Esai | Suluh Literasi dari Serang Utara
Oleh : Ray Ammanda
Sastrawan masyhur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata:“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis ialah bekerja untuk keabadian”. Quotes tersebut menyentuh, merangsang dan mendorong saya untuk terus menekuni keterampilan menulis. Biasanya, seseorang yang piawai menulis pasti juga memiliki kemampuan public speaking yang baik. Salah satu contoh sosok yang sangat nyata adalah Encep Abdullah, penulis, pendiri, sekaligus penggerak #Komentar (Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa).
Meskipun dalam keanggotaan saya masih terbilang anak kemarin sore, #Komentar—sebagai rumah belajar bersama—bisa memberikan “keteduhan” di tengah “kegersangan” kehidupan modern yang cenderung individualis-pragmatis ini. Sederhananya, #Komentar menjadi salah satu wahana dalam membangun ikatan “deduluran” antarwarga Pontang dan sekitarnya. Bisa saya amati pada setiap Minggu sore, berbagai kalangan lintas usia ikutserta belajar, berdiskusi, dan bersilaturahmi bersama. Baik siswa, mahasiswa, guru, karyawan, pedagang bahkan pengangguran.
#Komentar secara tidak langsung mengingatkan saya agar senantiasa menjadi manusia pembelajar. Sebab, membaca-menulis merupakan anjuran penting bagi manusia. Tak terkecuali bagi saya, membaca adalah suatu kegiatan untuk memperoleh, menangkap, dan mengolah informasi. Maka, salah satu syarat seseorang sebelum menulis ialah harus memperbanyak bacaan dan serapan informasi. Adapun dalam keterampilan berbahasa, seseorang harus terlebih dahulu belajar mendengar, berbicara, membaca, dan puncaknya adalah mampu mensilaturahmikan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan.
Sejak berdiri pada 9 Juni 2016, setiap kegiatan #Komentar berpusat di kediaman Encep Abdullah, tepatnya di Desa Singarajan RT/RW 04/01, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang-Banten. Lewat slogan nyentriknya “Diskusi Karya, Diskusi Buku, Diskusi Ilmu”, #Komentar masih tetap tampil eksis dan menggema. Terbukti dari setiap angkatan, secara sustainable melahirkan berbagai macam karya buku dalam bentuk puisi, cerpen, ataupun essai. Keanggotaan angkatan #1 mampu mengawinkan karya antologi cerpen dan puisi berjudul Kekasih Baru di Malam Minggu, angkatan #2 menelurkan karya Jejak, angkatan #3 menetaskan Kawin dan Hujan, sedangkan angkatan ke #4 mematangkan karya Suara Tokek, Kandang Ayam, dan Hasrat Cinta yang Berlemak. Namun, yang menjadi nilai lebih serta istimewanya #Komentar terlihat dari bagaimana kehadirannya di suatu lingkungan yang minim kesadaran membaca. Walaupun Encep Abdullah juga pernah menegaskan kepada saya: “Sebenarnya membaca itu tak harus berkomunitas dan tak harus di suruh. Idealnya ia ada di lubuk hati setiap manusia. Dan ingat, saya sebenarnya bukan menyuruh membaca, tetapi mencoba mengingatkan bahwa teman-teman itu manusia, bukan binatang. Bedanya manusia itu membaca, sedangkan binatang tidak”.
Adapun setelah ditelusuri dari pengakuan Encep Abdullah pada sisi yang lain, spirit pendirian komunitas tersebut dilatarbelakangi bahwa Pontang yang tak jauh dari Tirtayasa itu, tepatnya di Tanara adalah tempat Syekh Nawawi Al-Bantani belajar menulis. Rasanya kurang afdal di tempat muasal Imam Nawawi tidak terdapat manusia berkumpul berdiskusi menyoal baca-tulis, terutama sastra. Lebih banyak orang memilih berziarah dan berwisata di tempat ini ketimbang mengambil hikmah substansial tentang apa yang pernah dilakukan Syekh Nawawi itu sendiri, yakni membaca dan menulis. Senada pula dengan pernyataan Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. Fauzul Iman bahwa budaya literasi di Banten masih minim. Padahal dari sudut historis, Banten kaya akan sejarah dan tokoh-tokoh besar penulis seperti Syekh Nawawi Al-Bantani. Dengan demikian, jelas bahwa #Komentar berupaya melibatkan diri untuk menjawab persoalan minimnya budaya literasi di Banten khususnya di wilayah bagian utara, Pontang-Tirtayasa.
Perlu juga dimafhumi, motivasi pendirian #Komentar tak lepas dari berbagai macam tantangan maupun hambatan. Umpama tumbuhan, ia harus terus dirawat dan dipupuk. Sekalipun pertumbuhannya dihambat oleh keadaan lingkungan yang kurang sehat akibat tandusnya kampung pemikiran, hama kebun ketidakacuhan, serta kesempitan lahan kesadaran. Alhasil, semua tantangan yang dihadapi Encep Abdullah, dengan segenap pengorbanannya kemudian ia merasakan buah manisnya. Pohon #Komentar secara gradual terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai macam hasil karya serta peningkatan kuantitas keanggotaannya.
