Esai | Nusantara Maju Ke Arah Malu

Secara harfiah, Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Nusa artinya pulau atau kesatuan pulau. Antara artinya menunjukan letak antara dua unsur. Nusantara artinya kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua , yaitu benua Asia dan Australia dan dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Sehingga Indonesia kemudiaj dijuluki sebagai negara kepulauan/maritim (Archipelago State) yang terletak pada garis khatulistiwa 60 LU – 110 LS dan 950 BT – 1410 BT.

Dengan potensi geografis demikian, indonesia memiliki ciri khas khazanah tersendiri sebagai sebuah negara, baik secara sosial-kultur, sumber daya alam, maupun sumber daya manusianya yang melimpah. Konsekuensinya, keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa membuka dua peluang; Secara positif, dapat di jadikan modal memperkuat menuju yang di cita-citakan. Dan secara negatif, dapat mudah terjadinya disintegrasi kebangsaan serta infiltrasi pihak-pihak luar.

Tentuny, gerak sentripetal oleh seluruh elemen kenegaraan harus di upayakan secara terus menerus guna menangkal peluang kearah gerak sentrifugal.

Seperti hal nya yang menjadi tujuan bangsa yang tertuang di dalam pembukaan UUD ‘45, lalu indonesia memacu diri berkembang kearah kemajuan sebagai suatu bangsa yang maju dengan mendasari pada konsepsi wawasan nusantara dalam melihat diri dan lingkungannya. Tekad tersebut dibentuk akibat kesamaan aspek sejarah, aspek geografis, dan aspek geopolitis dan kepentingan nasional.

Segala bentuk pembangunan terus digalak kan untuk membangun jiwa dan raga bangsa indonesia secara inklusif. Seperti pada aspek pemerataan dalam bidang pendidikan, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan fasilitas insfrastruktur di peloksok-peloksok negeri di genjot sedemikian rupa pembangunan nya, dengan alasan untuk mempermudah akses, mempermudah pembelajaran dan juga menumbuhkan intensif semangat anak bangsa dalam menimba ilmu pengetahuan.

Harus diakui bahwa keberadaan pendidikan formal, non-formal ataupun informal saat ini sudah mengalami kemajuan meski belum mencapai tahap sesuai seperti apa yang di harapkan.

Namun, penulis sendiri begitu tertarik dengan penerapan konsepsi pendidikan tradisional indonesia yang ortodoks di kalangan pesantren. Dewasa ini, ia di ibaratkan sebuah mata air yang hadir di tengah-tengah kegersangan pendidikan sekuler indonesia yang kian materialistis.

Sebuah sistem pendidikan agama yang lahir sejak dahulu akibat akulturasi paham keagamaan dan budaya yang terintegrasi dalam bingkai keindonesiaaan, sehingga membentuk insan-insan yang berakhlaqul kharimah, mandiri, serta berwawasan kebangsaan yang kuat.

Penanaman budi pekerti yang di aplikasikan seorang guru/kiai kepada santrinya mampu menjadi keunggulan tersendiri dalam mencetak insan intelektual yang sadar akan presisi pengamalan ilmu yang di peroleh, untuk dapat bermanfaat dalam dinamika sosial kemasyarakatan.

Faktanya ia mampu bertahan hingga saat ini, di tengah perkembangan dunia teknologi dalam tubuh pendidikan sekuler.

Bercermin dari penerapan sistem pendidikan pesantren. Kendatipun kiranya perlu di sadari bersama akan sebuah implikasi jangka panjang dari modernisasi sistem pendidikan sekuler saat ini, karena penulis menyadari bahwa dalam praktiknya telah terjadi disorientasi.

Pola pendidikan sekuler sekarang, hanya dimaknai sebagai suatu alat dengan sifat legal-formalistisk nya guna mempermudah mendapatkan suatu pekerjaan di posisi strategis.

Apabila hal tersebut memang benar-benar sudah menjadi doktrinisasi di dunia pendidikan sekuler, maka jelas berbahaya keluar dari trayek marwah pendidikan itu sendiri.

Yang seharusnya mencetak intelektual yang berwawasan luas serta visioner untuk menjadi role model dan mengamalkan ilmu nya di dalam kehidupan kemasyarakatan, malah apabila di biarkan kemungkinan bakal bisa bergeser ke arah sifat oportunistik, memperkaya diri sendiri atau bahkan menindas orang-orang yang tidak sepaham.

Sungguh ironis, kehadiran instansi pendidikan sekuler yang semestinya dapat memberikan penyegaran pengetahuan, kekuatan moral, serta penerimaan terhadap perbedaan maupun hal-hal baru, malahan sekarang layaknya sebuah pabrik yang di huni karyawan-karyawan untuk hanya terampil dan siap bekerja seperti sebuah robot keluarannya.

Dan pada tulisan kali ini, penulis bukan tanpa sebab memberikan judul “Nusantara Maju, Kearah Malu” yang di khususkan pembahasannya dalam dunia pendidikan. Karena masalah pendidikan adalah masalah sentral sebuah negara terkait regenerasi dalam menggantikan estafet kepemimpinan bangsa indonesia di masa depan.

Pemilihan bahasan mengenai polemik pendidikan pun berlatar belakang konon sistem penyelenggaraan pendidikan kian sudah berjalan baik bentuk fisisknya atau sudah mengalami kemajuan dengan segala inovasi pembelajaran, pemerataan tenaga pendidik, dan bahkan sudah di dukung oleh fasilitas yang memadai.

Namun, segala kemajuan aspek fisik dalam dunia pendidikan tersebut malah kerap kali generasi kita mengalami demoralisasi yang kian riskan. Belum lama, kemarin pada hari Kamis, 1 Februari 2018 telah terjadi peristiwa duka dalam dunia pendidikan. Sekaligus memukul sebuah kesombongan yang konon di nilai sebagai sebuah kemajuan; dengan gedung sekolah bagus, fasilitas memadai, infrastruktur menuju sekolah sudah dengan gampang di tempuh, namun pendidikan sekuler kurang memperhatikan intensif pelajaran mengenai penanaman budi pekerti. Ketika insiden tersebut berlangsung dengan tega seorang murid memukuli guru nya sendiri, bahkan tak cukup sampai disitu. Perjalanan pulang sang guru pun sudah di nantikan niat busuk pemukulan, lantaran tak terima dengan coretan cat di pipi sebagai konsekuensi akibat bercanda dalam proses pembelajaran berlangsung. Dan akhirnya sang guru menghembuskan nafas terakhirnya oleh sebab kelakuan keji sang murid.

Mengacu dari contoh diatas, maksud penulis ialah apakah hal seperti ini yang di sebut sebagai sebuah kemajuan?

Dengan segala fasilitas mewah yang telah di miliki guna menunjang proses pembelajaran yang lebih layak namun melupakan penanaman nilai budi pekerti. Seharusnya peristiwa tadi harus kita jadikan cermin intropeksi mengenai peran orang tua, guru serta lingkungan untuk lebih memperhatikan intensitas kontrol nya sesuai dengan porsinya masing-masing dan juga di gunakan sebagai sebuah teropong analisa ke depan dalam penyelenggaraan pembangunan khususnya dalam dunia pendiddikan.

Kerap kali perasaan malu penulis muncul kepada para leluhur; pahlawan, ulama, guru-guru yang telah berjuang dengan darah dan nyawa demi kemerdekaan bangsa indonesia agar generasinya dapat merasakan sekolah dalam upaya membangun jiwa serta raga bangsa.

Ketika suasana sudah begitu akut akhirnya kita bisa sedikit berkontemplasi memaknai sebuah peristiwa dengan arif dan bijak. Jangan sampai sebuah kemajuan malah membutakan mata kita sehingga tak dapat melihat, membaca, serta mewujudkannya secara nyata sebuah komitmen, konsensus serta cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD ’45.

Walaupun kemasan penulisan kegelisahan ini sangat sederhana, namun ini merupakan bahan komparasi akan sebuah harapan besar yang kerap kali berbenturan dengan realitas zaman. Memaknai kemajuan bukan hanya sebatas estetika pengelihatan, di maksudkan harus memiliki nilai esensial sehingga memberikan ekses positif berkepanjangan.

Upaya ekspresi kecintaan terhadap nusantara haruslah menimbang segala aspek pendukungnya. Bukan soal kita sudah berkehidupan mapan lalu di interpretasi sudah menandakan majunya sebuah negeri, ini adalah soal semuanya. Soal keperdulian warga negara dengan yang lainnya, warga negara dengan negaranya, dan dengan alamnya. Kesemuanya haruslah berjalan beriringan guna menciptakan iklim kondusif kemanusiaan, kenegaraan, dan juga keberagamaan yang toleran.

Penulis meyakini bahwa segala problematika yang sedang menghantui nusantaraku ialah salah satu anasir penanda menuju kedewasaannya. Karena usia bakal terdegradasi oleh masa, maka dengan menebar kebaikan sekecil apaun dapat menjadi rekaman peristiwa sejarah. Sudah saatnya indonesia kembali kepada konsepsi, komitmen serta konsensus bersamanya menuju nusantara maju, kearah satu. Satu indonesiaku!!

(Persembahan Esai PKD Ke V PK PMII Untirta)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru