Esai | Perempuan dalam Pembangunan Negara
Perjalanan panjang telah ditempuh oleh bangsa Indonesia, tahap demi tahap melewati fase jatuh-bangun dalam catatan literer riwayatnya. Dari masa perjuangan pra-kemerdekaan, lalu fase transisi kemerdekaan dan masa sekarang pasca kemerdekaan. Pendewasaan diri sebagai suatu bangsa menjadi catatan sejarah yang amat penting untuk kita pelajari dengan kejernihan berfkir serta bersikap, jangan sampai hanya di pahami sebagai satu catatan sejarah kelam yang menyedihkan sehingga kita tidak bisa memaknainya secara positif menjadi cermin evaluasi diri bangsa yang arif dengan narasi panjang peradabannya. Yudi Latief seorang Cendikiawan Muda pernah mengatakan bahwa “Warisan terbaik bangsa bukan politik ketakutan, tapi politik harapan. Kita merdeka diatas tiang-tiang harapan”. Demikian apabila kita cermati, semangat cita-cita luhur pun nampak tercermin dalam ghiroh perjuangannya yang terlukis dalam konvergensi nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bersama. Sehingga perlunya rasa bestari kepada semua elemen kepentingan untuk tetap senantiasa menjaga martabat kedaulatan.
Dengan kelapangan jiwa yang besar, Indonesia akhirnya mampu di rajut dengan tenun keberagaman, dalam satu dimensi ikatan politik kewargaan. Tidak adanya dikotomi salah satu golongan menjadikan kebangsaan Indonesia memiliki karakteristik unik dalam seni penyelenggaraan negara nya. Dikatakan penulis demikian bahwasannya Indonesia tidak bakal kekeringan modal budaya yang bakal melahirkan kedinamisan ihwal tata kelola negara.
Sementara apabila kita telisik, berbicara konteks kelanjutan pembangunan negara seharusnya belajar dari kenyataan sejarah. Berarti harus ada skala prioritas yang perlu dirumuskan, bukan berangkat dari keambisiusan dengan membandingkan dengan negara-negara yang sudah maju, yang nantinya bakal terjadi ketidakakuratan presisi pembangunan, lebih ironi lagi apalagi hanya sebatas pelunturan kewajiban menjalankan program formalistik 5 tahunan pemerintah.
Syahdan, berangkat dari keresahan yang dirasakan penulis, sebenarnya gaungan tentang pembangunan negara nampak begitu mengkhawatirkan yang hanya berorientasi pada pembangunan fisik ketimbang warga negara. Dipihak lain, dalam pesatnya pembangunan infrastruktur dengan dalih pemerataan justru bisa menjadi malapetaka bagi indonesia. Sementara diakui arus modernisasi kian tak terbendung dan tentunya menuntut kesiapan mental warga negara indonesia itu sendiri. Maka untuk meminimalisir dampak negatif modernisasi, demikian perlunya kesadaran dan kemauan bersama guna merekonstruksi pemahaman bahwa prioritas pembangunan negara yang paling fundamen ialah warga negaranya.
Untuk dapat mendorong indeks pemberdayaan manusia indonesia tentu kita harus memperhatikan aspek-aspek pendukungnya terlebih dahulu, yakni dalam pemahaman penulis meliputi modal mentalitas kepercayaan diri manusia indonesia, modal alam dan fisik, serta modal sosial kemanusiaan yang inklusif. Ketiga modal diatas begitupun kembali perlu di selaraskan guna saling kelindan. Pertama, seorang psikolog Martin Seligman menandaskan “Optimismelah yang bakal mendorong kesuksesan”, maka pembangunan suatu bangsa juga tidak berangkat dari tertutupnya mata yang melahirkan rasa pesimisme. Namun harus disadari dengan keterbukaan mata analisa melihat kenyataan, dalam hal ini modal heterogenitas kebudayaan harus menjadi salah satu nilai penting dalam membangun mentalitas bangsa indonesia.
Kedua, dengan memperhatikan modal alam dan fisik kekayaan bumi indonesia, segala bentuk kebutuhan dalam pembangunan fisik negara harus berangkat dari kemandirian bangsa indonesia dalam mengolah dan menciptanya. Seperti halnya pernyataan Bung Karno dalam pledoi “Indonesia Menggugat” bahwa Bangsa Indonesia harus berdikari secara ekonomi.
Ketiga, modal sosial kemanusiaan yang inklusif memberi arti keteladanan. Bangsa indonesia harus berangkat dari cinta dan kasih sayang dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Namun, Bung Karno pun mempertegas bahwa kebangsaan Indonesia bukan kosmopolitanisme, dalam pidatonya 1 juni 1945. Sehingga apabila ketiga poin diatas terus dibangun secara gradual dalam aspek pembangunan negara diharapkan menjadi alternatif solusi dalam upaya mencetak manusia indonesia yang punya jiwa dedication of life (pembaktian yang seikhlas-ikhlasnya) terhadap bangsa, negara, dan sesama manusia.
