Esai | Transformasi Rasa Kopi si Miskin
Tentu
pembaca bertanya kenapa tulisan saya kali ini diberi judul “Rasa Kopi Si
Miskin”, baiklah saya akan memperjelas maksud dan tujuannya sehingga tidak
menimbulkan pemahaman yang multitafsir dan juga diharapkan mampu memberikan
wajah baru terhadap Si Kopi yang saya maksudkan diatas. Karena saya begitu
tertarik sekali dengan pengaruh akulturasi Si Kopi terhadap penguatan
harmonisasi dalam kehidupan di negeri yang memiliki heterogenitas kultur yang
luar biasa ini, sehingga dapat dijadikan salah satu solutif menangani krisis
terjadinya disintegrasi bangsa indonesia terutama untuk kalangan masyarakat
kota serta pada umumnya pembaca bahwasannya hari ini sangat riskan akan
penetrasi budaya yang membahayakan persatuan bangsa seperti halnya bentuk
provokasi, ujaran kebencian, maupun indoktrinasi penyebaran paham
fundamentalisme terkhusus berbau agama yang dikategorikan sangat sensitif.
Maka dari prolog sekaligus sebuah
keresahan diatas, saya ingin menawarkan hal kecil namun dapat memiliki pengaruh
serta implikasi luar biasa guna mencapai harmonisasi dalam kehidupan yang
toleran dalam masyarakat indonesia. Dan dewasa ini, ada enam permasalahan yang
dihadapi oleh bangsa indonesia dalam pembangunan karakter bangsa, yaitu:
disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai pancasila sebagai filosofi dan
ideologi bangsa; keterbatsan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan
nilai-nilai esensi pancasila; bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai
budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa
(Sukadi, 2011: 81). Tentunya dari polemik yang dihadapi diatas pasti ada solusi
untuk dapat bersama-sama memperbaikinya dengan dasar kemauan dan revitalisasi
melalui kultur kearifan lokal terutama di kampung-kampung.
Agar tulisan ini tidak terlalu luas,
saya akan menelisiknya secara menggelitik guna memantik kesadaran bahwa
penguatan budaya kearifan lokal dapat menjadi tawaran solusi menarik terhadap
kondisi ekses-ekses pengaruh arus modernisasi zaman. Kendatipun, sudah sangat
patut kita sadari bahwa alternatif jalan keluar dari polemik yang ada ialah
menguatkan kulturisasi identitas kearifan lokal lewat dari pedesaan untuk terus
dilestarikan. Seorang ahli bernama Keraf (2002), mendefinisikan Kearifan Lokal
adalah mencakup semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, wawasan, serta
adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupannya
didalam komunitas ekologis. Maka dari konsepsi diatas menyatakan bahwa betapa
pentingnya nilai-nilai kearifan lokal sebagai pondasi sekaligus wahana
penguatan terhadap konsensus kebangsaan. Sebab ia terbangun bukan dengan
formula keinstanan begitu saja, melainkan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang
terus membudaya berkesinambungan secara turun-menurun. Kiranya judul diatas
ingin saya kaji guna mentransformasikan rasa kopi si miskin menjadi salah satu
anasir pertimbangan bahwa diperlukannya revitalisasi lewat suguhan kopi
tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam penguatan harmonisasi
kehidupan masyarakat indonesia yang integralistik.
Terkesan seperti narasi anekdot,
bahwa berbicara kearifan lokal lewat suguhan kopi dapat menjadi wajah baru yang
mungkin sering disepelehkan oleh banyak orang. Akan tetapi rasa kopi si miskin
ini dapat menguatkan harmonisasi didalam kehidupan masyarakat terkhusus di
kampung-kampung. Karena kenyataan empiris menyatakan bahwa apa yang biasa saya
sebut rasa kopi tersebut menjadi sangat menarik di maknai sebagai sinergitas
budaya yang luar biasa dalam membangun kebersamaan didalam keadaan sosial
masyarakat indonesia. Namun siring perkembangan zaman, eksistensi budaya
suguhan kopi mulai mengalami degdradasi dikalangan anak muda dalam membangun rasa
kebersamaan di lingkungan pergaulan. Karena penetrasi budaya negatif malah
mendominasi dikalangan anak muda seperti halnya nongkrong sambil meminum miras,
memakai narkoba bahkan melakukan kekerasan ataupun hal-hal yang tidak
mencerminkan kesopan santunan pemuda akibat pergaulan yang salah kaprah
tersebut.
Maka untuk itu, rasa kopi si miskin
menjadi suguhan menggelitik dalam menangani polemik yang sudah dijelaskan
diatas. Secara historitas pun masyarakat indonesia di kampung-kampung memiliki
tradisi budaya ramah silaturahim bersuguhan kopi sebagai pelengkap dialog dan
penguatan harmonisasi didalam kehidupan masyarakat. Adapun alasan saya tidak
menarik permaslahan diatas tidak di korelasikan dengan segala bentuk kebijakan
negara dalam solusi penguatan kearifan lokal karena memang sudah banyak dibahas
dibeberapa literatur umum maupun media massa. Dan dari situlah intuisi saya
mengarahkan untuk menggali hal-hal kecil yang sebenarnya tidak boleh kita
sepelehkan sama sekali. Itulah yang dimaksudkan transformasi rasa kopi si
miskin diatas, memaknai serta menilai suguhan kopi secara substansial di
kalangan masyarakat sebagai alat penguatan harmonisasi, kebersamaan, dan juga
rasa persatuan dalam kehidupan masyarakat yang hari ini kian riskan akibat
penetrasi arus modernisasi zaman.
#MariNgopi
#MariNgaji
#MariDiskusi
Komentar
Posting Komentar