Esai | Antara Manusia dan Kemanusiaan
Kejanggalan fenomena yang memang sering kali saya lihat dan rasakan membuat saya ingin sekali menulisnya sehingga dapat menjadi rekam jejak sekaligus cerminan potret disorientasi lunturnya nilai –nilai kemanusiaan hari ini, kiranya kita perlu menyelami kembali hakikat manusia itu sendiri yang tidak bisa hidup seorang diri melainkan membutuhkan interaksi serta bantuan dari orang lain. Dengan hal tersebut, terkadang saya skeptis ketika dibenturkan dengan realitas antara manusia dengan kemanusiaannya. Dan malah manusia kerap kali memperkosa nilai-nilai kemanusiaan nya sendiri sehingga hal tersebut benar-benar harus kita cermati dan pahami bersama dalam upaya memperoleh kesamaan yang sama bahwa manusia selayaknya harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan tanpa adanya penegasian terhadap mayoritas-minoritas, si kaya-si miskin maupun terhadap yang berbeda agama dan budaya.
Antara manusia dan kemanusiaan memang tidak bisa dipisahkan sebagai satu kesatuan yang utuh. Keduanya harus saling berafiliasi guna menciptakan harmonisasi kemanusiaan. Untuk itu, manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki nafsu, hati dan akal menjadikannya ia disebut makhluk ciptaan tuhan yang istimewa. Namun tidak bisa kita nafikan, terkadang manusia lupa keistmewaan nya tersebut untuk dapat dipergunakan sebaik mungkin sebagai wujud rasa syukur terhadap pencipta nya yakni dapat bermanfaat terhadap orang lain disekitarnya. Ironi nya malah sering kali apatis, saling menjatuhkan, bahkan saling cakar berebut benar dengan manusia lain. Pada dasarnya manusia yang memilik nafsu memang patut sesekali kita maklumi ketika melakukan hal-hal diluar batas kemanusiaannya. Namun manusia bukan hanya mempunyai nafsu tapi juga hati dan akal sehingga dapat menjadi tolak ukur antara baik dan buruk dirinya dalam mengambil keputusan dan juga bertindak. Maka, dalam konteks ini manusia dengan berbagai tindak-tanduknya harus didasari dari hati dan akal yang logis serta dapat menimbulkan kebaikan terhadap orang lain. Kalaupun ada salah satu tindak yang secara kontinyu di lakukan bahkan di budayakan seperti sifat keserakahan, keapatisan bahkan tidak saling mengerti dan memahami satu sama lain berarti bisa kita menyebutnya manusia yang tidak punya hati dan akal.
Dan melihat objektifitas kehidupan hari ini, analisa saya terkadang bingung mengkomparasikan antara orang yang waras dengan yang gila. Maksudnya dengan berbagai kemajuan teknologi, mewahnya gaya hidup maupun kebutuhan yang meningkat menjadikan manusia menjadi waras/realistis apa yang harus dilakukannya dan kerap kali menjadi lupa diri terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sering kali saya menyebutnya orang waras, segala sesuatu nya harus sistematis, terukur, dan terkonsep. Namun dibalik itu semua ada dampak riskan yang ditimbulkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, yang mana orang yang waras selalu memperhitungkan terhadap apa yang dilakukan dengan apa yang diterima/yang diberikan terhadap orang lain. Ia seakan realistis dalam melihat segala sesuatu disekitarnya. Sebaliknya yang saya sebut sebagai orang orang gila ialah mereka orang yang kultur budaya nya masing sangat sederhana dalam melihat lingkungan disekitarnya. Melihat manusia lain sebagai perwujudan dirinya sendiri, sehingga timbul kesadaran bahwa saling membantu adalah bentuk keperdulian sekaligus bentuk syukur kepada tuhan. Dalam konteks hari ini, saya menyebutnya sebagai orang gila karena mereka mampu dan berani melawan modernitas zaman yang mengerikan penyebab lunturnya nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pandangan saya hal tersebut jelas-jelas disorientasi, kewarasan atau cara berpikir realistis yang disebakan kemajuan zaman mengakibatkan manusia apatis, saling menjatuhkan, bahkan saling cakar berebut benar antar manusia yang lain. Sehingga upaya yang diharapkan dalam menciptakan harmonisasi kemanusiaan akan sangat jauh terwujud apabila manusia selalu berpikir realistis hanya untuk kesenangan dirinya sendiri saja. Dan begitu pelik lagi apabila cara pandang seperti diatas tidak kita sadari bersama, bahwa manusia hidup membutuhkan interaksi serta saling tolong menolong terhadap manusia lainnya. Dan sudah seharusnya kita aktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu anasir ibadah sekaligus bentuk syukur kepada tuhan. Dalam hal yang konon kecil kali ini, manusia terkadang meremehkan nya sebagai hal yang tidak penting padahal kita bisa belajar memahami manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki hati dan akal supaya dipergunakan sebaik-baiknya untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain.
#MariBerbagiKopi
#JagaKonsensusKebangsaan
#UntukKemanusiaan
Komentar
Posting Komentar