Esai | Kebencian Manifestasi Kejumudan
Pada tulisan kali ini, penulis merasa sadar bahwa setiap kali setelah mengikuti diskusi, kajian-kajian, ngobrol santai, bahkan satire bareng teman ketika ngopi bareng perlu kiranya inisiatif mengelaborasikan kemasan pesan dalam bentuk representatif tulisan. Sehingga dapat menjadi rekam jejak sekaligus wujud itikad berbagi; pengalaman serta pengamalan ilmu yang diperoleh. Apalagi penulis sendiri begitu berharap, semoga dapat menjadi pemantik insentifikasi semangat pembaca untuk mengekspresikan kegelisahan ataupun kesenangannya lewat sebuah tulisannya sendiri, walaupun dalam bentuk sederhana. Karena yang terpenting ialah esensi transmisi pesan yang ingin di sampaikan penulis sehingga mampu mempengaruhi pembacanya, dalam konteks positif tentunya. Dan dengan itu pula, penulis memberi judul “Kebencian Manifestasi Kejumudan” sebagai bentuk peringatan bahwa segala sesuatu yang di dasari kebencian bakal melahirkan pemikiran destruktif dan membuat stagnan pola pikir seseorang.
Kebencian sendiri bukan berarti di maknai sebatas ekspresi marah ataupun tidak suka terhadap suatu benda ataupun orang. Sederhananya, misal ketika pembaca tidak senang terhadap salah satu tulisan saya karena muatan pesannya terkesan membosankan. Itu bukan berarti kebencian tapi ketidaksukaan saja. Karena pembaca sendiri umapanya menyukai tulisan-tulisan saya yang lain dalam muatan pesan yang lebih menarik serta bernas isinya. Dari situ kita mampu mengkomparasikan presisi konteks kebencian secara benar. Dan pada dasarnya, pemaknaan kebencian lahir atas dasar ketidaksukaan yang mendalam dan ekstrem. Yakni bermula akibat rasa benci yang secara intens di pupuk seseorang lalu mengkristal menjadi sebuah reaksi sentimen yang berlebihan. Itulah kebencian.
Pada ontologi konsepsi kebencian pun di jelaskan secara gamblang dari berbagai perspektif; bahwa dalam perspektif natural, kebencian timbul akibat sifat insting kecurigaan seseorang, pada perspektif psikologi memandang kebencian bermula dari pengalaman individu lalu memicu trauma yang mendalam, sedangkan dalam perspektif sosial tumbuhnya kebencian seseorang disebabkan oleh pengalaman kolektif. Misalkan wacana kebencian negara terhadap PKI. Hal tersebut, secara implisit membentuk sebuah stigma warga negara tentang PKI, padahal peristiwa tersebut belum pernah di saksikan secara langsung oleh si warga negara tersebut. Bahkan kejadian semacam ini kerap kali terjadi, akibat isue yang terus di reproduksi secara massif dalam upaya membentuk sentimen yang berlebih, sehingga menjadi sebuah kebencian. Itu contoh saja, boleh pembaca menganalogikan yang lain.
Sebenarnya, intuisi serta kegelisahan penulis ingin menelisik lebih jauh pembahasan kebencian ketika dikorelasikan dengan fenomena hari ini terkait penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi. Seperti untuk penyebaran berita hoax, caci maki atau bahkan yang lebih parah ialah propaganda serta agitasi negatif sebagai wahana komersialisasi. Niki sing kudu kite sedanten perhatikan bersama lan seksama(jawa; red). Bahwa tak terelakkan lagi, pada era millenial akumulasi serapan konsumsi berita masyarakat modern lebih banyak dan cepat di dapat dalam genggaman dunia digital ketimbang dunia nyata. Akses informasi lintas batas tak dapat lagi di bendung oleh sekat apapun. Kendatipun, terkadang atau bahkan justeru sering infiltrasi konten-konten negatif kerap kali mengelabui serta berselancar dengan bebas dalam genggaman tangan. Apalagi di tiap-tiap kepala para pembaca yang kaku. Sebut saja “muales”. Maksudnya, ketika penetrasi konten negatif di lahap dengan cuma-cuma oleh si “muales” maka akan dapat menimbulkan ekses pemikiran destruktif dalam otak. Atau bahkan musabab pemikiran tersebut di akibatkan oleh fanatisme yang berlebihan. Dan biasanya enih-benih gerakan fundamentalisme berkembang biak akibat doktrin tersebut, dan semakin pelik ketika pembenaran secara sepihak terjadi tanpa dibalut rasa insentif menilik data dalam sudut pandang yang lain.
Legitimasi kebencian seseorang biasanya di awali oleh sebuah peristiwa lalu menimbulkan paradoks kesalahan pemaknaan terhadap peristiwa tersebut, sehingga merasa menjadi seseorang yang direndahkan, kemudian stress dan seakan-akan menjadi korban. Emosi mulai meluap-luap sehingga di ejahwantahkan kedalam tindak kekerasan. Pemicunya memang sederhana namun riskan apabila di biarkan. Bisa jadi implikasi kebencian bukan soal kejumudan saja akan tetapi ia dapat mendegradasi aspek-aspek kemanusiaan. Sudah tidak lagi menimbang soal perasaan dalam sebuah tindakan apapun yang menurutnya dianggap kebenaran. Dan sebetulnya itu merupakan sebatas pembenaran dirinya saja. Alhasil akibat menutup diri dari kebenaran dalam sudut pandang lain.
Dalam data yang di dapatkan penulis dari sebuah kajian rutin, bahwa pemicu persepsi kebencian disebabkan oleh tiga faktor; Over-generalization (Generalisasi secara sepihak), Read the thought (Seolah-olah bisa membaca pemikiran orang), dan Emotional Reasoning (Ekspresi orang lain mewakili realitas). Dengan demikian, manusia memiliki porsi nafsu dalam frasa penulis di ibaratkan terletak di sebuah perut dan juga kebaikan di lubuk hati. Sartre pun mengatakan bahwa hakikat hubungan manusia sebenarnya berkonflik, yakni saling mengobjekkan. Maka untuk dapat meminimalisir anasir kebencian, tentu harus di landasi pengadil yang rasional; yaitu akal dan juga ilmu pengetahuan. Dalam upaya mensinkronisasikan nafsu perut, hati dan juga akal untuk kita manifestasikan dalam bentuk kebajikan.
(Dikemas setelah kajian “Ideologi Kebencian” bersama Alumni PKD Ke V PK. PMII Untirta)
Komentar
Posting Komentar