Esai | Menyikapi Realitas Media Edukasi Kontemporer

Bangsa indonesia adalah bagian dari tatanan peradaban dunia modern dalam semangat persahabatan dan kerjasama demi kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Menyikapi kenyataan demikian, bangsa indonesia pun harus memulai babak baru dimana penjajahan dan penindasan dengan alasan apapun tidak dapat dianulir lagi dari negeri ini. Penjajahan dalam kaitan pemaknaanya tidak hanya soal bentuk peperangan fisik dengan musuh, akan tetapi bisa dalam bentuk penjajahan ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, maupun politik. Begitupun tentu diperlukannya penanaman sikap optimisme kepada generasi muda dalam menghadapi segala bentuk penetrasi arus globalisasi sehingga kita mampu beradaptasi, tanggap dan menjadi garda terdepan yang solutif. Modernisasi sendiri sebagai bentuk perubahan sosial merupakan konsekuensi logis dari kondisi dunia yang semakin mengglobal.
Menyadari bahwa indonesia merupakan negara berkembang yang kerap masih menggantungkan keberlangsungan proses penyelenggaraan negara terutama dalam pemenuhan kebutuhannya dari negara lain. Ihwal demikian merupakan pisau analisa tajam yang sepatutnya perlu kita kontemplasikan, bilamana masyarakat indonesia belum mampu mengolah segala potensi kekayaan alam maupun sumber daya manusianya. Pangkal dari permasalahan ini dalam pemahaman penulis adalah hilangnya rasa humanisme dan terkikisnya karakter budaya bangsa indonesia. Maka diperlukannya upaya-upaya revitalisasi local wisdom, penyadaran dan juga upaya preventif dalam menjawab problematika yang menghantui bangsa indonesia. Dalam hal ini pun indonesia di hadapkan akan bonus demografi pada tahun 2030, yang mana populasi usia produktif berjumlah lebih banyak ketimbang non-produktif. Ihwal diatas sangat berpengaruh terhadap adanya peluang dan juga tantangan, apakah kita memang sudah mempersiapkan diri lepas landas menuju negara maju atau justeru sebaliknya, tertimpa bencana demografi.

Penulis mencoba menyelami polemik diatas melalui dialektika pendidikan kontemporer dengan realitas. Karena tersadar pentingnya pendidikan disuatu negara, tak kecuali indonesia. Pendidikan merupakan sentralisasi pembentukan sebuah peradaban melalui sebuah generasi. Kendatipun, kehadiran pendidikan seyogyanya menjadi ‘penerang’ generasi bangsa indonesia dalam ‘melangkah’ menuju bangsa yang mandiri dan mampu berdaya saing. Dalam konteks tersebut, kata melangkah diatas pun tidak bisa dipisahkan dengan sebuah jalan. Maka jalan tersebut adalah sebuah Realitas. Demikian jelas bahwa diperlukannya dialektika pendidikan dengan sebuah kenyataan. Sehingga peran pendidikan mampu menjawab kebutuhan generasi muda  baik di masa sekarang maupun masa depan.
Banyak kita temui tantangan dalam perjalanan, misalkan ketika di jalan raya tentu diperlukannya kesabaran untuk tidak menerobos lampu merah meskipun didesak keperluan penting, razia penilangan polisi, dan juga kecelakan berkendara. Guna mengantisipasi insiden diatas, tentunya diperlukan kesadaran dan juga kesiapan. Mengenai hal apa saja yang harus dipatuhi demi keselamatan diri sendiri dan juga orang lain. Dan ketika dikorelasikan dengan tantangan pendidikan hari ini ialah mensikapi realitas fenomena penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam membuka seluas-luasnya akses tanpa sekatan apapun. Maka tantangan yang di hadapi pun bakal cenderung lebih besar berdampak negatif apabila tidak mampu kita cermati secara arif dan bijak melalui kesadaran.

Pendidikan pun sebagai suatu usaha sadar sudah sepatutnya menjadi bekal yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Dengan demikian dapat kita pahami bersama, bahwa adanya pendidikan menurut Tan Malaka ialah untuk mempertajam pemikiran dan memperhalus perasaan seseorang. Sehingga dalam meneruskan cita-cita perjuangan para leluhur, kita tidak lagi dibutakan musabab kemandekan berfikir dalam melangkah menentukan arah pembangunan akibat ketidaksadaran terhadap realitas yang terjadi. Berangkat dari sebuah realitas itulah peran pendidikan sendiri dihadapkan banyak tantangan untuk merespon secara jeli infiltrasi dampak globalisasi. Kondisi dan situasi saat ini tampaknya menuntut dunia pendidikan kontemporer menekankan penanaman karakter yang perlu di transformasikan sejak dini. Selain itu pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Secara historis-genealogis, pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog jerman, Foerster. Ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter menurut Foerster. Pertama, keteraturan interior dengan setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh dalam prinsip, tidak mudah terombang-ambing oleh situasi baru, atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Disitu seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Itu dapat dilihat dari penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh oleh atau desakan dari orang lain. Keempat, keteguhan dan kesetian. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Sedangkan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Karakter inilah yang menentukan bentuk seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Pendidikan karakter sebagai benteng imunitas generasi muda penting sekali di terapkan dalam konsepsi TriPusat Pendidikan yakni, yang pertama di dalam keluarga, sekolah dan lingkungan sehingga mereka diharapkan mampu bijak menganalisis berbagai serapan sumber informasi di media massa. Karena kita sadari bersama bahwa hari ini kita hadapkan ialah menyoal peran media massa, faktanya perkembangan media massa sudah semakin maju dengan diiringinya oleh kemajuan teknologi. Komunikasi semakin lebih mudah dan lancar hanya melalui genggaman tangan. Ironinya saat ini kita sangat bergantung dengan keberadaan media massa dan setiap harinya tidak bisa lepas dengan media tersebut apalagi jikalau kita tidak bijak dalam menggunakannya, disamping guna menunjang kemudahan akses kebutuhan seseorang juga kerap kali dijadikan wahana eksistensi diri. Keberadaan media massa dengan muatan konten-kontennya yang dapat kita temui dimana-mana dapat mengubah perilaku sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dan media merupakan unsur penting dalam pergaulan sosial masa kini.

Maraknya penyebaran informasi yang simpang siur baik berupa tulisan, video, maupun foto di geliat maya mengakibatkan seseorang sulit membedakan antara serapan informasi yang berkualitas dan tidak. Realitas sosial ini yang sering diidentifikasi oleh Jean Baudrillard sebagai masyarakat konsumeristik penganut konsumerisme. Kendatipun, terkadang atau bahkan justeru sering infiltrasi konten-konten negatif kerap kali mengelabui serta berselancar dengan bebas dalam genggaman tangan. Apalagi di tiap-tiap kepala para pembaca yang kaku. Sebut saja “muales”. Maksudnya, ketika penetrasi konten negatif di lahap dengan cuma-cuma oleh si “muales” maka akan dapat menimbulkan ekses pemikiran destruktif dalam otak. Dan biasanya benih-benih pemikiran fundamentalis berkembang biak akibat doktrin tersebut, dan semakin pelik ketika pembenaran secara sepihak terjadi tanpa dibalut rasa insentif menilik data dalam sudut pandang yang lain. Media massa memiliki kelenturan diri dalam pemanipulasiannya melalui kontekstualisasi budaya yang dianut oleh masyarakatnya.

Kita tahu sadar bagaimana intensitas berbagai informasi nampak membanjiri diri kita setiap hari, berita-berita dari koran, majalah, radio, internet, televisi dan lain-lain. Dan bukan tidak mungkin, kita pun termasuk penulis merupakan korban dari informasi-informasi yang sifatnya hiperrealitas (realitasnya sendiri tidak ada). Istilah hiperrealitas ini dikemukakan oleh seorang pemikir perancis Jean Buadriilard, khususnya dipakai dalam ranah komunikasi menyangkut media massa di era globalisasi. Menurut Buadrillard, perlu kita waspadai bahwa pesan-pesan yang di sampaikan media massa tidak layak dianggap netral karena pesan biasanya mengandung pesan-pesan lain yang tersembunyi sehingga komunikator perlu memoles sedemikian rupa agar kemasan informasi dapat diterima dengan baik oleh komunikan. Dengan kemajuan dunia teknologi informasi ini maka akan berdampak terhadap perubahan sosial yang ada di dalam masyarakat itu sendiri.

Pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini merupakan salah satu upaya preventif dalam meminimalisir derasnya infiltrasi negatif arus globalisasi. Tidak bisa di nafikannya fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era modernisme, tentu diperlukannya upaya maksimal dari seluruh komponen bangsa, khususnya peran pendidikan. Seharusnya pun sudah menjadi perhatian kita bersama mengenai pentingnya memupuk sikap humanisme serta memperbaiki karakter bangsa indonesia yang kian semu. Oleh sebab itu, kita masih mempunyai kesempatan serta masa depan mendidik dan menyiapkan generasi indonesia dengan penanaman nilai-nilai humanisme yang luhur sehingga karakter bangsa akan terbangun. Adapun ada lima pilar karakter luhur bangsa indonesia yang perlu diresapi secara mendalam yakni, Transendensi merupakan kesadaran bahwa manusia ialah makhluk ciptaan tuhan yang maha esa. Humanisasi, setiap manusia pada hakikatnya setara dimata tuhan kecuali ilmu dan ketakwaan yang membedakannya. Kebhinnekaan, kesadaran akan banyaknya perbedaan namun tidak menghalangi semangat kesatuan guna menumbuhkan kekuatan. Liberasi, pembebasan atas penindasan sesama manusia. Keadilan, yang mana merupakan kunci kesejahteraan.

Penulis merasa dalam penanaman karakter inilah diperlukannya keterlibatan hati, emosi, dan akal dalam melihat sebuah realitas. Peran pendidikan harus mampu menyeimbangkan ketiganya dalam mencetak generasi bangsa yang berkarakter. Sehingga objek kajian pendidikan kontemporer harus di hadapkan realitas yang terjadi dalam upaya menganalisis dampak-dampak yang ditimbulkan akibat perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi.  Penulis sendiri yang berlatar belakang dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merasa perlunya penekanaan tiga komponen penting dalam Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu Civic Knowlede (pengetahuan kewarganegaraan), Civic Skills (keterampilan kewarganegaraan), dan Civic Disposition (watak-watak kewarganegaraan) sebagai muara dari aspek pengetahuan dan keterampilan seorang warga negara. Sehingga generasi muda tidak bersikap antipati terhadap kemajuan dan malah mampu memanfaatkan serta bersikap kritis mensikapi kemajuan akibat penyalahgunaan yang dinilai bakal mengakibatkan dekandensi identitas nasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru