yang sedang dipanaskan, jatuh dari pohon kedondong, jatuh bersepeda, sudah sering saya alami. Setalah dewasa ini, saya baru terpikir dan tersadar, sembari melongo, mengingat akan kekonyolan-kekonyolan saya di masa lalu. Ternyata, saya seceroboh itu, ya. Nampaknya kepribadian itu juga yang terus melekat pada diri saya hingga memasuki fase remaja-dewasa. Belum lama ini misalnya, pada saat masih berstatus mahasiswa semester dua, sewaktu berangkat kuliah pagi, dengan kondisi habis begadang dan belum tidur sama sekali, saya mengalami kecelakaan tabrakan motor di depan SMP Negeri 1 Ciruas karena faktor kantuk berat. Ditambah keteledoran saya adalah akibat terburu-buru juga karena takut telat dalam mengikuti UTS di kampus. Alhasil, dari semua rentetan kejadian yang tidak menyenangkan itu, saya sering kali membuat Ayah dan Ibu panik. Kejadian paling mutakhir yang saya alami adalah patah tulang jempol kaki kiri akibat loncat smash main voli. Mendenger kabar semacam itu, lagi-lagi Ibu sampai tidak tega hati menemani saya urut patah tulang. Ketimbang Ayah, Ibu adalah sosok yang paling sensitif dan khawatiran.
Tentu bukan kenangan pahit saja yang telah membentuk diri saya hingga sekarang. Sejak SD juga saya punya semangat tersendiri ketika berangkat sekolah. Pagi jalan kaki, pulang pun jalan kaki. Bahkan saya masih ingat betul rute yang saya lewati. Secara random saya selalu melewati tiga jalur; jalan raya, gang perkampungan dan jalur bedeng. Menariknya setiap kali saya jalan kaki, naluri saya sejak kecil sudah seperti laiknya seorang pengamat. Saya selalu sumringah bila menemukan hal baru ketika di jalan, seperti tertarik pada koleksi ikan cupang di rumah tetangga, lihat petarangan ayam dan bebek warga, kemudian mengkreasikan beberapa benda yang tak sengaja saya temukan seperti tumbuhan tertentu menjadi gasing. Saya juga suka main kelereng, gambaran, dan loncat karet di sekolah. Hal semacam itu, menurutku seru dan menyenangkan.
Di sekolah saya cukup jadi siswa yang baik. Saya tidak pernah bertingkah macam-macam seperti berkelahi sesama teman, justru malah ada satu momen saya yang pernah diajak berantem sama teman. Tetapi nyali saya ciut waktu itu. Bisa dikatakan perilaku bandel saya masih tahap wajar. Alhasil energi saya kebanyakan saya curahkan ke ruang bermain di sekolah, terutama dalam olahraga favorit saya bermain bola voli. Saking aktifnya saya berlatih bersama teman-teman, kami pernah loh menyabet juara 2 lomba bola voli antar SD tingkat kecamatan. Duh bangganya bukan main. Hehe.
Kesukaan saya terhadap bola voli, tentu tidak menurunkan atensi belajar pada hal lain di sekolah. Saya juga pernah ditunjuk jadi atlet tenis meja dan catur dadakan mewakili sekolah. Entahlah alasan guru olahraga menunjuk saya. Tetapi yang jelas, ketika menyambut momenentum perlombaan antar sekolah itu, saya selalu bersemangat memenangkan perlombaan. Apalagi jika pihak sekolah memberikan saya uang saku. Ya walaupun tidak seberapa. Namun nominal lima ribu rupiah saat itu cukup buat saya kenyang buat makan bakso dan minum es.
Prestasi yang menurut saya cukup membanggakan ialah pernah meraih ranking tiga ketika kenaikan kelas lima. Itu pun satu-satunya prestasi di kelas yang pernah saya dapatkan. Momen itu sungguh membuat saya kaget dan gak nyangka, dalam hati saya bergumam "ternyata saya bisa juga berprestasi seperti yang lain". Keaktifan saya pada kegiatan sekolah juga di terlihat bahwa saya pernah mengikuti dua kali perkemahan Sabtu-Minggu antar sekolah. Pengalaman-pengalaman itu yang kemudian mengantarkan dan membekali basic dasar saya ketika memasuki masa SMP.
Sebetulnya ada banyak kejadian yang pernah saya alami sewaktu kecil. Tetapi saya coba merekamnya pada bagian-bagian, yang menurut saya, paling berkesan dalam pembentukan kepribadian saya hingga sekarang. Ketika memasuki masa SMP, saya juga sekaligus sambil di pondokkan oleh Ayah. Secara jarak memang tidak jauh dari rumah. Kisaran 10 menit naik motor. Tetapi bilamana ditinjau untuk anak seusia saya, anak ingusan yang baru lulus SD, keadaan jauh dari orang tua sudah membuat perasaan gusar dan sedih menahan rindu suasana rumah. Terhitung tiga tahun saya mampu bertahan di Ponpes Daarul Ahibbah di Desa Singarajan, Kecamatan Pontang. Sekali lagi, dengan sambil tetap bersekolah formal, yaitu di SMP Negeri 1 Pontang. Alhasil, rutinitas saya waktu itu (2009--2012) adalah belajar, belajar dan belajar. Sebelum berangkat sekolah ngaji, pulang sekolah juga ketemunya ngaji. Anehnya, pergulatan pengalaman saya di kedua tempat itu tampak kontradiktif.
Di sekolah, terutama sejak kelas dua SMP, saya menjadi anak yang sering terkena kasus di sekolah. Intinya, pergaulan saya cenderung ke arah hal-hal negatif yang melanggar aturan sekolah. Masih membekas dalam ingatan saya, dua kejadian yang luar biasa di sekolah. Pertama, saya mencorat-coret meja belajar saya penuh dengan tip-x yang mengakibatkan uang saku pondok saya, yang saat itu sedang dalam kondisi 'mungmunge' (jawa:red), lalu terpaksa terpakai hanya untuk membeli tinner. Kedua, momen disuruh merokok kretek berbatang-batang di mulut ditengah lapangan, dengan keadaan tangan terikat dibelakang, bersama kedua orang teman saya di saat h- beberapan bulan sebelum ujian nasional dilaksanakan. Dan kejadian itu disaksikan oleh seluruh adik kelas saya di tiap-tiap pintu kelas mereka. Hal yang membuat saya deg-degan waktu itu, sebetulnya hanya takut tidak diluluskan oleh sekolah. Dan alhamdulillah kekhawatiran itu terjadi. Kayaknya, hingga sekarang, Ayah dan Ibu tidak pernah tahu kejadian seperti itu pernah dialami oleh anak pertamanya yang bandel ini.
Namun, pengalaman berbeda, tepatnya kebiasaan-kebiasaan positif, justru lebih banyak dibentuk dan tumbuh secara alamiah melalui kebiasaan-kebiasaan di pondok. Selain membangun kebiasaan untuk selalu rajin salat dan mengaji, setiap sebelum tidur, saya selalu rutin belajar atau mengulas lagi hal-hal yang saya pelajari sewaktu siang saya ngaji. Dan pada suasana itu juga saya rajin mengerjakan tugas-tugas sekolah formal saya. Kemudian setelah saya pikir-pikir lagi sekarang, sebetulnya kebandelan saya kebanyakan terbawa oleh pergaulan. Padahal watak asli saya adalah penuh semangat dalam belajar. Terbukti waktu itu, pada saat di pondok mengadakan lomba baca kitab, saya berhasil membaca kitab jurumiyah tanpa jabar-jer (jawa:red) dan terjemahannya dengan baik sehingga saya berhasil menyabet juara ketiga. Kalau saya mengingat momen sederhana itu, saya bahagia sekali. Pokoknya, banyak hal yang sekalipun itu di luar konteks ngaji formal di pondok, yang telah membentuk karakter positif pada diri saya sejauh ini.
Memasuki masa SMA, saya memutuskan berhenti mondok dan hanya memilih untuk bersekolah formal saja. Dari keputusan itu, perilaku saya makin menjadi-jadi di sekolah. Bolos sekolah, nongkrong di warung-warung, serta berbagai perilaku negatif terus menemani masa-masa SMA saya. Tetapi, sekali lagi, itu hanya perilaku saya di luar kelas. Kalau sudah di dalam kelas ketika sudah bertemu dan diajari oleh bapak dan ibu guru, saya selalu antusias memperhatikan dan tidak pernah membuat kegaduhan. Sederhananya, saya selalu menjadi pribadi yang tertib ketika di kelas. Pasalanya saya senang dan bersemangat ketika menyerap ilmu dan belajar hal-hal baru. Singkat cerita, saya akhirnya lulus SMA dan kemudian lanjut kuliah.
Pada titik inilah kehidupan saya yang sebelumnya labil, inkonsisten, selalu kesana-kemari, kemudian mulai berani bersikap. Bahwa sejak mulai saat itu, ketika sudah resmi menjadi seorang mahasiswa, saya pengin merubah pola belajar 360 derajat. Melalui keputusan itulah dunia organisasi akhirnya mewarnai pergulatan belajar dan pengalaman saya selama di kampus.
Komentar
Posting Komentar