Esai | Dedikasi sang Kiai Untuk Negeri

Masyarakat merupakan kumpulan orang yang hidup dalam satu tempat yang saling berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana kita ketahui dimana fungsi pemersatu dalam sebuah masyarakat secara administratif di pegang oleh para aparat desa mulai dari ketua RT, kepala dusun, maupun kepala desa. Selain pemimpin administratif tersebut juga terdapat pemersatu masyarakat secara simbolik (moral, agama, kultural) yang di laksanakan oleh kiai atau kiai kampung kita biasa menyebut nya. Masyarakat indonesia yang multikultural mayoritas nya beragama islam, apalagi ketika kita melihat di daerah pedesaan yang masih begitu kental hal-hal religius nya dan secara otomatis membutuhkan kepemimpinan rohaniyah. Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah di masjid, selamatan atau syukuran, maulid nabi, isra wal mi’raj, tahlilan, dsb. Hal itu merupakan bentuk peranan seorang kiai di masyarakat sehingga mereka dapat meniru sikap dan perilaku nya yang moderat dan ikhlas tersebut.

Memang tidak bisa kita pungkiri di dalam lingkup kehidupan bermasyarakat, tentu pasti adanya seorang sosok yang sering di jadikan suri tauladan sebagai acuan untuk menciptaan ketentraman lingkungan, kekompakan, dan juga penetapan hukum yang terkadang salah di interprtasikan orang. Yang tentu orang tersebut memiliki integritas dan reputasi yang baik di masyarakat, salah satunya ialah seorang kiai kampung. Dan patut kita akui juga, bahwasan nya dedikasi seorang kiai kepada masyarakat yang memang tidak dapat kita gambarkan kemuliaan nya. Hal ini tentu sangat menarik untuk di perhatikan serta di sadari oleh semua orang tentang seorang kiai yang terkadang hanya di anggap sebagai hal-hal biasa di mata orang. Jika kita melihat pada realitas kehidupan masyarakat, memang yang mendapat sebutan kiai adalah mereka yang mempunyai dan memimpin pesantren dengan santri yang banyak. Tentu argumentasi itu kurang begitu tepat. Karena dalam kehidupan masyarakat desa ternyata ada orang-orang tertentu yang di posisikan sebagai ‘kiai’, yang lebih terlibat dalam kehidupan masyarakat di lingkungannya tersebut.

Kiai tanpa pesantren tersebut dalam masyarakat biasa disebut dengan kiai kampung atau kiai langgar. Istilah kiai kampung ini menunjuk pada sosok kiai yang hidup di kampung atau desa yang menjadi pengasuh sebuah mushalla atau dalam masyarakat jawa lebih dikenal dengan istilah langgar atau surau. Meskipun keberadaan kiai kampung tersebut tidak seperti kiai-kiai besar yang mempunyai pesantren dan santri-santri yang banyak, masyarakat di sekelilingnya tetap menghormati dan patuh serta memberikan kepercayaan kepada kiai kampung tersebut untuk memimpin kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat nya. Seperti menjadi imam ketika shalat, menjadi guru ngaji dan dijadikan panutan hidup bagi masyarakat. Berbeda dengan kiai pesantren yang tinggal bersama para santrinya yang relatif terpisah dari penduduk desa di sekitarnya. Keberadaan kiai kampung adalah merawat kebersamaan agar kohesi dan dinamika masyarakat pedesaan tetap berada dalam bingkai nilai-nilai agama dan moral masyarakat. Dan kiai kampung juga berfungsi sebagai katalisator dan dinamisator masyarakat, yang menempati fungsi sebagai pemersatu masyarakat dengan meninggalkan kecenderungan yang bersifat dominatif dan hegemoni.

Dengan melihat sedikit penjabaran diatas telah terlihat bahwa kiai kampung merupakan sosok yang mampu melebur dengan baik dengan masyarakat sesuai peran yang di milikinya. Dimana peran merupakan sebuah kedudukan yang di miliki oleh seseorang. Jadi peran kiai adalah sebagai pemimpin masyarakat yang harus selalu mengayomi dan membimbing masyarakat. Seseorang yang dijadikan pemimpin merupakan orang yang bisa di percaya dan dapat menuntun masyarakatnya ke jalan yang benar. Begitu pun seorang kiai kampung, beliau adalah orang yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untk menjadi pemimpin yang harus selalu membimbing masyarakatnya untuk berbuat kebaikan.

Sekian. Terima Kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru