Esai | Surat Cinta Perjalanan Baduy Dalam

Saya begitu tertarik sekali mendengar kehidupan masyarakat baduy yang konon katanya begitu jauh sekali dari kata modernitas. Sehingga saya berpikiran untuk dapat melihat secara langsung kehidupan sosial budaya nya. Dan begitu tepat rasanya ketika keinginan saya dapat di manifestasikan melalui keikutsertaan teman teman semester 3 saya dalam kegiatan observasi tugas Mata Kuliah semester 5 dan semester 1. Persiapan panitia memang sudah jauh jauh hari, karena kita semua di giring rumor-rumor yang kurang enak dan harus waspada karena tidak boleh sembarangan dalam hal sekecil apapun. Saya pribadi serasa agak tertekan mendengar cerita-cerita tsb, tapi sekaligus menumbuhkan kembali katalisasi semangat dan rasa penasaran saya terhadap baduy dalam. Ketika waktu pemberangkatan kala itu tiba, timbul di benak saya bahwa perjalanan ke baduy bakal menjadi pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan.

Ketika sudah sampai di ciboleger, saya kagum melihat seni patung yang gagah menantang seakan menyambut saya dan rombongan dengan ramah sekali. Lalu seakan menggambarkan sosok masyarakat baduy dalam dalam sisi berpakaian maupun keterbukaan nya sebagai bagian dari masyarakat indonesia yang terkenal ramahnya. Ah itu mungkin bayangan saya saja kali (dalam hati). Karena pada saat itu, saya pribadi masih sangat terpaku dengan rumor yang beredar bahwa masyarakat baduy memang begitu sangat asing ketika bertemu dengan masyarakat luar. Perjalanan awal dimulai dengan berjalan kaki bersama sama dari ciboleger. Di awal jalan, sebenarnya kita semua sudah di kenalkan trayek jalan mendaki tapi saya mengira bakal biasa dan lancar lancar saja. Setelah beberapa jam berjalan rasa lelah menghampiri dan juga rasa kaget bahwa perjalanan ke baduy dalam sangat jauh sekali berkilo-kilo meter menaiki serta menuruni bukit bukit yang indah sekaligus ekstrem. Rombongan berpencar ketika di pertengahan jalan karena memang faktor stamina lah yang menentukan, ditambah lagi faktor hujan deras waktu itu.

Saya sendiri laki laki bersama 5 orang perempuan terpisah dengan rombongan yang lain, ada yang lebih dahulu dan ada juga paling belakang. Agaknya saya bakal ribet dengan ke lima perempuan ini karena di takutkan ada sesuatu yang tidak di inginkan dan saya sendiri sebagai seorang laki laki. Tapi nyatanya saya keliru, ke lima perempuan ada empat adik tingkat dan satu kaka tingkat tersebut ialah orang orang yang hebat sekali. Mereka mampu menjaga dirinya sendiri dengan baik walaupun kadang terpeleset yang bikin suasana pecah dengan tawa dan sekaligus menumbuhkan rasa kekulargaan serta kedekatan hati untuk pribadi saya sendiri. hehehe. Saya amat tertarik dengan satu perempuan ketika perjalanan menuju baduy, kelelahan dan keletihan saya berubah menjadi semangat kala itu. Aku tak mau membohongi diriku. Sempat juga saya berpikir ketika nanti pulang dari baduy bakal saya kenali dia lebih dalam lagi. Tapi perjalanan masih begitu panjang yang membuat pikiran saya terfokus sampai tempat tujuan karena kekhawatiran hari sudah mulai berubah menjadi gelap. Dengan semangat dan kerja sama akhirnya saya dan kelima perempuan rombongan saya sampai ke baduy dalam dengan selamat dan dalam waktu yang sangat tepat.

