Postingan

Esai | Tragedi Virus Corona dan Komedi Mahbub Djunaidi

Sejak awal bulan tahun 2020, dunia diramaikan berita wabah Virus Corona atau Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China. Penulis yang termasuk golongan awam merasa heran, bengong dan kebingungan. Kemudian, terlintas dalam pikiran, “ternyata makhluk sekecil virus bisa sangat gampang dan seenaknya membuat geger, gaduh dan gempar orang-orang sedunia.” Sampai-sampai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional menetapkan bahwa virus corona adalah salah satu wabah pandemi, membahayakan serta berakibat pada kematian seseorang. Dan hampir seluruh negara di dunia, dibuat kalang kabut bagaimana menghentikan persebaran serta memikirkan upaya-upaya preventif dari kenakalan virus tersebut. Lain hal dengan Indonesia, terlihat santai menanggapinya. Contohnya, bisa terlihat dari beberapa akun medsos masyarakat yang berlaku kerap lelucon. Yang kesimpulannya, jelas-jelas sangat kontradiktif...

Esai | Siapa korban?

Mahasiswa baru, seperti pada umumnya, selalu dibikin girang oleh berbagai hiburan diwaktu Masa Orientasi Kampus tiba. Salah satunya, diakibatkan perilaku seorang kaka tingkat. Momentum Ospek biasanya menjadi wahana yang tepat guna menyalakan spirit idealisasi terhadap adik-adik baru, melalui mandataris Agen Of Change, Social Control dan sekaligus benih harapan Iron Stock. Sehingga pelabelan yang melekat pada mereka malah membuat mereka sendiri--mahasiswa baru--menjadi kalap dikemudian hari. "Kemarin, apasih yang sebenarnya kita perjuangkan?" Sesal salah seorang mahasiswa tingkat akhir sekaligus korban kaka tingkat. Ia merasa gelisah dan melanjutkan, "Apakah perjuangan tentang penyelesaian masalah yang sebenarnya kita sendiri adalah salah satu sumber masalah. Apakah pembelajaran tentang bagaimana strategi menindas dengan pretensi melawan. Toh setelah disadari, kita tak lain seperti laiknya bunglon. Sesekali kalo berkepentingan berwatak revolusioner dijalan, bahkan--ma...

Esai | Sportivitas Kaderisasi

Oleh : Ray Ammanda Kita tentu tak merasa asing mendengar istilah kaderisasi. Dan biasanya, menyinggung perihal kaderisasi kebanyakan orang lebih cenderung mengaitkan dengan dunia pengaderan. Baik dalam tubuh organisasi, partai politik, sekolah, dunia kerja, kehidupan jalanan serta berbagi makhluk garis turunannya. Memang tidak juga keliru apabila di lihat dari kacamata terminologi. Secara sempit ia mengandung pemaknaan terbatas ihwal pengaderan, perekrutan bahkan—maaf—kepentingan. Tetapi mari sesekali kita tengok pemaknaan kaderisasi secara luas. Minimal kita semua dapat mengambil nilai positifnya. Sehingga setiap institusi persekolahan, dunia kerja, ormas atau apapun saja tidak bersikap adigang-adigung-adiguna karena—merasa—memiliki hak atas setiap anak murid dan atau anggota untuk di cetak menjadi keluaran produk yang sama. Pada akhirnya, kedaulatan pilihan harus tetap di pertahankan oleh setiap orang. Maksud saya begini, betapa sangat tidak fair apabila seseorang bisa di berikan k...

Esai | Angkot Kemanusiaan

Oleh : Ray Ammanda Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di saat saya sedang tertimpa musibah—kehilangan sepeda motor—yang pada akhirnya keadaan tersebut “memaksa” saya untuk kembali menaiki angkot demi menuju tempat kuliah. Sebab di sisi yang lain, daerah tempat tinggal—orang tua saya—sama sekali belum terjamah wabah modernisasi transportasi online. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain menggunakan jasa transportasi konvensional tersebut. Perasaan terpaksa saya tentu beralasan. Noraknya, seringkali saya merasakan suasana “tidak enak”, seperti gejala kepala pusing dan mual secara tiba-tiba. Lantaran, kondisi demikian sangat dilematis bagi orang “mabokan” macam saya. Tapi sebenarnya, mau transportasi konvensional maupun online sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh terhadap mental “mabokan” saya. Kampungan banget kan. Meskipun saya masih merasakan ketidaknyamanan sewaktu menaiki angkot. Tetapi kali ini, benar-benar harus saya paksakan. Alasan pertama, tidak mau merepotkan handai tola...

