Postingan

Esai | Sumpah, saya Pemuda!

Surplus Bicara, Malas Mendengar Menyaksikan gerak iklim ketidakmenentuan zaman. Gaungan globalisasi nampaknya menjadi satu idiom kegembiraan, sekaligus ketakutan yang sedang di hadapi oleh seluruh umat manusia. Oleh karena, segala macam bentuk perubahan nyatanya tidak serta merta berdampak kemaslahatan. Malah, bisa sangat memungkinkan bermuara kemudharatan. Ibarat perlintasan jalan, zaman yang sedang kita lewati hari ini begitu disesaki orang. Semuanya, memiliki kedaulatan akses yang luas sekalipun tanpa alat pengamanan, dalam mengisi ruang-ruang keilmuan, berkompetisi satu sama lain maupun dalam berdakwah keagamaan. Sehingga, potensi kecelakaannya sangat besar. Terlihat dari bagaimana terjadinya suatu gejala “sakit sosial” di sepanjang perlintasan media sosial. Sebagaimana penuturan Direktur Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (bareskrim) Polri Brigjen Rachmad Wibowo bahwa sepanjang tahun 2018 setidaknya ada 3.000 akun yang di deteksi Polri secara aktif menyebarkan ujaran keb...

Esai | Suluh Literasi dari Serang Utara

Oleh : Ray Ammanda Sastrawan masyhur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata:“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis ialah bekerja untuk keabadian”. Quotes tersebut menyentuh, merangsang dan mendorong saya untuk terus menekuni keterampilan menulis. Biasanya, seseorang yang piawai menulis pasti juga memiliki kemampuan public speaking yang baik. Salah satu contoh sosok yang sangat nyata adalah Encep Abdullah, penulis, pendiri, sekaligus penggerak #Komentar (Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa). Meskipun dalam keanggotaan saya masih terbilang anak kemarin sore, #Komentar—sebagai rumah belajar bersama—bisa memberikan “keteduhan” di tengah “kegersangan” kehidupan modern yang cenderung individualis-pragmatis ini. Sederhananya, #Komentar menjadi salah satu wahana dalam membangun ikatan “deduluran” antarwarga Pontang dan sekitarnya. Bisa saya amati pada setiap Minggu sore, berbagai kalangan li...

Esai | Perempuan dalam Pembangunan Negara

Perjalanan panjang telah ditempuh oleh bangsa Indonesia, tahap demi tahap melewati fase jatuh-bangun dalam catatan literer riwayatnya. Dari masa perjuangan pra-kemerdekaan, lalu fase transisi kemerdekaan dan masa sekarang pasca kemerdekaan. Pendewasaan diri sebagai suatu bangsa menjadi catatan sejarah yang amat penting untuk kita pelajari dengan kejernihan berfkir serta bersikap, jangan sampai hanya di pahami sebagai satu catatan sejarah kelam yang menyedihkan sehingga kita tidak bisa memaknainya secara positif menjadi cermin evaluasi diri bangsa yang arif dengan narasi panjang peradabannya. Yudi Latief seorang Cendikiawan Muda pernah mengatakan bahwa “ Warisan terbaik bangsa bukan politik ketakutan, tapi politik harapan. Kita merdeka diatas tiang-tiang harapan ”. Demikian apabila kita cermati, semangat cita-cita luhur pun nampak tercermin dalam ghiroh perjuangannya yang terlukis dalam konvergensi nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bersama. Sehingga perlunya rasa bestari ke...

Esai | Humanisme Kultural Masyarakat Adat Ciptagelar

Sabtu, 10 november 2018 tepat dalam rangka peringatan Hari Pahlawan Nasional menjadi momen sejarah yang begitu amat penting dalam narasi panjang berdirinya Republik Indonesia. Secara definitif pun Republik dapat dipahami sebagai bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh negara yang kedaulatannya didasari oleh persetujuan dari pihak yang diperintah dan tata cara pemerintahannya didasari oleh perwakilan rakyat. Artinya dalam kacamata Repubilakinsme, rakyat memilki pengaruh yang kuat dalam setiap penyelenggaraan negara. Begitupun 10 November 2018 dalam catatan penulis memiliki makna penting mengenai sosok kepahlawanan. Di tanggal tersebut, penulis dan teman angkatan 2016 PPKn Untirta melakukan telaah kajian Mata Kuliah Studi Masyarakat Indonesia sekaligus berkunjung silaturahim di Kasepuhan Adat Ciptagelar selama 2 hari. Dan pada kali ini penulis coba mendeskripsikan perspektif pahlawan hasil telaah kajian di Kasepuhan Masyarakat Adat Ciptagelar, yang berada di Kampung Sukamulya, Desa Sina...

Esai | Menyikapi Realitas Media Edukasi Kontemporer

Bangsa indonesia adalah bagian dari tatanan peradaban dunia modern dalam semangat persahabatan dan kerjasama demi kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Menyikapi kenyataan demikian, bangsa indonesia pun harus memulai babak baru dimana penjajahan dan penindasan dengan alasan apapun tidak dapat dianulir lagi dari negeri ini. Penjajahan dalam kaitan pemaknaanya tidak hanya soal bentuk peperangan fisik dengan musuh, akan tetapi bisa dalam bentuk penjajahan ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, maupun politik. Begitupun tentu diperlukannya penanaman sikap optimisme kepada generasi muda dalam menghadapi segala bentuk penetrasi arus globalisasi sehingga kita mampu beradaptasi, tanggap dan menjadi garda terdepan yang solutif. Modernisasi sendiri sebagai bentuk perubahan sosial merupakan konsekuensi logis dari kondisi dunia yang semakin mengglobal. Menyadari bahwa indonesia merupakan negara berkembang yang kerap masih menggantungkan keberlangsungan proses penyelenggaraan negara teru...

Esai | Identitas Politik Sebagai Tantangan Kebhinnekaan Di Indonesia

Negara Indonesia adalah salah satu negara multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat dari kondisi sosialkultur maupun geografis indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan juga luas. Sebagai negara yang plural dan heterogen, indonesia memiliki potensi kekayaan multi etnis, multi kultur, multi agama yang kesemuanya merupakan potensi dalam upaya membangun negara multikultur yang besar “multikultural nation-state”. Keragaman yang di miliki indonesia pun disisi lain kerap kali memicu konflik dan perpecahan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nasikun (2007:33) bahwa kemajukan masyarakat indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua ciri yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan. Dan kedua secara vertikal, ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Sehingga dalam pemahaman penulis, kondisi d...

Esai | Nuansa Pragmatisme Politik dalam Lembaga Legislatif

Masyarakat indonesia secara terkesiap dengan hasil pembahasan rapat paripurna DPR pada senin, 14 Februari 2018. dalam revisi pengesahan Undang-undang No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3) tersebut dinilai seolah-olah menjadi benteng sekat antara rakyat dengan wakil rakyat. Atau bahkan telah dianggap memiliki muatan unsur pragmatisme politik sehingga memicu banyak kontroversi serta interpretasi semu di kalangan masyarakat indonesia. Memang ketika di kaji secara mendalam, redaksi yang termuat di beberapa pasal yang di revisi kerap kali menimbulkan pemaknaan bias dan kontradiktif. Karena yang di khawatirkan rakyat ialah terkait spesifikasi pemaknaan yang terkesan subjektif. Dan apabila jelas demikian, tentu bakal menimbulkan implikasi berkepanjangan. Salah satunya menjadi alat legitimasi yang lentur bagi lembaga legislatif dalam bertindak secara sembrono ataupun karepe dewek (jawa; red). Maka setelah penulis terlibat dalam beberapa kajian terkait revisi UU MD3 ini, muncu...