Sampai di lokasi saya terpisah dengan nya, bersama rasa penasaran dan rasa semangat saya ketika bersama dia di perjalanan. Tapi sekujur tubuh begitu lusuh dan kotor sekali sehingga saya langsung sempatkan ke sungai untuk membersihkan diri. Ke esokan harinya tiba, hari dimana tenaga mulai pulih lagi akibat hentakan dengkuran kala tidur malam itu. Aku terbangun dengan agak agak semangat karena memang badan terasa begitu sakit dan keram. Aku melihat alam, budaya, sikap, keramahan dan juga kesederhanaan masyarakat baduy dalam yang begitu luar biasa sekali. Kagum rasanya, modernitas seakan tersekat di belantara hutan sehingga tak mampu menjamah apalagi merubah kultur budaya adat baduy dalam yang masih begitu suci.

Ketika matahari sudah menunjukan wujud nya, rombongan pun berkumpul bersama salah satu yang saya menyebutnya komunikator masyarakat baduy dalam. Kita semua di berikan kesempatan bertanya apapun terkait tugas maupun keanehan yang mengganjal tentang masyarakat baduy dalam. Pertanyaan pun begitu banyak terlontar. Tapi ada hal yang membuat saya begitu antusius mendengarkan obrolan santai kala itu, yang mana seorang komunikator dari baduy dalam tersebut berbicara dengan sangat baik sekali menurutku. Saya bertanya tanya dalam hati seorang masyarakat baduy dalam yang konon tertinggal jauh dari pendidikan ternyata sikap, gaya bicara, penyampaian dan penyesuaian dengan orang orang baru begitu baik sekali pikirku.

Dan ada banyak hal sebenarnya yang memang menjadi kekaguman dan daya tarik tersendiri dari masyarakat baduy yaitu ketertutupan nya dari masyarakat luar. Saya kaget bahwa kampung rombongan tuju ternyata berjarak 12KM dari ciboleger di tempuh dengan berjalan kaki. Mungkin itu salah satu alasan, kenapa masyarakat baduy tidak memperbolehkan kami mengambil gambar lewat handphone karena saya rasa siapapun yang ingin mengenal baduy harus mengenal langsung objeknya bukan lewat cerita orang ataupun perantara visual. Itu anggapan saya di luar dari hal hal lain yang memang privat mungkin yang tidak mereka paparkan kenapa tidak memperbolehkan berfoto-foto. Hanya menjawab karena itu peraturan adat yang tak boleh di langgar.

Baduy memang harus kita rangkul sebagai bagian dari masyarakat indonesia. Saya rasa orang tak perlu lagi menanyakan nasionalisme nya. Kenapa? Karena memang sudah jelas, kecintaan ia terhadap alam, merawat, dan hidup dari alam dan kehidupan yang damai serta toleran adalah bukti konkrit kecintaan nya terhadap indonesia. Banyak sekali yang bisa saya petik dari baduy dalam, terutamanya perjuangan untuk mencapai kesana begitu terasa sekali dan tidak gampang. Soe Hok Gie pernah mengatakan : "Bukan hanya pertumbuhan fisik yang sehat tetapi otak juga harus sehat. Mencintai tanah air indonesia harus mengenal objeknya secara langsung dan mengenal rakyatnya dari dekat bukan dari slogan ataupun hipokrisi. Untuk itulah kami naik gunung".

Perjalanan ke baduy dalam membuka mata saya akan kecintaan saya terhadap tanah air indonesia yang indah sekaligus luar biasa. Dikaruniai bermacam-macam perbedaan yang tentu menjadi kebanggaan dalam hati saya. Ucapan terimakasih saya terhadap masyarakat baduy luar dan dalam sudah tak mampu terucapkan lagi, saya belajar banyak dalam perjalanan itu. Sekaligus perjalanan awal saya mengenal seorang perempuan yang membuat saya semangat kala di perjalanan dan hati saya berbeda kala melihat dirinya tersenyum.

# PPKnGOESTOBADUY
#8-9Nov2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan | Dialektika Mahasiswa

Esai | Motif Berorganisasi

Catatan Perjalanan | Memilih Menjadi Guru