Lewat strategi peminjaman buku gratis kepada anggota, Encep Abdullah mengartikulasikan ketulusannya, pengayomannya, serta optimisme terhadap visi komunitasnya “Menghidupkan Kemanusiaan Lewat Literasi”. Anggota dimanjakan untuk dapat memilih buku yang disukainya. Juga perlahan mereka dirangsang semangat literasinya dan berharap semoga bisa konsisten menekuninya. Lantas, pola habituasi di atasmenurut saya berpengaruh signifikan terhadap peningkatan daya rangsang otak setiap anggota, pelan-pelan mereka terus dilatih kepekaan pandang, manajemen pandang maupun ketepatan pandang dalam melihat setiap persoalan. Selain itu, anggota disambut dengan baik dalam setiap pertemuannya sehingga mereka merasa sangat di rangkul. Nuansa kekeluargaan pun berjalan dinamis. Semangat produktivitas dan kreativitas, serta “penemuan” potensi anggota terbangun secara berkala di ruang #Komentar.
Akan tetapi dalam jejak perjalanannya, #Komentar masih kerap dihantui berbagai macam kekurangan serta banyaknya pembenahan. Kekurangan itu terlihat dari bagaimana pengakuan beberapa anggota, diantaranya Sul Ikhsan (angkatan #5) memaparkan dengan lugas:“Sejauh yang saya ketahui dan rasakan: Pertama, #Komentar belum mempunyai struktural organisasi yang jelas sehingga Kang Encep nampak keteteran. Kedua, sehubungan keanggotaannya terdiri dari beragam lintas usia maka hal tersebut menjadi hambatan. Tentu perlu ada pelatihan seputar menulis itu sendiri bagi mereka yang masih awam, jangan di sama ratakan. Dan jangan berhenti pada tahap penempaan anggota saja untuk terus berkarya. Ketiga, masih kurangnya pengajar itu sendiri. Semua hal tentang #Komentar masih terfokus pada Kang Encep”. Selanjutnya, Ma’rifat Bayhaki (angkatan #4) menjelaskan:“Kekurangan pada sisi yang lain ialah pola pembelajarannya yang terkesan monoton. Tidak ada variasi, anggota hanya di wajibkan membawa karya dan saling mengomentari. Tidak ada metode lain yang lebih menarik. Selanjutnya, #Komentar sampai saat ini belum melahirkan penulis kondang ke tingkat nasional maupu internasional”.
Berbeda dengan komunitas Rumah Dunia di Ciloang-Serang, misalnya, mereka sudah jauh bergiat di bidang-bidang profesional seperti jurnalistik, sastra, film, teater, musik bahkan menggambar.Akan tetapi dari banyaknya kekurangan yang ada, saya tidak menjustifikasi bahwa #Komentar juga tidak ada kelebihannya. Bayhaki pun melanjutkan:“#Komentar hari ini sudah berafiliasi menjadi penerbit. Tiap anggota yang mempunyai karya ‘layak’ tentu dapat lebih mudah dalam proses pembukuan. Kemudian dapat berdampak positif terhadap stabilitas kas keuangan komunitas. Lebih lanjut, #Komentar juga memiliki banyak koleksi buku sebagai penunjang proses belajar.Lalu, keberhasilan setiap angkatan juga senantiasa melahirkan karya. Dan terakhir, lokasi pusat kegiatannya terbilang strategis”.
Pandangan diatas tentu harus dimaknai sebagai bahan refleksi demi mendorong dinamisasi pembenahan #Komentar kearah yang lebih baik lagi. Maka menurut saya: Pertama, yang perlu diapresiasi ialah menyoal semangat pendiriannya. #Komentar hadir bukan sekadar dorongan berahi eksistensi, melainkan dorongan mulianya untuk menjaga warisan budaya. Mengingat Banten sendiri punya jejak ketokohan luhur yang piawai soal baca-tulis. Apabila tidak dikembangkan dan di wariskan, kemungkinan generasi Banten masa depan tidak lagi memiliki regenerasi penulis kondang.
Kedua, Mahatma Gandhi pernah berkata:“Satu ons dari latihan jauh lebih berharga daripada satu ton berbicara panjang lebar”. Saya sadar bahwa kelebihan membaca-menulisjuga salah satunya untuk mengasah soft skill. Keterampilan menulis juga merupakan bagian dari pengasahanhard skill seseorang dan termasuk dalam bagian pengembangan keahlian yang sangat urgen dalam kehidupan modern saat ini dan masa mendatang. Kemampuan tersebut sangat potensial dicari dan dibutuhkan. Kepada “makhluk” yang bernama #Komentar, saya kembali berhusnuzan bahwa masyarakat Pontang dan sekitarnya diingatkan tentang perlunya mempelajari, memahami, dan kemudian menekuni keterampilan menulis itu sendiri.