Disisi lain, nampak ironi ketika gaungan pembangunan manusia indonesia masih kurang maksimal dalam memperhatikan soal-soal perempuan didalam dinamika kenegaraan. Padahal apabila melihat aspek historis, sejarah dunia menegaskan bahwa perempuan berperan besar dalam sumbangsih peradaban kemanusiaan. Dari awal adanya pertanian, kerajinan, peternakan, dan juga perlawanan terhadap ketidakadilan.
Lalu betapa tidak menyedihkan, tiap kali penulis temui terutama di desa-desa bahwa stigma yang terbangun masih dalam kacamata pemahaman konservatif yakni perempuan harus tetap akrab dengan kasur, berpeluh menimba sumur, dan juga menyibukkan diri di dapur. Perlu kiranya menilik kembali revolusinya Rusia, Perancis, Inggris, bahkan India. Siang-siang mereka sudah tersadarkan akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam negara, sehingga hasilnya ialah kemajuan pesat dalam pendidikan, industri, teknologi, dll. Padahal cita-cita kemerdekaan kita juga menganjurkan kedaulatan rakyat, tentu menjadi hal wajar apabila perempuan pun harus jadi bahan pertimbangan dalam ruang publik kenegaraan.
Berdasarkan data proyeksi pertumbuhan penduduk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik bahwa jumlah penduduk indonesia pada tahun 2018 mencapai 265 juta jiwa. Sementara diangka setengah jumlah penduduk tersebut berjenis kelamin perempuan, yakni 131,88 juta jiwa. Di kutip dari sumber : (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/06/08/jumlah-penduduk-perempuan-indonesia-pada-2018-mencapai-1319-juta-jiwa).
Apabila kita analisa grafik diatas, ini merupakan potensi bangsa yang besar ihwal kuantitas jumlah perempuan. Yang tentu apabila terus didorong lewat upaya-upaya penyadaran, pelatihan, keterbukaan aktualisasi diruang publik, dan lain-lain, bakal memberikan sumbangsih positif terhadap pesatnya pembangunan negara. Dan apabila sebaliknya tidak diperhatikan, bakal jadi hambatan pembangunan.
Demikian Bung Karno menyerukan dibagian epilog buku Sarinah-nya yang masyhur dengan menggelora “Wanita indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional”. Sebab Bung Karno sadar, apabila kaum perempuan sudah terdidik dan disiplin, maka generasi barupun bakal berkualitas. Soal perempuan ialah soal sendi-sendi negara, orang pertama yang membentuk regenerasi masa depan bangsa.
Dari segi kualitas, kita tidak bisa menafikan lagi kemampuan seorang wanita sebetulnya mampu bersaing dalam dunia pendidikan, seni, teknologi, dan segala segi penunjang kehidupan lainnya. Terlebih dengan kuantitas wanita yang banyak, inilah yang harus dipahami sebagai peluang pembangunan negara. Meskipun peraturan pemerintah telah memberikan porsi 30% kepada perempuan dalam keikutsertaannya di dunia politik, tapi jangan dijadikan tafsir tunggal dengan mematahkan aktualisasi dalam aspek lain yang tak kalah penting.
Seyogyanya, dalam pemahaman penulis, perempuan indonesia harus akrab dengan literasi dan ilmu pengetahuan, supaya membuka cara pandang, jarak pandang, dan juga resolusi pandang berfikir yang dinamis. Pada akhirnya, ruang aktualisasi perempuan sebenarnya tidak bisa disempitkan soal bidang keprofesionalan; bisa dimanapun aktualisasinya, kapanpun waktunya, serta dengan siapapun orang yang dilibatkannya. Demikian dalam konteks tanggung jawab bersama sebagai warga negara indonesia, perempuan dituntut menjadi teladan pertama yang memberikan pencerdasan bagi anak-anaknya. Baik kecerdasan kognitif lewat dorongan ibu kepada anaknya untuk membaca, lalu kecerdasan afektif dengan percontohan kasih sayang sesama, dan juga melibatkan kecerdasan psikomotorik dalam konteks pembelajaran kesehariannya. Berawal dari wacana literasi itulah bakal membentuk kesadaran pemahaman tentang pentingnya posisi perempuan, yang muaranya ialah budaya positif jangka panjang. Begitulah, peradaban bangsa dapat terbangun.
Bangunlah putra-puteri Indonesia!!!
Komentar
Posting Komentar