Catatan Perjalanan | Jejak Sahabat
Semua berawal dari keresahan hati salah satu pemuda kampung, ia seakan ingin bercerita banyak lewat tulisaannya tiap kali sedang berkontemplasi mencari tentang makna kehidupan. Namun, kerap kali sebuah tulisan belum mampu mendeskripsikan cerita kehidupannya secara komprehensif. Berbeda dengan sang jari yang nakal, ia seakan memaksa penulisnya untuk mengungkapkan cerita kehidupan lewat goresan tinta elektroniknya. Dengan perlahan-lahan ia memulai tulisannya dengan harapan dapat menjadi bingkisan indah dari hasil peristiwa sejarah. Perkenalkan namanya Ray Ammanda, yang lahir pada 28 November 1998 dan dibesarkan di tanah pedesaan yang penuh dengan cinta. Gairah memaknai hidup dalam dirinya timbul ketika ia ditempa dari berbagai orang-orang yang berbeda latar belakang dan pikiran. Dan pada masa kecilnya ia adalah seorang anak yang pendiam dan tidak banyak tingkah, bergaul serta berbaur dengan teman sebaya nya dengan hangat serta begitu akrab sekali. Sampai suatu ketika ia tersadar bahwa punya cerita indah bersama kawan sekaligus saudara lalu dengan salah satu temannya yang lain dari kecil hingga diusia nya yang sekarang, sehingga ia ingin sekali menceritakan kisah bersama teman kecil akrab nya tersebut. Dengan penuh harapan catatan ia kali ini dapat merekam kenangan indah dalam peristiwa kehidupan yang penuh dengan kekayan kisah bersama sahabatnya itu, sekaligus memupuk semangat optimisme bahwa walaupun nanti kisahnya ini terputus karena perpisahan di persimpangan jalan dengan seorang sahabatnya, nanti kiranya dapat memberikan senyum tersendiri kala mengingat dan membaca tulisannya ini.
Sebelum tulisan ini lebih jauh menyelam, penulis ingin memberikan gambaran selayang pandang mengenai sifat dan kepribadian pada kisah persahabatan yang dibangunnya sejak kecil. Nama teman nya Imron Rosadi atau biasa dipanggil Totet olehku dan teman-temannya yang lain dalam dinamika pergaulan. Sifatnya yang ramah, mudah bergaul menyebabkan diri nya menjadi pribadi yang terbuka dan gampang akrab dengan teman-teman nya yang lain. Namun disatu sisi sifatnya yang terbuka malah terkadang membuatnya terpukul sendiri oleh sebab tingkah laku perbuatan temannya. Lalu merasa sakit hati, kecewa selanjutnya menyendiri dan berkeluh kesah terhadapku kadang waktu. Kendatipun aku dibuat kebingungan beberapa kali ketika menangkap apalagi menanggapi ceritanya. Kenapa? Karena kerap kali kejadian itu terulang sama namun berbeda orang atau lain teman. Seperti biasanya ia bercerita dengan gairah penuh emosi bahwa suatu ketika ia sedang akrab bergaul dengan salah satu temannya selalu saja tidak terbangun lama. Disatu pihak ia merasa dikhianati lalu di pihak sebaliknya ia merasa dikekang oleh sikap totet sahabatku tadi. Dan tiap kali ia bercerita, aku hanya menanggapi nya dengan sederhana “yang penting saat ini kita masih bisa ngopi” begitulah ungkapku. Ia hanya membalas senyum ketenangan ketika duduk dialog bersama ketika peristiwa itu. Dan dalam tiap kali insiden itu terjadi, dalam hati aku hanya mengatakan “semoga engkau belajar dari kesalahan”. Yang tidak aku ungkapkan secara langsung supaya kesadaran itu memang timbul dari dalam dirinya sendiri.
Terlepas dari hal-hal tadi, sebenarnya ada kekhawatiran tersendiri dalam keresahan hati kecil saya. Ketika nanti pada masa kita terpisah jarak dan waktu oleh akibat kesibukan kita masing-masing. Rasanya, kontruksi emosi kokoh yang telah kita bangun dari semenjak engkau sudah mampu berjalan dalam usiamu 2 tahun sedangkan aku belum dalam penuturan satire dongeng ibuku dan ibumu waktu itu. Dan aku merasakan kita sedang bercakap rindu di sebuah persimpangan jalan lalu kita bakal terpisah di sebuah persimpangan tersebut, mengejar cita, cinta dan juga impian masing-masing. Dengan alasan itu pula jari nakalku menari kali ini seakan berontak bahwa seorang sahabat yang tiap kali susah, senang, bahkan kecewa pernah dialami bersama bakal pergi jauh. Tapi kali ini aku ingin bersikap dewasa, memaknai persahabatan bukan hanya orang yang selalu duduk bareng dan segala sesuatu bersama-sama. Aku ingin mengartikan nya kali ini bagaimana persahabatan ialah keika seorang sahabat mampu mengejar impian nya yang besar itu sekaligus ia mampu juga kembali sesuai jalan pulangnya. Dan terkadang lucu, walaupun kita memang sudah jelas berbeda kepribadian, engkau nyaman dengan gaya keliaranmu. Sedangkan aku nyaman dengan gaya ketertibanku. Namun keduanya bukan menjadi peretak hubungan persahabatan kita. Malahan perbedaan kita itu menjadi optimisme dalam pribadiku supaya bersikap terbuka terhadap orang lain tanpa menutup gelas.
Setiap peristiwa yang pernah kita alami bersama semoga dapat kita maknai dengan mendalam, karena kontruksi yang kita bangun tidak lagi memperhitungkan untung-rugi dalam dinamika pergaulan. Namun, kita telah diikat sebuah jalinan emosianal yang begitu luar biasa sehingga aku mau menuliskan kisah kita kali ini walapun dengan perasaan haru menggebu-gebu. Pernahkkah engkau membayangkan, sebuah persahabatan di rajut mulai ketika umur 2 tahun lalu sampai masuk ke madrasah diniyah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama sambil nyantren di kobong, sekolah menengah atas, dan bahkan sampai sekarang kita dijenjang perguruan tinggi. Aku terkadang haru sahabat totet, proses dimana kita ditempa tersebut semuanya dalam satu atap yang sama. Akan tetapi aku tak mampu menafikkan bahwa engkau adalah saudaraku sekaligus kaka kelasku dalam tahapan tadi dengan selisih 1 tahun engkau lebih tua dariku. Tapi lagi lagi semuanya bukan menjadi penyekat keharmonisan kita dalam bergaul. Sebetulnya ada banyak kisah yang belum mampu aku angkat disini, karena keterbasan tulisan yang tak mampu mendeskripsikan rumitnya kisah yang aku sebutnya indah. Karena memang dalam dinamikanya mengalami berbagai proses panjang dan kadang kala kita ribut dan pernah sama sama pernah dikecewakan. Menurutku itu pewajaran, dimana kita harus mengambil hikmahnya sebagai sebuah perekat kuat persahabatan kita.
Aku ingat sekali ketika emosiku memuncak melihatmu terjatuh ketika perkelahian dengan musuhmu waktu kita masuk dijenjang madrasah diniyah. Pukulanku melayang keras tepat di wajah musuh ketika inisden itu terjadi. Seluruh ragaku tergetar rasanya menyaksikan sahabat sekaligus saudara nya di hajar habis-habisan oleh brengseknya musuh. Seakan kebahagiaan dan senyum menyelimuti ketika mengingat kejadian konyol itu, sekkaligus menumbuhkan katalisasi semangat dan penyadaran bahwa sepatutnya kita memang harus terus berafiliasi saling bantu satu sama lain. Semoga kesemuanya tidak lagi semu akibat keputusan yang kau ambil berhenti kuliah ketika semester 2. Apapun keputusan itu sebagai seorang sahabat aku mendukungnya, akan tetapi engkau harus mampu mempertanggung jawabkan nya. Alasannya aku kenal sekali sifat dan kepribadianmu yang konon liar di dalam dinamika pergaulan, namun aku melihat sisi lain dari cara mengekspresikan dan menggapai mimpi besar tersebut. Sehingga sering kali dialog terselip kata “saya harus mandiri, saya tidak mau mengecewakan orang tua saya ray”. Doa sekaligus harapan, semoga kita berdua menemukan trayek jalan terang menggapai mimpi kita masing-masing. Yakinlah melangkah, jangan lagi engkau gelisah!
Komentar
Posting Komentar