Esai | Merawat Arti Syukur

Setiap pergulatan; batin, pikiran, pengalaman atau peristiwa apapun saja selalu berusaha ku tuturkan lewat kata atau--minimalnya--ku simpan baik-baik dalam memori ingatan. Dengan harapan, kapan pun dan dimana pun senantiasa menjadi relevansi bahan pembelajaran, minimal untuk si penulis sendiri bukan? Sebagai manusia yang mempercayai keberadaan tuhan, saya musti percaya serta meyakini 3 hal ketentuan; pertama, datangnya kematian. kedua, ihwal jodoh. terakhir, menyoal kelimpahan rezeki. Ibu sering kali menasihatiku dengan lembut, tak bosan-bosan. Kurang lebihnya begini, "Ray, jangan tinggal sholat sesibuk apapun. Apalagi untuk ngurusi hal-hal yang sifatnya duniawi". Ayah pun sama, berulang kali mengatakan "Ingat, kita semua bakal kembali". Ternyata, setelah di pikir-pikir, kesadaran tentang kepastian berpulang tersebut sudah sejak dini di tanamkan oleh orang tua saya--bahkan oleh semua orang tua se-dunia. Maka tak heran apabila kita semua senantiasa di ingatkan untu...

Esai | Tahun Baru Peremajaan

Tak terasa, sebentar lagi fajar pengharapan 2020 bakal menyingsing. Alhamdulilahnya, kita bisa ketemu lagi dengan—suasana, nuansa serta cita rasa—momen tersebut. Setelah saya iseng-iseng mikir, sebenarnya seseorang yang bangun tidur pun tak jauh berbeda dengan momen pergantian tahun, yakni sama-sama memberi gairah kesegaran. Dimana segenap energi telah kembali di kumpulkan. Setelah tertidur pulas, apalagi dengan nada “ngorok” serampangan. Tapi bedanya, tahun baru mengingatkan pesan agar kita semua merefresh kembali ingatan, mengakui sekaligus membenahi segala peristiwa masa lalu yang akumulasi sifatnya “tahunan”, bukan lagi “harian”. Kendati, tahun baru harus di maknai sebagai momen refleksi, sekaligus rileksasi. Tiba-tiba, tiga hari sebelum malam tahun baru berganti, tepatnya ba’da maghrib. Saya ketiduran yang kemudian hanyut bermimpi. Dalam mimpi tersebut, saya bertemu bahkan sempat berdiskusi agak serius dengan seseorang. Sebut saja si Udin.  Kurang lebih pembahasan diskus...

Esai | Sumpah, saya Pemuda!

Surplus Bicara, Malas Mendengar Menyaksikan gerak iklim ketidakmenentuan zaman. Gaungan globalisasi nampaknya menjadi satu idiom kegembiraan, sekaligus ketakutan yang sedang di hadapi oleh seluruh umat manusia. Oleh karena, segala macam bentuk perubahan nyatanya tidak serta merta berdampak kemaslahatan. Malah, bisa sangat memungkinkan bermuara kemudharatan. Ibarat perlintasan jalan, zaman yang sedang kita lewati hari ini begitu disesaki orang. Semuanya, memiliki kedaulatan akses yang luas sekalipun tanpa alat pengamanan, dalam mengisi ruang-ruang keilmuan, berkompetisi satu sama lain maupun dalam berdakwah keagamaan. Sehingga, potensi kecelakaannya sangat besar. Terlihat dari bagaimana terjadinya suatu gejala “sakit sosial” di sepanjang perlintasan media sosial. Sebagaimana penuturan Direktur Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (bareskrim) Polri Brigjen Rachmad Wibowo bahwa sepanjang tahun 2018 setidaknya ada 3.000 akun yang di deteksi Polri secara aktif menyebarkan ujaran keb...