Ketiga, berbicara soal baca-tulis tentu sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Ada pernyataan begini: “semakin banyak baca, semakin banyak juga yang tidak kita ketahui”. Jadi, saya meyakini bahwa habituasi proses baca-tulis bakal menumbuhkan kepekaan serta kematangan bersikap dalam diri seseorang. Hal demikian tentu bermanfaat bagi setiap individu anggota #Komentar.
Keempat, saya sendiri curiga dengan gagasan Encep Abdullah mendirikan #Komentar (diluar alasan edukatif). Umumnya diketahui di sepanjang bentangan Sungai Pontang atau warga Pontang sendiri menyebutnya “kali asin” dan “kali bedeng” terdapat banyak “toilet ngapung”yang berjejer di pinggir kali. Barangkali akibat kentut sosial yang telah tersebar, akhirnya memunculkan proses kreatif. Kemudian, Encep sebagai salah satu lulusan sarjana dan putra daerah tentu memikul tanggung jawab moral dan sosial. Akibat keterdesakan tersebut, mungkin ia bersiasat, berfilsafat atau berkontemplasi sambil “ngopi” memikirkan untuk bagaimana meng-counter stigma buruk tentang daerah Pontang tersebut. Alhasil,ia mendapat wangsit untuk mendirikan komunitas menulis fenomenal dengan nama #Komentar. Yang secara tersirat memuat pesan politik:“Ini loh kerennya orang Pontang”.
Kelima, #Komentar mampu merangsang berahi “pencarian ilmu”. Sekali lagi, spirit pendiriannya bagi saya bukan sekadar dikonsentrasikan hanya pada skala memberi ilmu, melainkan juga menstimulus setiap anggota untuk terus mencari ilmu. Oleh karena, kesadaran mencari ilmu adalah bagian dari proses kreatif seseorang untuk secara aktif melakukan penelusuran seluas-luasnya atas sebuah fenomena, kejadian, peristiwa dan sebagainya. Anggota pun terbiasa belajar untuk senantiasa meng-upgrade dirinya, menggali potensinya, dan merumuskan mekanisme-mekanisme terbaik bagi dirinya.
Terlepas persangkaan apapun dari saya terhadap pendirian #Komentar, Provinsi Banten dengan segenap potensialitas keunggulannya tentu harus dikelola dengan baik. Potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, kreativitas budaya serta letak strategis geopolitiknya harus dielaborasikan menjadi komponen utuh untuk mendorong kemajuan Banten itu sendiri. Dan yang jauh lebih penting adalah bagaimana orientasi terhadap keberlangsungan hidup regenerasi anak cucu kedepan nanti. Dengan optimis, saya melihat suluh literasi dari utara bernama #Komentar untuk kemajuan Banten di masa depan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya merupakan benih-benih yang ditanam dengan semangat pembaruan.
Seiring berjalannya waktu, apabila terus dibangun kesadaran manusianya, semoga bisa mendorong maksimalisasi tata kelola potensi alamnya, yang kemudian beringsut mengarah pada pentingnya merawat pelestarian kreativitas budaya. Setelah ketiganya ditapaki, masyarakat Banten masa depan sudah memiliki kematangan membaca dirinya sendiri. Walaupun dimafhumi bahwa peradaban selalu berjalan dinamis, #Komentar yang masih “kecil” suluhnya tetap berikhtiar dalam menjaga nilai lama yang baik serta menerima nilai baru untuk pengembangan masyarakat Banten yang lebih baik.
Pada sisi yang lain, kehadiran #Komentar secara tegas mengingatkan kepada generasi muda terhadap pentingnya dunia baca-tulis. Jangan sampai kita antipati terhadapnya, apalagi menyepelekannya. Dengan khazanah baca-tulis, seseorang bisa mengenal, memahami, dan mengaktualisasi pesan budaya dengan baik. Sebab, perlu diketahui, akibat dari pada rendahnya kesadaran literasi di kalangan anak muda dapat memiskinkan etos berpikir yang melemahkan daya kreativitas serta semangat dalam berinovasi. Pun seperti yang sudah saya singgung di bagian awal bahwa #Komentar sebagai rumah belajar bersama bertransformasi untuk menjawab kekhawatiran tersebut. Saya harus katakan, Banten—terutama Kab. Serang—patut bersyukur atas kehadiran #Komentar dalam usahanya mewarisi, menjaga, serta merevitalisasi budaya intelektual, khususnya di sekitar Pontang-Tirtayasa. Maka, secara tidak langsung, #Komentar ikutserta “bersedekah” kepada Banten masa depan lewat forum pengembangan sumber daya manusia. Sebab, saya menyadari bahwa lanskap masa depan tidak bisa dipisahkan dari kontinuitas jejak kesejarahan. Dan, literasi merupakan medium terbaik dialektika zaman. Semoga, suluh #Komentar mampu memberikan terang kepada sekelilingnya.
(Juara 3 dalam Perlombaan Menulis Esai di Perpusda Banten Tahun 2019)
Komentar
Posting Komentar